Showing posts with label tanya. Show all posts
Showing posts with label tanya. Show all posts

Thursday, May 2, 2013

KEMATIAN YESUS


KEMATIAN YESUS

Q Di Matius 12:40 disebutkan Yesus akan mati 3 hari dan 3 malam, padahal Jumat Yesus mati sampai minggu Yesus bangkit cuma 3 hari 2 malam, kan?.

A Kalo ngelihat laporan yang diberikan Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan yang diterima secara umum oleh sarjana-sarjana yang berkompeten, Yesus dikubur pada hari Jum’at petang dan bangkit pada hari Minggu pagi. Dalam Matius 12:40 disebutkan “tiga hari tiga malam” dan karena itu dianggap harus 3 x 24 jam. Kalau diperhatikan jelas bahwa Yesus berada di dalam kubur hanya sedikit bagian dari hari Jum’at, sepenuh hari Sabtu dan sedikit bagian dari hari Minggu. Jadi kemungkinan hanya setengah dari 72 jam atau dengan kata lain hanya dua malam satu hari. Kalau begitu tidak sesuai dengan Matius 12:40 “tiga hari tiga malam”?

Langkah awal yang perlu dilakukan sebelum memecahkan persoalan ini adalah memperhatikan prinsip-prinsip penafsiran nubuatan. Salah satu prinsip nubuatan adalah bahwa kita harus memperhatikan bahasa dari nama-nama, peristiwa-peristiwa, geografi, kebiasaan-kebiasaan, kebudayaan, flora, fauna dan musim yang disebutkan dalam nubuatan. Dalam kaitan dengan nubuatan, tiga hari tiga malam tidak harus dipaksakan dalam pengertian 72 jam sebab itu bisa memusingkan. Ungkapan itu harus dipahami dalam penggunaan orang Yahudi. Mereka yang memaksakan tepat 72 jam menganggap bahwa Yesus disalib pada hari Rabu, maka perhitungan 72 jam akan jatuh pada hari Sabtu sore, sedangkan Tuhan Yesus bangkit pada hari Minggu pagi.

Bagi orang Yahudi ungkapan satu hari satu malam dipakai untuk menunjukkan satu hari, sekalipun yang dimaksudkan adalah sebagian dari hari itu. McDowell dan Steward ngasih bukti penggunaan dalam Perjanjian Lama. Misal dalam Kejadian 42:17 disebutkan bahwa saudara-saudara dimasukkan dalam tahanan selama tiga hari. Tetapi pada ayat 18 disebutkan bahwa mereka dilepaskan pada hari yang ketiga. Demikian juga dalam 1 Samuel 30:12 disebutkan bahwa seorang Mesir yang dihadapkan kepada Daud tidak makan dan tidak minum “selama tiga hari tiga malam”. Pada ayat 13 disebutkan bahwa ia telah ditinggalkan oleh tuannya tiga hari yang lalu (bukan tiga hari tiga malam tepat).

Dalam Matius 16:21 disebutin kalo Tuhan Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya mengenai kebangkitanNya “pada hari ketiga”. Seandainya harus 72 jam maka kebangkitan Yesus akan jatuh pada hari yang ke-4 dong. Pendapat ini dikuatkan dengan pernyataan pada Matius 27:62-66. Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menghadap Pilatus meminta agar kubur mendapat penjagaan sampai “hari yang ketiga” sebab mereka masih ingat perkataan Yesus “Sesudah tiga hari Aku bangkit”. Melihat bukti-bukti ini jelas bahwa bagian-bagian Alkitab justru saling mendukung untuk mengungkapkan kebenaran Allah dalam nubuatan. (hits)

Wednesday, January 18, 2012

BAYI MASUK NERAKAA


BAYI MASUK NERAKA
Q: Dear Min2, kemarin adikku cerita, katanya guru agama di sekolahnya pernah bilang kalo bayi yang meninggal dan belum dibaptis bakalan nggak masuk surga. Emangnya bener gitu ya? Bukannya Yesus itu cinta anak-anak? (beatrice)

