Tuesday, January 17, 2012

John Bunyan Melahirkan Sang Musafir di Penjara


John Bunyan
Melahirkan Sang Musafir di Penjara

Pernah nggak kamu baca buku yang judulnya Perjalanan Sang Musafir? Buku yang judul aslinya The Pilgrim’s Progress ini mungkin adalah buku yang paling dikenal dalam dunia Kekristenan setelah Alkitab sendiri. Buku ini sangat berpengaruh soalnya di dalamnya terkandung sebuah kisah alegoris (sebuah gaya bahasa yang sarat pengandaian) tentang seorang yang berkelana dalam hidupnya dari Kota Kehancuran sampai ke Kota di Langit, buat mencari Tuhan, dan menemukannya.

Penulis buku itu adalah seorang pendeta Baptis bernama John Bunyan. John dilahirkan di awal abad ke-17 (tahun 1628) di sebuah kota kecil di Inggris yang namanya Barrowden. Dia nggak dibesarkan kayak anak biasanya, soalnya dia cuman mengenyam pendidikan dasar yang sangat singkat, sekitar 4 taon aja. Dia ikut ayahnya berdagang ke seluruh negeri, dan di usianya yang masih 17, John mendaftar menjadi pasukan parlemen Inggris selama tiga taon.

John bercerita kalo usia mudanya dia adalah seorang yang hidupnya bengkok; nggak jelas arahnya dan sangat memalukan. Waktu itu, dia emang udah beragama Kristen, tapi belum mengenal Tuhan secara pribadi. Bahkan, menurut catatan autobiografinya, Grace Abounding to the Chief of Sinners (Berkat Melimpah bagi Orang yang Paling Berdosa), John ngerasa kalo waktu muda dia pernah melakukan dosa yang “nggak termaafkan” (Matius 12:31-32) dan waktu itu dia sama sekali nggak merasa bersalah.

Beberapa kali pikiran John sempet dihantui ama kata-kata “juallah Kristusmu.” Ini yang bikin hatinya nggaktentram dan jiwanya terganggu. John ngalamin serangkaian konflik batin yang bikin dia tersiksa banget. Tapi akhirnya dia sanggup memenangkan pergumulannya, dan mulai nunjukkin perubahan sejak saat itu.

Perubahan ini tampak kentara dalam seluruh aspek kehidupan John. Kekristenan pun ia dalami lebih lanjut, dengan cara masuk sebagai anggota resmi Gereja Baptis. Di usianya yang ke-27, John Bunyan yang semangat memberitakan Injilnya berapi-api ini dilantik sebagai diakon gereja, dan ia mulai berkhotbah di atas mimbar.

Salah satu hal yang paling dikenal dari hidup John Bunyan selain karya fenomenalnya, Perjalanan Sang Musafir, adalah perdebatannya yang sengit dengan umat Kristen Quaker (tentang siapa itu kaum Quaker, baca kisahnya William Penn di edisi lalu) yang baru saja bertumbuh di Inggris. Hebatnya, perdebatan ini dilakukannya secara tertulis, yaitu masing-masing pihak bikin pamflet bahkan hingga buku!

Pada periode ini, istrinya yang seorang perempuan saleh meninggal. Baru empat taon setelahnya John memutuskan buat menikah lagi. Karena sebenernya dia nggak punya izin buat berkhotbah di atas mimbar (izin ini waktu itu cuman boleh dipegang ama para pendeta Church of England), di taon 1658 John dituduh ngelanggar hukum. Tapi ia masih dibiarin bebas ama pihak yang berwajib. Kesempatan ini justru dia pake lagi buat berkhotbah lebih banyak dan lebih sering, sampai akhirnya, karena gerah, polisi menangkapnya taon 1660. Dia ditahan selama tiga bulan di Bedford, lalu ditanya, “Apa kamu udah nggak akan berkhotbah lagi kalo kamu dikeluarin dari tahanan?”

John Bunyan dengan tegas menjawab, “Saya nggak akan berhenti berkhotbah.”

Penahanan selama tiga bulan itu pun akhirnya memanjang jadi sampe kira-kira 12 taon, gara-gara John nggak pernah mau berubah pendiriannya! Tapi justru saat-saat 12 taon inilah yang jadi momen terpenting dalam hidupnya. Karena di sini, di waktu-waktu luangnya dalam tahanan, dia punya kesempatan buat nulis magnum opus-nya, Perjalanan Sang Musafir. Buku ini ditulisnya dalam dua bagian, yang pertama diterbitin taon 1678, dan yang kedua enam taon kemudian, 1684.

