Dwight L. Moody
Si Bocah Penjual Sepatu
Tanggal 5 Februari 1837, Keluarga Moody yang tinggal di sebuah kota kecil di Amerika Serikat bagian timur bertambah satu anggotanya dengan lahirnya bayi laki-laki yang diberi nama Dwight Lyman Moody. Tapi kebahagiaan itu nggak bertahan lama, soalnya si ayah, yang memang udah lama kecanduan minuman keras, kembali jadi galak en beringas sama anak istrinya.
Usia empat tahun, Dwight, si anak bungsu ini, udah harus terima kenyataan kalo dia en keluarganya harus hidup tanpa ayah gara-gara ayahnya meninggal karena alkohol. Makanya, sejak kecil, Moody muda udah nunjukin semangat en bakatnya yang hebat di bidang kewirausahaan. Ia pintar nyari uang en mau kerja keras. Di umur 17 aja, Moody berani merantau dari kampung halamannya yang terpencil en pergi ke Boston, bekerja sebagai tukang jualan sepatu di toko pamannya.
Salah satu syarat pamannya mau terima Moody bekerja di tempatnya ialah ia harus mau pergi ke gereja. Moody sih nurut aja, tapi ia sekedar datang aja tanpa menganggap hal itu sebagai sesuatu yang penting. Moody sama sekali nggak membangun hubungan pribadi dengan Tuhan yang disembahnya di gereja. Sampe suatu kali di usianya yang ke-18, ia mendengar tentang kasih Kristus dari guru Sekolah Minggunya, dan dari sana mulai percaya akan Tuhan.
Setahun kemudian, Moody pindah ke Chicago dengan satu tekad: ia harus bisa mengumpulkan uang seratus ribu dolar. Empat tahun kemudian, Moody, yang begitu teguh dan tekun dan berjiwa bisnis ini mampu menabung sebanyak tujuh ribu dolar.
Ternyata tekadnya mencapai 100 ribu dolar ini nggak kesampaian, soalnya di usia 23, Moody dipimpin oleh Tuhan buat melayani orang-orang keturunan Skandinavia dan Jerman yang sangat miskin di kotanya. Ia sangat berdedikasi pada proyek yang satu ini, sampe-sampe bisnis dan mimpi seratus ribu dolarnya rela ia tinggalkan sama sekali.
Pecahnya Perang Saudara di AS tahun 1961 bikin Moody melibatkan dirinya di dalam Komisi Kristen Amrik untuk YMCA. Moody melayani di beberapa medan peperangan. Ia pun membangun gereja di Chicago. Tapi, tanggal 8 hingga 10 Oktober 1871, Kebakaran Hebat melanda Chicago, sepertiga daerah kota itu ancur beantakan. Gereja Moody pun ikut hancur rata dengan tanah. Tapi, seperti juga tekad pemerintah kotanya, Moody langsung memulai pembangunan kembali, dan tiga bulan kemudian, gereja itu udah bisa berdiri lagi.
Moody mulai dikenal sebagai penginjil saat ia berkunjung ke Inggris. Begitu terkenalnya Moody sampe-sampe ia dijuluki penginjil terbesar abad ke-19. Orang-orang menyamakan dirinya dengan pengkhotbah-pengkhotbah hebat lainnya kayak George Whitefield atau John Wesley. Selama masa hidupnya, ia udah pernah melintasi ratusan ribu kilometer, berbicara di depan lebih dari 100 juta orang, dan membawa ratusan ribu hingga jutaan di antara mereka ke dalam pengalaman pribadi mereka dengan Tuhan Yesus.
Dua orang presiden AS, Abraham Lincoln dan Ulysses Grant, pernah mendatangi kebaktian yang dipimpin oleh Moody. Saking besar en terkenalnya Sekolah Minggu Moody ini di mata masyarakat, bahkan Presiden Lincoln pernah datang ke sekolah itu di Chicago dan berpidato di depan pengunjungnya. Rekor pengunjung kebaktian terbesar yang pernah dicatatnya adalah di Chicago World’s Exhibition di tahun 1893, ketika ada lebih dari 130 ribu orang yang datang buat denger khotbah Moody.