A: Wah, setahu saya sih itu gak ada tertulis di Alkitab. Yang tertulis tuh “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan (Markus 16.16). Dengan kata lain harus percaya dulu, kemudian dibaptis baru diselamatkan. Baptisan saja tidak membuat seseorang diselamatkan,karena untuk diselamatkan seseorang juga harus percaya pada penebusan Tuhan. Dan gak bisa diwakilkan pada orang lain, misalnya karena orangtuanya percaya Yesus maka anaknya juga dianggap percaya Yesus jadi bisa diselamatkan. Percaya atau nggak pada Yesus adalah urusan pribadi seseorang dengan Tuhan en gak bisa diwakilin ke orang lain. Jadi, gak ada hubungannya kalo bayi dibaptis atau nggak berarti masuk surga atau neraka karena baptisan saja tanpa percaya gak ada gunanya.

Masalahnya, bayi kan belom bisa mikir jadi mereka juga gak bisa percaya sama Yesus. Terus gimana dong? Kalo nggak percaya kan berarti mereka gak bisa masuk surga dong, kalo meninggal masuk neraka? Kasian amat! Masa Tuhan kayak gitu ? Gak adil dong kalo mereka harus masuk neraka. Kalo mereka belum bisa percaya, ya udah baptisnya aja boleh kan?

Sebelum saya jawab pertanyaan itu, saya minta kamu beli kue dan ambil pisau di dapur. Potong kue tadi jadi 2 bagian sama besar seadil-adilnya. Sama sekali gak boleh ada bagian yang lebih besar dari bagian yang lain, 1 atom pun gak boleh ada yang lebih banyak dari yang lainnya. Bisa? Saya yakin gak ada yang bisa. Kenapa saya suruh potong kue? Saya cuma mau nunjukin kalo bagi kue aja kita gak bisa adil, jadi jangan memutuskan Tuhan itu adil atau gak adil.

Saya gak tau gimana nasib bayi yang baru lahir kemudian meninggal, apakah mereka masuk surga atau nggak. Tapi saya percaya kalo Tuhan jauh lebih baik, jauh lebih pinter en jauh lebih adil daripada saya yang bagi kue jadi 2 dengan adil aja ngga bisa. Saya percaya kalo Tuhan bakalan melakukan hal yang terbaik dan teradil buat mereka. (min2)

KOMSEL ANAK DUKUN
Hai, di edisi #83 GF! kan nyinggung mengenai komsel. Udah 2 bulan ini aku gak ikut komsel karena aku lihat ketua komselnya rada aneh. Masa yang dikumpulinnya anak-anak dukun yang masih belum lahir baru, bahkan diasendiri pacaran sama anak dukun. Trus kami pernah disuruh berdoa sambil bergandengan tangan dan tiba-tiba anak-anak dukun yang bergandengan tangan dengan aku gelisah karena katanya tanganku panas. Menurut GF!, gimana ya caranya aku keluar dengan baik-baik? Apa alasanku yang harus aku kemukakan? Jujur aja aku sama sekali tidak nyaman dengan keadaan komsel yang sangat aneh ini. Thanks. (bukan anak dukun, di rumah)

A: Wah, kayaknya komsel kamu seru juga yah? Tapi kok bisa ngumpulin anak–anak dukun semua? Gimana nyarinya? Nggak salah sih kalo komselnya memang khusus menjangkau anak–anak dukun. Seringkali memang lebih mudah kalo suatu komsel khusus dibentuk untuk satu kelompok tertentu, misalnya khusus komsel untuk SMA, khusus karyawan, komsel anak jalanan atau komsel anak punk. Salah satu senior saya di gereja dulu suka malam–malam pergi ke alun–alun pake dandanan yang agak serem buat ngejangkau anak–anak punk. Jadi, kalo menurut saya sih gakmasalah kalo memang komselnya khusus untuk ngejangkau anak–anak dukun.