Pada taon 1672, waktu Raja Charles II ngeluarin suatu dekrit yang memperbolehkan kebebasan beragama dan berkhotbah di luar ajaran Church of England, John Bunyan praktis mendapatkan kebebasannya. Dia nggak lagi dituduh berkhotbah tanpa izin sekarang. Lucunya, cuman tiga taon berselang, Charles II tiba-tiba menarik kembali dekrit itu, dan bikin John kembali ditangkap. (waktu itu John Bunyan udah jadi seorang pastor yang sangat dikenal di gereja Bedford.) Untungnya cuman enam bulan dia dipenjarakan, dan dia nggak pernah ditangkap lagi setelahnya.

John Bunyan meninggal karena terkena penyakit flu parah cuman empat taon setelah dia melihat bukunya itu dibaca ama banyak orang. Sekarang, ratusan tahun setelah ia meninggal, buku itu konon adalah buku berbahasa Inggris yang paling banyak dibaca di dunia, setelah Alkitab. Kisah Sang Musafir ini adalah kisah yang nggak akan pernah lekang dimakan usia. Dan kamu yang belum pernah membacanya, ayo coba temukan dan baca! [cs]


Monday, January 16, 2012

SWITCHFOOT ROCK BAND YANG CINTA YESUS


SWITCHFOOT
ROCK BAND YANG CINTA YESUS

Di GFresh! kemaren ‘kan ada liputan tentang konsernya Switchfoot di Jakarta bulan Januari kemaren. Nah di edisi kali ini kita bakal bahas lebih dalem lagi tentang band yang satu ini. Satu hal yang unik dari band yang satu ini adalah, mereka gak cuman terkenal di kalangan rohani doang, tapi juga di kalangan para penggemar musik rock dunia. Malah taun 2000an, Switchfoot sempat nyumbang beberapa lagunya buat dijadiin soundtrack film A Walk to Remember.  

Nah dari sejak film itu diputer, nama Switchfoot jadi terkenal, padahal Switchfoot udah berdiri dari taun 1997. Pertama kali berdiri nama bandnya masih Chin Up, baru setelah gabung sama Rethink Records mereka ganti nama jadi Switchfoot. Nama arti Switchfoot sendiri diambil dari istilah surfing yang artinya berbalik ato menghadap arah yang berlawanan. Dengan nama ini, mereka mo nunjukkin kalo mereka punya cara bermusik yang beda.

En emang terbukti. Switchfoot emang termasuk band yang unik. Biasanya pas tampil, 3 gitarisnya bakal maju ke depan tampilin permainan gitar yang keren banget, belum lagi ditambah sentuhan synthesizer en eksperimen riff gitar listrik bikin musik mereka tambah keren. Musik keren, lirik lagunya juga unik, lirik lagu Switchfoot, bisa terinpirasi dari pemusik kelas dunia kaya U2, The Police, The Beatles, sampe filsuf kelas dunia model Socrates, Descartes. Makanya gak heran kalo lirik lagu mereka agak filosofis.

 Walopun dianggap sebagai band CCM (Contemporary Christian Music) Switchfoot sendiri sebenarnya benci disebut band ‘Kristen’. Buat mereka, ‘Kristen’ itu iman en bukan jenis lagu ato jenis band. Malah secara terang-terangan mereka bilang kalo merea gak suka disebut band CCM. Dengan begini mereka bisa menjangkau orang dunia yang anti sama label ‘Kristen’. Makanya gak heran kalo penggemar mereka itu bukan cuman orang Kristen doang tapi juga orang dari berbagai kalangan lain.

Satu lagi yang patut kita kagumi dari band ini adalah mereka gak cuman bisanya ngomong doang buat jadi terang dunia, tapi mereka benar-benar turun tangan langsung ke tengah-tengah dunia en do something there, terutama sama hal-hal yang berkaitan sama kemiskinan en anak-anak di dunia ketiga, kaya Afrika.