Selain berkhotbah dan mengajar tentang Firman Tuhan, Moody juga memperhatikan bidang pendidikan. Makanya, dia bikin dua badan pendidikan, yaitu Sekolah Northfield Mount Hermon untuk anak laki-laki dan perempuan yang sampai sekarang ini masih berdiri, dan Chicago Evangelism Society (Masyarakat Penginjilan Chicago) yang kemudian berubah nama menjadi Moody Bible Institute. Ia juga sangat peduli sama masalah ketersediaan buku buat umat Kristen, jadi ia mempelopori didirikannya beberapa perusahaan penerbitan yang salah satunya diberi nama Moody Publishing. Semua itu ia lakukan semasa hidupnya yang panjangnya 62 tahun. Sungguh luar biasa segala yang dilakukan si bocah penjual sepatu ini, semua karena Tuhan yang mendukungnya. (cs)
Showing posts with label chriswan. Show all posts
Showing posts with label chriswan. Show all posts
Monday, July 12, 2010
Monday, July 5, 2010
The Time Travel, Mungkinkah Terjadi?
Apakah Tuhan menciptakan waktu? Or ‘waktu’ tercipta dengan sendirinya? Ini pertanyaan yang sederhana, tapi bayangkan betapa rumitnya langkah buat nyari jawabannya. Ayat pertama dalam Alkitab bilang, “Pada mulanya adalah Allah”. Apa sih arti “pada mulanya” di Kejadian 1:1 itu? Apakah Allah satu-satunya yang ada sendirian, lalu ketika Allah mulai mencipta, waktu pun secara nggak langsung tercipta, sehingga membatasi “masa pakai” segala ciptaan-Nya? Setidaknya jika diinterpretasi menurut ilmu pengetahuan, begitulah adanya. Waktu adalah salah satu dari empat dimensi fisis (lainnya adalah panjang, lebar, dan tinggi) yang muncul akibat Dentuman Besar (Big Bang) yang mengawali seluruh semesta yang kita kenali sekarang.
Cerpen yang Mengawali Segalanya
Bicara tentang waktu itu sangat tricky. Makanya, semakin manusia memahami waktu, imajinasinya semakin merasa ‘diundang’ buat berlarian dengan bebas. Salah satu topik yang paling menarik tapi sulit dimengerti (bahkan tampaknya para sastrawan dan seniman punya pengertian yang lebih liar tentangnya daripada para ilmuwan fisika) adalah perjalanan lintas waktu. Istilah kerennya: time travel.
Buktinya, kemunculan suatu cerpen fiksi ilmiah berjudul The Clock That Went Backwards (Jam yang Berjalan Mundur) karya Edward Mitchell di koran New York Sun tahun 1881-lah yang menggulingkan bola salju dari konsep time travel ini, baik di kalangan ilmuwan maupun seniman.
Gimana Ngakalin Waktu
Prinsipnya sebenarnya sederhana. Kita kan bisa melintasi tiga dimensi ruang—kita cuma perlu berjalan—seharusnya kita juga bisa melintasi dimensi waktu sekehendak hati kita. (Pada kenyataannya, setiap detik kita memang melintasi waktu, tetapi kita tidak punya kendali penuh untuk, katakanlah, melompat lima detik ke depan sementara teman kita melompat mundur dua hari ke belakang.) Jadi, pemikiran bahwa betapa mengasyikannya jika kita bisa ‘terbang’ ke masa depan atau masa lalu kayak di film Back to the Future bikin ngiler.
Hmmmh... gimana caranya supaya bisa melakukan time travel ya?
Yang pertama, secara fisika, katanya kita bisa manfaatin yang namanya wormhole, jalan tembus khayal dalam ruang-waktu di alam semesta. Konsep ini masih baru, tapi intinya: kalo kita bisa nerobos masuk ke dalam wormhole pada suatu tempat dan waktu, kita bisa menyeruak di tempat dan waktu yang lain.