Walaupun komsel khusus seperti ini memang lebih mudah untuk diurus tapi kelemahannya komsel ini juga jadi terbatas hanya pada kelompok yang dijangkau saja. Kalau ada orang dari kelompok yang berbeda mencoba masuk ke komsel ini bakalan lebih susah untuk menyesuaikan diri. Misalnya, pasti susah buat seorang karyawan untuk ikutan komsel anak SMA, udah gaknyambung. Atau mahasiswa masuk komsel anak SD, atau ibu-ibu rumah tangga masuk komsel anak punk, susah nyambungnya.

Kalo memang gak cocok en gak nyaman di komsel yang sekarang ya gak usah dipaksain. Gimanapun juga lebih bagus kalo seseorang ikut komsel yang lingkungannya lebih nyambung dengan dianya. Lebih mudah untuk gabung dan terlibat di dalem komsel itu. Kalo mau pindah ke komsel lain, aturannya sama aja dengan pindah gereja, jangan ninggalin masalah di komsel lama supaya gak bawa masalah ke komsel baru. Maksudnya, kalo ada ganjelan atau ada masalah sama seseorang di komsel lama, beresin dulu. Kalo harus minta maaf, ya minta maaf dulu. Jangan pernah pindah komsel karena kita ribut dengan seseorang dan keributan itu gak diselesaikan. Soalnya masalah yang gakdiselesaikan biasanya muncul lagi di komsel yang baru dan malah bikin komsel yang baru jadi kacau. Kalo udah yakin gak ada ganjelan dan kita memang pindah komsel karena ngerasa gak nyambung, pindah deh. Kalo komselnya berada di bawah naungan gereja kamu, jangan lupa lapor ke pengurus buat memudahkan pendataan jemaat dan administrasi sekalian minta ijin juga.

Kalo soal ngomongnya harus gimana, ya jujur aja. Paling gampang jujur aja bilang kalo kamu emang gaknyaman dengan suasana komselnya dan mau pindah ke komsel lain yang lebih nyambung. Jangan nyari alesan lain soalnya yang pertama jelas berarti kita harus bohong dan yang kedua sekali kita bohong bakalan bikin kebohongan terus menerus buat ngedukung kebohongan kita yang pertama. Jadi, mendingan dari awal jujur aja. Toh, kalau alesannya kuat en jelas en kamu gak ninggalin masalah, pemimpin komsel kamu juga gak punya alesan buat nahan kamu di komsel itu. Setuju? (min2)

Thursday, January 5, 2012

MELAYANI HARUS SUCI?


MELAYANI HARUS SUCI?

Dear Min2. Gereja tempatku berjemaat sekarang, aku merasa ada yang beda dengan yang dulu. Sekarang aku merasa ada pembedaan antara pendoa syafaat dengan para jemaat dan pelayan TUHAN yang lain. Para pendoa syafaat baru terbentuk ½ tahun yang lalu tapi aku lihat sekarang kegiatan gereja seperti diambil semua oleh para pendoa syafaat, apa-apa harus lewat doa syafaat seperti waktu gereja ULTAH, masa susunan acaranya harus ditentukan oleh pendoa syafaat (katanya lewat suara TUHAN) dan lagi ada beberapa yang dikeluarkan dari pelayanan. Bukankah semua yang rindu bisa ikut pelayanan? Ada yang dikeluarkan karena gak masuk dalam tim doa syafaat atau ketauan konseling dengan pendeta gereja lain. Padahal dulu mereka dipanggil diurapi lewat nubuat seorang pendoa syafaat tapi juga dikeluarkan oleh pendoa syafaat itu juga. Emang kalo mau ikut pelayanan harus ada tuntutan dari TUHAN harus suci murni selain rindu mau melayani? Bukankah dalam Roma 7:19 manusia itu akan pasti melakukan salah? (Yuli)