Malah Jon Foreman, vokalis Switchfoot, terlibat di banyak kegiatan amal, mulai dari konser amal buat pengungsi Sudan sampe organisasi yang nolongin orang Afrika. En gak cuman kegiatan amal doang, dia juga peduli sama keadaan gereja en masyarakat saat ini. Malah salah satu impiannya, dia pengen bisa mengubah masyarakat yang menurut dia terlalu sempit pemikirannya. Pokoknya band yang satu ini emang luar biasa banget. Udah bagus musiknya, dampaknya sama dunia juga ada. Mantaap. (dp)
 
Satu lagi kesempatan langka yang didapet GF!, yaitu mewawancarai secara langsung personil Switchfoot
Jerome – keyboard
Drew – guitar
Chad – drums
Tim - bass
John – vocal

GFRESH!-SWITCHFOOT EXCLUSIVE INTERVIEW

Band Amrik yang terdiri dari cowok-cowok ganteng ini emang nyentrik abis, selain John yang suka banget pake topi koboinya kemana-mana, ada juga satu personil yang asalnya dari Thailand nyasar sampe tergabung di Switchfoot. Jadi diantara wajah-wajah bule, ada keselip satu wajah Asia, he3.. Walaupun mereka udah tenar,tapi mereka ngga sombong lho, malah mereka ramah banget sama GF! yang dapet kesempatan untuk mewawancara mereka waktu mereka konser di Jakarta beberapa bulan lalu. Simak deh wawancara eksklusif GF! dengan para personil Switchfoot yang terdiri dari Jerome (keyboard), Drew ( guitar), Chad (drums), Tim (bass), John (vocal).

Apa sih arti Switchfoot?
Istilah dalam selancar (surfing), mengganti kaki dari kaki yang biasa digunakan (mereka hobi banget surfing, dan mereka menyempatkan diri ke Bali buat surfing disana – red)

Apakah ada arti tertentu (secara spiritual) dibalik nama Switchfoot?
Nggak ada arti tertentu, tapi kami selalu memiliki arti spiritual dalam setiap hal yang kami kerjakan.

Apakah kalian merupakan band Kristen?
Kami lebih suka menyebut diri kami sebagai rock band yang sangat terbuka tentang iman kami kepada Yesus.

Apakah ada perbedaan antara pasar Kristen dan pasar sekuler? Apakah ada pengaruhnya terhadap musik kalian? 
Sebenarnya, perusahaan rekaman Kristen atau sekuler dimiliki oleh orang-orang yang sama, dan sama-sama bertujuan untuk mencari uang. Bagi kami, yang membedakan terletak pada nilai-nilai yang dipegang oleh pelakunya.

Apa visi kalian untuk band ini?
Musik adalah cara kami untuk menggali dunia dan menanyakan beberapa pertanyaan besar. Karena kami bisa menyanyikan segala sesuatu dalam lagu yang mungkin nggak nyaman kalo dibicarakan secara langsung dalam percakapan sehari-hari. Dalam musik, kami bisa mengajukan pertanyaan tentang kehidupan,  arti hidup, tujuan hidup, mengekspresikan harapan, keraguan, iman, dan ketakutan kami. Musik adalah sesuatu yang jujur dan kami bisa berekspresi di dalamnya.

Rencana buat album baru?
Kami telah mulai bikin lagu baru musim panas yang lalu, dan kami selalu mengerjakan hal yang baru. Jadi saat kami kembali dari tour ini, kami akan kembali ke studio dan mengerjakan musik kami. Ada hal yang menggembirakan terjadi pada kami tahun lalu, kami ditawari untuk membuat sendiri album kami. Sekarang kami punya lebih banyak kebebasan karena kami bisa merekam lagu di lokasi kami sendiri dan kami sudah membangun sebuah studio.  Ini album yang dibuat tanpa record label untuk pertama kalinya, totally independent. Untuk channeldistribusinya, kami akan lihat nanti. Dengan cara seperti ini, kami bisa mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan keinginan kami, bekerjasama dengan orang-orang yang membuat kami nyaman, seperti keluarga. Independent label ini di bawah nama John.

Apakah kalian semua berjemaat di gereja yang sama?
Nggak, kami berasal dari berbagai gereja yang berbeda.