Cara lainnya, yang juga masih sekedar teori, adalah berusaha bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Menurut Albert Einstein, hal itu mustahil. Soalnya, katanya, nggak mungkin ada yang bisa mengalahkan kecepatan cahaya. Tapi justru ia dan dua rekannya, Rosen dan Podolski, mendapati kalo dua partikel yang letaknya sangat jauh bisa ‘saling mengerti’ (menyampaikan informasi) bahkan sebelum cahaya sampai dari partikel yang satu ke partikel yang lain. Para ilmuwan menyebutnya sebagai Paradoks EPR, dan banyak yang menganggap ini bisa dijadikan dasar buat teleportasi kuantum, atau dengan kata lain, time travel is possible!
Paradoks Waktu dan Turis Masa Depan
Sayangnya, paradoks jugalah yang menghadirkan masalah pada konsep tamasya lintas waktu. Yang pertama sekaligus paling melemahkan ide itu adalah Paradoks Sang Kakek. Coba aja bayangin, misalkan mesin waktu udah ditemukan. Lalu kamu menggunakannya buat mundur puluhan tahun ke masa sebelum kamu atau orangtuamu lahir. Misalkan kamu berhasil bertemu dengan kakekmu, tapi kemudian, kamu membunuh kakekmu. Kematian kakekmu berpuluh tahun yang lalu akan membawa dua implikasi: (1) ayah atau ibumu nggak akan pernah lahir, dan otomatis (2) kamu juga nggak akan pernah lahir. Pertanyaannya: apakah yang akan terjadi dengan dirimu saat itu juga? Apakah kamu akan hilang? Trus kalo kamu nggak pernah lahir... kamu juga nggak bisa membunuh kakek kamu, lalu siapa yang membunuh kakek kamu? Bingung kan?
Ilmuwan cacat tetapi brilian Stephen Hawking menjawabnya dengan menyebutkan kalo alam semesta terlindung secara kronologis. Artinya, seandainya mesin waktu ditemukan, dengan itu kita hanya bisa melihat masa lalu dan masa depan, tapi nggak punya kuasa buat mengubah segalanya. Segala sesuatunya akan berjalan sebagaimana seharusnya pada waktunya, tanpa gangguan dari manapun. Ini mirip dengan konsep qismah dalam Islam, atau predestinasi deterministik dalam kerangka Kristiani. Hawking, yang sangat pesimistis mengenai time travel, menambahkan bahwa hingga saat ini kita belum pernah melihat adanya turis dari masa depan yang berkunjung ke masa kini.
Mari Bertamasya Sekarang Juga!
Tapi jangan sedih karena mesin waktu nggak kunjung ditemukan. Sekarang pun sebenarnya kita semua bisa bertamasya lintas waktu. Mesinnya sudah ada dalam diri kita: otak manusia, ciptaan Tuhan sendiri. Bukankah hanya dengan melihat foto, atau sekedar mengingat, kita bisa langsung membayangkan ketika peristiwanya terjadi? Seandainyapun itu hanya di alam imajinasi, tapi kan kita sudah ‘bertamasya’ ke masa lalu. Bukankah itu anugerah Tuhan yang jauh lebih dari cukup? [cs]
Time Travel di Alkitab
Setidaknya ada tiga kejadian dalam Alkitab yang bisa dikategorikan sebagai time travel:
1. Musa dan Elia dibawa Tuhan melintas waktu mengunjungi Yesus yang dimuliakan di atas Gunung Tabor (transfigurasi Kristus ini diceritakan di Matius 17, Markus 9, dan Lukas 9.) Meskipun kita nggak tau pasti kalo Musa dan Elia yang hadir saat itu benar-benar eksis dalam wujud fisik yang nyata, or cuman apparition (bayang-bayang), mereka berasal dari era yang berbeda dengan Yesus. Gimana caranya? Cuma Tuhan yang tahu.