A: Ketika Yesus mati di kayu salib, tabir bait suci terbelah dua. Kebanyakan dari kita tahu certa ini dan tahu apa artinya, tidak ada lagi penghalang antara kita dengan Allah. Kita bisa berhubungan langsung dengan Allah melalui Yesus dan hanya Yesus saja. Kita tidak memerlukan perantara yang lain supaya kita bisa berhubungan dengan Yesus. Lewat Roh Kudus dalam diri kita, kita bisa langsung berdoa pada Tuhan dan seiring waktu, kita juga belajar mendengarkan jawaban Tuhan. Di hadapan Tuhan, kita semua berdiri sama tinggi dan mempunyai hak yang sama untuk berhubungan dengan Tuhan. Tidak ada orang yang yang berdiri lebih tinggi dari yang lain dan mempunyai akses yang lebih dekat ke Tuhan dan orang lain harus melewati dia untuk bisa berhubungan dengan Tuhan.

Setiap orang bisa dan punya hak yang sama untuk bicara dengan Tuhan. Saya gak menyangkal kalau ada orang–orang tertentu yang mendapat karunia kepekaan yang lebih untuk mendengarkan suara Tuhan. Orang–orang yang mendapat karunia ini punya kelebihan mendengar suara Tuhan dengan lebih detil dan jelas. Tapi Tuhan berbicara kepada semua orang, bukan hanya lewat mereka.

Saya setuju pendoa syafaat sangat diperlukan. Dan saya setuju kalau segala sesuatu ditentukan setelah kita berdoa ke Tuhan. Saya juga gakkeberatan bila gereja melarang seorang jemaat untuk tidak melayani, itu otoritas gereja yang harus kita hormati. Hanya karena seseorang rindu melayani bukan berarti dia layak untuk melayani. Ketika para rasul memilih para Diaken, mereka tidak memilih berdasarkan kerinduan melayani tapi berdasarkan kualitas rohani mereka. Hanya karena seorang anak kecil rindu untuk naik motor bukan berarti dia bisa mengendarai motor itu dengan baik, kemungkinan besar justru bisa mencelakai dirinya sendiri dan orang lain. Bukan masalah apakah pelayan itu harus suci tanpa dosa atau nggak, karena gak mungkin ada pelayan yang sempurna. Masalahnya adalah apakah pelayan itu sudah cukup dewasa secara rohani untuk menyadari tanggung jawabnya atau tidak. Apakah dia sudah cukup kuat secara rohani atau ketika ada masalah pelayan ini justru kabur? Memilih seseorang untuk melayani adalah otoritas gereja dan kita harus menghormati hal itu, suka gak suka, setuju gaksetuju. Tentu saja bukan berarti jemaat gak bisa protes dan menolak, 7 Diaken pertama pun dipilih dan disetujui oleh jemaat dan diurapi oleh para Rasul.

Bagaimanapun, hubungan kita dengan Tuhan adalah tanggung jawab kita sendiri. Gereja tidak bisa mengatur kehidupan kita karena itu urusan pribadi kita dengan Tuhan. Tugas seorang pembimbing bukanlah menentukan bagaimana kita harus menjalani hidup kita tetapi mengantar dan membimbing kita lebih dekat kepada Tuhan supaya pada waktunya kita, bersama dengan Tuhan, membuat keputusan bagaimana kita menjalani hidup kita. Seorang pembimbing, karena lebih dewasa secara rohani dan karenanya mungkin lebih peka pada sura Tuhan, bisa memberi nasehat kepada kita tentang apa yang diinginkan Tuhan dalam kehidupan kita. Tapi, seperti yang saya jelaskan di atas, kita juga punya hak untuk berhubungan langsung dengan Tuhan.

Nasehat pembimbing bisa membantu kita memperjelas suara Tuhan tapi bukan berarti semua yang dikatakan pembimbing adalah suara Tuhan. Mereka juga tidak sempurna dan mungkin saja salah mendengar suara Tuhan. Jadi, kita sendiri harus menguji nasehat pembimbing itu dan mendoakannya langsung kepada Tuhan. Apakah yang dikatakan pembimbing itu benar suara Tuhan atau bukan, pada akhirnya kita sendiri lah yang harus menentukan apa yang harus kita lakukan.