Apa alasan kalian mengadakan konser di Indonesia? 
Sebenarnya, kami ditawari dari berbagai negara di dunia. Dan salah satu alasan kami datang kesini adalah karena Drew memiliki teman di Indonesia dan dia bilang kami harus mencoba datang kesini. Dan sejujurnya, kami hanya ingin melayani.  Man, kenapa kami ngga ke Indonesia? Kalian punya reputasi yang baik di dunia sebagai tempat yang sangat indah, dan kami sangat senang dengan kedatangan kami kesini.

Sejauh ini, gimana kesan kalian tentang Indonesia?
Luar biasa, kami sangat menyukainya.

Gimana cara kalian supaya ngga terpengaruh oleh “polusi”  yang ada di dunia entertainment? 
Industri entertainment justru tempat yang aman dari polusi itu karena disana sangat jelas terlihat segala keburukan dan hal-hal negatifnya sehingga kami bisa langsung menyadarinya.. Yang kami lakukan sebagai satu band adalah selalu bersama-sama dan tetap menjadikan diri kami dapat diandalkan satu dengan yang lainnya. Sangat menyenangkan jika ada teman yang selalu mengingatkan siapa kita sebenarnya. Dan itu yang terjadi di antara kami, saling mengingatkan. Yang harus diwaspadai justru polusi di dalam gereja, dimana ada kesombongan, arogansi tentang agama, dan banyak orang menganggap punya harga diri yang tinggi karena agamanya.

Kalian udah lama banget tergabung dalam band ini, apa rahasia kalian untuk tetap awet?      
Kami udah bersama-sama selama 11 tahun, dan telah mengeluarkan  6 album. Rahasianya adalah menyikat gigi kami setiap hari, supaya kami nyaman saat ngobrol (ha3… just kidding!). Kami semua adalah teman baik, karena ngga mungkin kami tergabung dalam satu band dengan orang-orang yang  nggak kami suka. Hal seperti itu nggak akan bisa berhasil, karena nggak bisa saling bekerjasama, itu yang kebanyakan terjadi di band-band lain. Kami sering membayangkan 30 tahun dari sekarang kami sedang berkumpul bersama-sama di pantai sambil bikin barbeque  dan membicarakan  tentang band kami. Ada perbedaan antara band yang satu dan yang lainnya, jadi kami sangat senang tergabung di Switchfoot dengan cara kami sendiri.

Apa/siapa yang menginspirasi musik kalian?
Kami sangat suka berbagai style musik. Salah satu elemen musik yang kami sukai adalah cerita yang bagus dalam lirik. Dan kami suka lagu yang menangkap hati kami. Lagu yang bukan hanya berisik, tapi punya makna di dalamnya.

Apa pesan kalian untuk pembaca GF!?
Sebagai band, dari dulu kami punya satu slogan : LIFE IS SHORT, LIVE IT WELL. Kami merasa banyak gangguan, dan sulit untuk tetap fokus. Tapi hidup yang berkelimpahan tidak ditemukan jika kita terganggu. So, live your life well. (driet)

Discography                                             
The Legend of Chin (1997)
New Way to Be Human (1999)
Learning to Breathe (2000)
The Beautiful Letdown (2003)
Meant to Live (2003 single)       
Dare You to Move (2004 – single)                 
Stars (2005 – single)
We Are One Tonight (2006 – single)            
Oh! Gravity. (2006 – single)
Nothing Is Sound (2005)
Oh! Gravity (2006)
Awakening (2007– single)
Head Over Heels (In This Life) (2007–single)                  

Penghargaan
ASCAP Awards kategori artis terbaik (1997)
San Diego Music Awards  kategori artis terbaik (1997)
Les Paul Horizon Award kategori pemain gitar berbakat (2001) 
San Diego Music Awards  kategori artis pop terbaik (2001)
San Diego Music Awards  kategori album pop terbaik (2001)
San Diego Music Awards kategori artis alternatif terbaik (2002)
San Diego Music Awards  kategori album pop terbaik (2003)
San Diego Music Awards  kategori album terbaik (2003)
San Diego Music Awards  kategori lagu terbaik (2004)
GMA Dove Awards kategori musik rock terbaik (2004)
GMA Dove Awards kategori album rock (2004)
GMA Dove Awards lagu rock terbaik (2004)
GMA Dove Awards kategori artis terbaik (2005)
GMA Dove Awards kategori film musik pendek terbaik (2005)
GMA Dove Awards film musik panjang (2005)
GMA Dove Awards lagu rock terbaik (2005)
Impact Award (penghargaan khusus buat musik yang kasih dampak) (2006)
ASCAP Awards kategori musik paling top (2006)
GMA Dove Awards kategori film musik pendek terbaik (2006)
San Diego Music Awards  kategori artis terbaik (2006)
San Diego Music Awards  kategori album terbaik (2007)







Sunday, January 15, 2012

SEBARKAN KEBAJIKAN!