2. Yohanes di pulau Patmos yang ‘diajak’ Yesus untuk mengunjungi masa depan, ia melihat perang dunia, zaman antikristus dan kedatangan Yesus yang kedua kali.
3. Dalam sebuah tafsiran, Henokh dibawa Tuhan ke akhir zaman untuk melihat rapture (pengangkatan) terjadi, dan ia ikut terangkat (Kejadian 5:24 dan Ibrani 11:5). Makanya Henokh bernubuat (mungkin karena melihat) Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya pada saat Yesus datang kedua kali nanti (Yudas 1:14).
Time travel dalam dunia populer:
Buku: The Time Machine oleh H. G. Wells, Through the Looking Glass oleh Lewis Carroll, The Door into Summer oleh Robert Heinlein, Ubik oleh Philip K. Dick.
Film: Back to the Future (1, 2, 3), The Thirteenth Floor, The Time Machine, Bill and Ted’s Excellent Adventure, 12 Monkeys, Time Bandits, Terminator. Austin Powers.
Cerpen yang Mengawali Segalanya
Bicara tentang waktu itu sangat tricky. Makanya, semakin manusia memahami waktu, imajinasinya semakin merasa ‘diundang’ buat berlarian dengan bebas. Salah satu topik yang paling menarik tapi sulit dimengerti (bahkan tampaknya para sastrawan dan seniman punya pengertian yang lebih liar tentangnya daripada para ilmuwan fisika) adalah perjalanan lintas waktu. Istilah kerennya: time travel.
Buktinya, kemunculan suatu cerpen fiksi ilmiah berjudul The Clock That Went Backwards (Jam yang Berjalan Mundur) karya Edward Mitchell di koran New York Sun tahun 1881-lah yang menggulingkan bola salju dari konsep time travel ini, baik di kalangan ilmuwan maupun seniman.
Gimana Ngakalin Waktu
Prinsipnya sebenarnya sederhana. Kita kan bisa melintasi tiga dimensi ruang—kita cuma perlu berjalan—seharusnya kita juga bisa melintasi dimensi waktu sekehendak hati kita. (Pada kenyataannya, setiap detik kita memang melintasi waktu, tetapi kita tidak punya kendali penuh untuk, katakanlah, melompat lima detik ke depan sementara teman kita melompat mundur dua hari ke belakang.) Jadi, pemikiran bahwa betapa mengasyikannya jika kita bisa ‘terbang’ ke masa depan atau masa lalu kayak di film Back to the Future bikin ngiler.
Hmmmh... gimana caranya supaya bisa melakukan time travel ya?
Yang pertama, secara fisika, katanya kita bisa manfaatin yang namanya wormhole, jalan tembus khayal dalam ruang-waktu di alam semesta. Konsep ini masih baru, tapi intinya: kalo kita bisa nerobos masuk ke dalam wormhole pada suatu tempat dan waktu, kita bisa menyeruak di tempat dan waktu yang lain.
Cara lainnya, yang juga masih sekedar teori, adalah berusaha bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Menurut Albert Einstein, hal itu mustahil. Soalnya, katanya, nggak mungkin ada yang bisa mengalahkan kecepatan cahaya. Tapi justru ia dan dua rekannya, Rosen dan Podolski, mendapati kalo dua partikel yang letaknya sangat jauh bisa ‘saling mengerti’ (menyampaikan informasi) bahkan sebelum cahaya sampai dari partikel yang satu ke partikel yang lain. Para ilmuwan menyebutnya sebagai Paradoks EPR, dan banyak yang menganggap ini bisa dijadikan dasar buat teleportasi kuantum, atau dengan kata lain, time travel is possible!