Soal masalah pelayanan di gereja kamu, adalah otoritas gereja untuk menentukan siapa yang boleh melayani dan siapa yang gakboleh. Kita harus menghormati otoritas itu, kita boleh gaksetuju dan protes, tapi keputusan tetap di tangan pemimpin. Tapi mengenai masalah pasangan hidup yang ditentukan gereja, kita bisa menolak karena itu adalah hidup kita sendiri dan kita sendiri yang harus menentukan jalan hidup kita sendiri. Pembimbing boleh memberi nasehat mengenai siapa teman hidup kita tapi kita pun punya hak untuk menanyakannya secara langsung pada Tuhan dan kita punya hak untuk menolak atau menerima nasehat pembimbing kita.

Bicara udah panjang lebar, singkatnya sih saya cuma ingin bilang: ujilah segala sesuatu, baca I Yohanes 4:1, kita harus menguji apakah roh yang berbicara itu berasal dari Tuhan atau bukan. Hanya karena seseorang berkata kalo yang mereka katakan berasal dari Allah bukan berarti itu benar. Doakan dan uji apakah memang benar perkataan mereka berasal dari Allah atau bukan. Jangan takut untuk menguji dan mendoakan perkataan mereka. Kalau memang benar perkataan mereka dari Tuhan, mereka juga gak akan keberatan perkataan mereka diuji karena mereka tahu itu pasti benar. Kalau saya mengatakan 2+2=4, saya gak akan keberatan perkataan saya tadi diuji karena saya tahu itu pasti benar. Sebaliknya, kalo mereka justru marah dan gak mau perkataan mereka diuji dan menuduh kita meragukan Tuhan, itu justru pertanda kalo perkataan mereka bukan dari Tuhan. Emas murni gak aan takut api. (min2)

Saturday, July 31, 2010

Teman Bermasalah

Q
Aku punya temen, sekarang ini dia lagi punya banyak banget masalah. Beberapa kali dia curhat sama aku. Yang bikin sedih, dia selalu lari ke hal yang negatif kayak minum-minum, ngerokok, ngebolos, dsb. Aku pengen banget bantuin, setidaknya dia nggak lagi ngeroko, minum or bolos kalo kena masalah. (Confussing gal - somewhere)

A
Hmm… memang nggak banyak yang bisa kamu lakuin selain terus ngedukung dia. Gimanapun juga seseorang gak bisa ngerubah hidupnya kalo dia sendiri gak punya niat untuk berubah. Saya ngomong kayak gini bukan berarti menuduh gebetan kamu orang yang gak mau ngerubah hidupnya. Maksud saya, biarpun kamu ngebujuk atau ngelarang dia, niat untuk berubah itu harus dari dia sendiri, bukan dari kamu. Memang bujukan dan larangan mungkin bisa ngerubah kelakuan seseorang tapi gak akan bertahan lama. Tapi, hanya sekedar punya niat untuk berubah saja gak cukup, harus ada sesuatu yang memampukan orang itu untuk berubah.

Singkatnya, saya cuma mau bilang kalo yang paling dia perlukan sekarang sebenarnya bukan kamu, tapi Tuhan. Memang ini jawaban yang klise, tapi saya gak punya jawaban yang lain. Biarpun kamu dengerin curhatnya ratusan kali, negor dia ribuan kali sekalipun itu gak bakalan menyelesaikan masalah. Biarpun saya bisa jelaskan panjang lebar sebenernya intinya tetep sama, dia butuh Tuhan, gak ada yang lain. Kenapa? Karena cuma Yesus yang bisa memampukan seseorang untuk berubah.