Matius 7:12
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
www.anakmudanet.blogspot.com

New GMB: Stand Out!


Setelah 10 taon Giving My Best (GMB) bertahan dengan formasi yang sama, kini mereka terpaksa harus kehilangan vokalisnya, Sidney Mohede, yang mengundurkan diri karena pengen lebih fokus sama pelayanannya di JPCC (Jakarta Praise Community Church) sebagai youth pastor. Nggak lama, giliran Pongky Prasetyo yang juga hengkang dari band untuk lebih fokus dalam keluarga dan karir musiknya. Gimana nasib GMB sekarang? (F! pt, foto piter julio tarigan)

New GMB: Stand Out!

Di sela-sela rekaman terakhir untuk album terbarunya yang berjudul Stand Out, GMB yang diwakili Fenny sebagai manajemen, menyempatkan diri buat ngobrol bareng GFRESH! “Jujur, sebenarnya bukan kemauan kita buat GMB berubah formasi, tapi lebih pada kehendak Tuhan. Dengan adanya kejadian-kejadian yang terjadi kepada GMB beberapa taon terakhir kami percaya itu semua campur tangan Tuhan dan seijin Tuhan. Pada awalnya memang sakit tapi pada akhirnya kita bersyukur karena Tuhan memberikan yang terbaik bagi hidup kita masing masing secara pribadi maupun secara band” jelas Fenny waktu ditanya soal kenapa ganti formasi, “…kita juga menyadari bahwa segala sesuatu terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi kita jadi kita juga menghimbau kepada para pembaca setia GFRESH!, kalau terjadi sesuatu yang kelihatannya tidak sesuai dengan keinginan kita ingatlah bahwa ada rencana Tuhan yang indah dibalik semua itu, yang penting kita tetap mengandalkan Tuhan dan setiap hari melakukan segala sesuatu dengan yang terbaik.”

“Nggak ada syarat khusus buat jadi personil GMB. Karena bukan kita yang memilih. Sekali lagi semuanya karena kehendak dan rencana Tuhan. Pertemuan dengan Bams sampai menjadi personil GMB seru banget dan cepet banget prosesnya.” Ya, emang ada yang baru dari GMB dengan bergabungnya Bams (vokal) ngegantiin Sidney, dan Joseph S. Djafar (keyboard) ngegantiin Pongky. Wah jadi fresh dan berita besar neh!, “Waktu kita lagi di Singapura bikin lagu untuk album ‘Life Is Calling’, band Samsons lagi manggung di Hard Rock Singapura. Nah, kebetulan Sidney emang ngefans sama Samsons, jadi dia ngajak kita nonton.” Rupanya Samsons juga tau kalo GMB lagi di Singapura, dan Bams yang emang ngefans berat sama GMB janjian buat ketemu. “Dari situ kita tawarin Bams buat jadi bintang tamu di konser GMB Life Is Calling, dan tentu aja Bams mau banget!”

Setelah Sidney mengundurkan diri, awalnya GMB berencana buat bikin album kompilasi, salah satu yang diajakkin kerja sama adalah Bams. “Waktu kita hubungi, dia tertarik. Setelah ketemuan beberapa kali, kita cocok banget. Dia seneng banget, sampe dari yang tadinya cuma mau nyanyi 4 lagu akhirnya jadi semua lagu.” ujar GMB mengenang pertemuannya dengan Bams, “Orang tua Bams juga sangat mendukung dan seneng banget.”

Gimana ceritanya dengan Joseph S. Djafar? Sebenarnya Joseph memang salah satu pendiri GMB 12 taon yang lalu. Sayangnya dia cuman sempat bergabung di 3 album pertama, kemudian keluar. “Sekarang kita mengajak Joseph untuk bergabung kembali di GMB. Joseph sendiri sekarang udah berkomitmen untuk GMB dan nggak gabung di grup musik manapun.”