Paradoks Waktu dan Turis Masa Depan
Sayangnya, paradoks jugalah yang menghadirkan masalah pada konsep tamasya lintas waktu. Yang pertama sekaligus paling melemahkan ide itu adalah Paradoks Sang Kakek. Coba aja bayangin, misalkan mesin waktu udah ditemukan. Lalu kamu menggunakannya buat mundur puluhan tahun ke masa sebelum kamu atau orangtuamu lahir. Misalkan kamu berhasil bertemu dengan kakekmu, tapi kemudian, kamu membunuh kakekmu. Kematian kakekmu berpuluh tahun yang lalu akan membawa dua implikasi: (1) ayah atau ibumu nggak akan pernah lahir, dan otomatis (2) kamu juga nggak akan pernah lahir. Pertanyaannya: apakah yang akan terjadi dengan dirimu saat itu juga? Apakah kamu akan hilang? Trus kalo kamu nggak pernah lahir... kamu juga nggak bisa membunuh kakek kamu, lalu siapa yang membunuh kakek kamu? Bingung kan?
Ilmuwan cacat tetapi brilian Stephen Hawking menjawabnya dengan menyebutkan kalo alam semesta terlindung secara kronologis. Artinya, seandainya mesin waktu ditemukan, dengan itu kita hanya bisa melihat masa lalu dan masa depan, tapi nggak punya kuasa buat mengubah segalanya. Segala sesuatunya akan berjalan sebagaimana seharusnya pada waktunya, tanpa gangguan dari manapun. Ini mirip dengan konsep qismah dalam Islam, atau predestinasi deterministik dalam kerangka Kristiani. Hawking, yang sangat pesimistis mengenai time travel, menambahkan bahwa hingga saat ini kita belum pernah melihat adanya turis dari masa depan yang berkunjung ke masa kini.
Mari Bertamasya Sekarang Juga!
Tapi jangan sedih karena mesin waktu nggak kunjung ditemukan. Sekarang pun sebenarnya kita semua bisa bertamasya lintas waktu. Mesinnya sudah ada dalam diri kita: otak manusia, ciptaan Tuhan sendiri. Bukankah hanya dengan melihat foto, atau sekedar mengingat, kita bisa langsung membayangkan ketika peristiwanya terjadi? Seandainyapun itu hanya di alam imajinasi, tapi kan kita sudah ‘bertamasya’ ke masa lalu. Bukankah itu anugerah Tuhan yang jauh lebih dari cukup? [cs]
Time Travel di Alkitab
Setidaknya ada tiga kejadian dalam Alkitab yang bisa dikategorikan sebagai time travel:
1. Musa dan Elia dibawa Tuhan melintas waktu mengunjungi Yesus yang dimuliakan di atas Gunung Tabor (transfigurasi Kristus ini diceritakan di Matius 17, Markus 9, dan Lukas 9.) Meskipun kita nggak tau pasti kalo Musa dan Elia yang hadir saat itu benar-benar eksis dalam wujud fisik yang nyata, or cuman apparition (bayang-bayang), mereka berasal dari era yang berbeda dengan Yesus. Gimana caranya? Cuma Tuhan yang tahu.
2. Yohanes di pulau Patmos yang ‘diajak’ Yesus untuk mengunjungi masa depan, ia melihat perang dunia, zaman antikristus dan kedatangan Yesus yang kedua kali.
3. Dalam sebuah tafsiran, Henokh dibawa Tuhan ke akhir zaman untuk melihat rapture (pengangkatan) terjadi, dan ia ikut terangkat (Kejadian 5:24 dan Ibrani 11:5). Makanya Henokh bernubuat (mungkin karena melihat) Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya pada saat Yesus datang kedua kali nanti (Yudas 1:14).
Time travel dalam dunia populer:
Buku: The Time Machine oleh H. G. Wells, Through the Looking Glass oleh Lewis Carroll, The Door into Summer oleh Robert Heinlein, Ubik oleh Philip K. Dick.
Film: Back to the Future (1, 2, 3), The Thirteenth Floor, The Time Machine, Bill and Ted’s Excellent Adventure, 12 Monkeys, Time Bandits, Terminator. Austin Powers.
Subscribe to:
Posts (Atom)