Album baru yang bulan ini rilis berjudul Stand Out, artinya ‘berdiri teguh, bersinar, dan berani tampil beda dari sekelilingnya’. Dengan proses rekaman yang sangat cepat, nggak nyampe satu bulan, Stand Out menemukan pergumulan yang baru: bikin lirik! “Di album-album GMB sebelumnya, liriknya dibikin sama Sidney. Kini GMB yang harus buat lagunya plus liriknya. Buat lirik merupakan tantangan baru, karena biasanya terima beres. Dulu, setelah musik jadi, kita serahkan materi sama Sidney buat dibikinin liriknya. Sekarang untuk lirik kita harus membahas setiap kata dan kalimat sampe ketemu yang tepat”.  Jadi, ayo beli CD orisinilnya, simak deh lirik-lirik di album Stand Out ini, isi lagunya tentang cinta kepada Tuhan, dan menceritakan kebesaran dan kesetiaan Tuhan. “Oya, kami juga mau berterimakasih pada Sidney yang selama ini bikin lirik.”

Lanjut bercerita tentang proses pembuatan album, hampir sebulan GMB ngumpul di Singapura. Hasilnya ada 11 lagu. “Abis itu, kami take drum, lalu bass, keyboard, gitar dan perkusi. Di pertengahan April kami udah masuk take vocal yang dilanjutin mixing dan mastering. Prosesnya cepet banget! Kita sampe terheran-heran dan terkagum, kalau bukan campur tangan Tuhan, itu mustahil, lho!”

Pasti ada satu pertanyaan dalam benak kita semua, apa GMB nggak kuatir mengingat Bams udah jadi idola en public figure yang beberapa kali pernah diberitakan negatif oleh infotainment? “Orang bisa bicara apa saja, yang penting buat kita, kita tau hatinya Bams sangat cinta Tuhan dan punya kerinduan yang sama dengan GMB untuk melayani Tuhan bersama-sama dan menjadi berkat bagi generasi muda.” Salut deh buat Bams, Tuhan pasti melihat hatimu dan kita semua pasti ngedoain kamu selalu, setuju kan GF!ers semua? “Pro dan kontra dimanapun dan kepada siapapun pasti ada, tapi yang penting kita bisa tunjukkan dengan sikap dan tingkah laku kita yang benar dan positif sesuai Firman Tuhan, karena walau omongan apapun tapi yang paling penting orang akan melihat bukti nyata”.

Oya, buat kamu-kamu semua, satu lagi yang baru dari GMB: GMB Community, tempat ngumpulnya anak-anak muda kayak kita-kita, diadakan setiap hari Minggu pukul 10.30 WIB di Plaza Bapindo Lt 10 Jl Jenderal Sudirman Jakarta. “Semua penggemar GMB dan anak-anak muda bisa berkumpul disini, kita bisa berbagi dan belajar hal-hal baru yang positif dalam format yang segar dan beda dari biasanya, ada live music show dari bintang-bintang tamu, public figure yang bakalan berbagi pengalaman hidup, ada olahraga, games, fashion show, dsb. Datang ya”.  (**)

GMB NOW IS:
- Adi Prasodjo                Perkusi
- Amos Cahyadi             Drum
- Bams                                 Vocal
- Daniel Sigarlaki          Gitar
- Jeffry Hermanto        Bass
- Joseph S Djafar          Keyboard



Dikotakin pake foto
Joseph S. Djafar:
GABUNG KEMBALI!

Selama beberapa taon terakhir ini, saya lebih banyak berkarya di bidang musik sekuler seperti aransemen lagu, film sinetron dan bioskop. Namun saya juga tetap memiliki kerinduan untuk bergabung dalam suatu wadah dimana saya bisa berkarya dalam musik khusus untuk Tuhan, tapi tidak terikat dalam denominasi gereja manapun. Awal-awal ceritanya saya kembali bergabung dengan GMB adalah karena keseharian saya yang sering sekali bertemu dengan rekan-rekan dari GMB dalam pelayanan di gereja pada hari Minggu. Seiring berjalannya waktu, chemistry yang terjadi membuat semua pihak menyatakan ketertarikannya untuk kembali dalam GMB, apalagi setelah kabar Sidney dan Pongky yang mengundurkan diri. Setelah melalui berbagai macam tantangan, maka saya berkomitmen untuk bergabung buat menjadi personil tetap GMB.

Setelah bergabung kembali dengan GMB, komitmen saya adalah untuk bisa bersama-sama mendukung satu sama lain dalam pelayanan, dan tentunya juga berkembang sebagai pemusik profesional, bukan yang asal-asalan.

Yang saya suka dari GMB, walaupun ini band musik bertemakan rohani, namun GMB ini sangat professional dan menghargai masing-masing personil, tanpa menghilangkan unsur kekeluargaan, lho. Makanya saya benar-benar berkomitmen untuk saling mendukung keluarga besar GMB baik secara profesional maupun kekeluargaan.

Menurut saya, GMB itu saat ini sudah menjadi tolak ukur untuk band-band rohani di Indonesia. Karena mereka punya visi, mereka punya keinginan untuk maju dan bisa menjadi contoh karena tidak malu untuk mencoba sesuatu yang baru. Saya sangat-sangat berdoa supaya GMB untuk masa-masa ke depan semakin maju, semakin kuat semakin dewasa dan semakin baik. (**)

Bams
LIVING IN THE DREAM

Jujur aku dulu bukan contoh yang baik, bukan orang yang suka ke gereja. Sampe akhirnya aku suka ke gereja dan ikut pelayanan. Di gereja, setiap aku mau pelayanan, aku nggak tau lagu-lagu gereja, dan lagu-lagu yang suka dinyanyiin di gereja umumnya aku kurang suka, makanya biasanya aku minta dipilihin 10 lagu trus entar aku pilih dari situ 2-3 lagu. Nah mereka kebanyakan ngasih aku CD-CD GMB, dan musiknya bagus-bagus, dari situlah aku mulai kenal musik GMB en ngefans sama GMB. Lagu-lagu yang mereka ciptakan masuk ke kupingku. Selera aku banget deh. Jadi, kalo sekarang aku gabung ama GMB itu nggak sulit, karena selera musik kita basicly sama. Sekarang yang jelas aku punya pekerjaan besar disini. Aku harus punya integritas. Melihat aku gabung ama GMB, keluargaku seneng banget. Mereka memang pengen aku give back to God-lah.

Salah satu passion aku memang pengen punya album rohani, entah solo atau grup. Bersama GMB, sesuai namanya i will giving my best. Aku emang beda dari Sidney Mohede. Aku nggak bilang Sidney itu kurang atau lebih dari aku. Semua manusia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, en semua manusia itu specialdi mata Tuhan. Sidney punya karakter yang beda dari aku, makanya aku nanti akan memberikan warna yang berbeda pula.

Pada prinsipnya, Samsons dan GMB, dua-duanya tetep akan aku jalani dengan sebaik-baiknya. Sebisaku en semampuku, sebaik mungkin. Sama temen-temen di Samsons juga kita punya passion buat terus berkarya. Makanya kita harus keluar dari comfort zone biar nggak stagnan.

Walaupun vokalisnya sama tapi tetep aja GMB dan Samsons itu beda. Soalnya mereka masing-masing ngasih elemen yang lain, warna musiknya benar-benar berbeda. Cuman pasti aku akan ngasih sedikit karakterlah. Aku juga kan nggak mau dibilang mirip-mirip ama siapa. Mungkin nanti ada orang yang akan bilang GMB mirip Samsons, ya iyalah, yang nyanyinya sama kok. Tapi kalo secara musik beda banget. Mereka punya nafas yang beda banget.

Setelah gabung dengan GMB, mungkin aku nggak langsung berubah jadi gimana gitu. Sifatku mungkin masih sama, walaupun pasti aku bertambah dewasa. Aku nggak mau munafik. Yang terlihat tiap hari, aku nggak pernah tutup-tutupin. Aku bersyukur atas apa yang terjadi dalam diriku. Apa yang aku mau, klik langsung aku dapet. Kayak sekarang, aku baru mikir ‘pengenbikin album rohani’, klik langsung dikabulin ama Tuhan. Tuhan selalu menjadi berkat dalam kehidupanku. Aku bersyukur banget. Aku punya keluarga yang enak, punya band yang enak, punya temen-temen yang seru, dan sekarang masuk ke band rohani yang aku suka itu kayak living in the dream.

Harapanku, banyak orang diberkati dari lagu-lagu GMB, dan orang bisa menghargai apa yang aku buat. Itu sebenarnya lebih dari cukup.(**)