Yang bisa kamu lakukan saat ini hanya dengan berada di dekatnya dan dengerin dia curhat dan sedikit demi sedikit sampaikan kalo Tuhan itu baik dan cuma Yesus yang bisa bantu dia. Jangan terlalu banyak menegur, itu bisa membuat dia jadi menjauh. Jangan terlalu memaksa ketika membicarakan tentang Yesus kepada dia karena bisa saja jadi membela agamanya dan kalian berakhir dengan ribut berdebat mempertahankan agama masing–masing. Bicarakan tentang Yesus pelan–pelan sedikit demi sedikit tiap hari. Kalo dia sudah mulai tersinggung dan marah, jangan diterusin, berhenti aja dan dengerin dia ngomong. Dalam kondisi stress kayak gini, telinga lebih berguna daripada mulut, ngedengerin lebih berguna daripada kamu ngomong terus menerus. Jangan lupa doain supaya waktu kamu ngomong, Roh Kudus bisa senggol–senggol hatinya. (min2)

Friday, July 23, 2010

Pilih Jurusan

Q Dulunya aku pernah kuliah di jurusan musik, dan aku merasa ini jurusan yang Tuhan mau saya jalani. Tapi belom sampe 1 taon aku harus pergi ke luar negeri. Di sana aku kembali mencari jurusan musik, tapi aku jadi bingung lantaran banyak orang yang bilang ke aku kalo kerja di bagian musik itu nggak ada masa depannya! Aku jadi bingung, apakah semuanya ini kehendak Tuhan? Apakah Tuhan pengen saya ambil jurusan yang lain? (Florida)

A Walaaah… pertanyaan yang susah nih! Susah karena ini nyangkut masa depan kamu dan sekali salah pilih akibatnya bisa kerasa seumur hidup. Saya ngerti gimana rasanya karena saya juga pernah bingung jalan apa yang harus saya pilih 2 tahun yang lalu, dan walaupun saya sekarang udah milih tapi terkadang masih ragu juga. Bukan meragukan apakah pilihan saya benar aau tidak tapi meragukan bisakah saya menjalani pilihan yang saya ambil.

Saya gak bisa membantu menentukan pilihan mana yang lebih baik karena masa depan dan visi kamu adalah sesuatu yang harus kamu tentukan sendiri bersama Tuhan tanpa dipengaruhi orang lain. Sebagai gantinya saya bakalan cerita gimana pergumulan saya 2 tahun yang lalu mengenai masalah visi, siapa tau kamu bisa dapat berkat dari sana, OK?

Waktu saya bertobat 9 tahun yang lalu, saya gak pernah punya pikiran kalo saya suatu hari nanti bakalan dipanggil jadi penulis. Saya memang suka baca dari kecil tapi saya gak pernah kepikiran kalo suatu hari nanti saya bakalan menulis sesuatu untuk dibaca orang lain. Waktu itu saya mikirnya cuman namatin kuliah, cari kerja ke salah satu perusahaan di Bandung atau Jakarta, menikah, punya anak dan seterusnya. Saya gak mikir yang aneh–aneh, pelayanan bagi saya berarti melayani di kelompok sel, paling tinggi mungin jadi diaken atau pemimpin salah satu divisi di gereja, gak lebih dari itu.

Sekitar 4 tahun yang lalu, waktu saya ikut kelompok sel di gereja, seorang hamba Tuhan menubuatkan saya menjadi seorang penulis. Kaget juga sih dinubuatin kayak gitu karena sebelomnya gak pernah muncul di pikiran saya soal jadi penulis. Sesudah dinubuatkan, saya gak terlalu mikirin hal ini karena jujur aja, saya gak terlalu percaya sama omongan hamba Tuhan itu. Waktu itu saya pikir mungkin hamba Tuhan itu cuma asal ngomong aja.

Anehnya, sejak itu di pikiran saya terus menerus muncul kata “penulis” itu, walaupun saya berusaha meyakinkan diri sendiri kalo itu bukan dari Tuhan. Alasan saya menolak jalan hidup sebagai penulis karena alasannya sama dengan kamu, gak ada duitnya. Saya pikir berapa sih duit yang bisa didapet dari nulis di Indonesia? Di sini kan orang–orangnya kurang seneng baca, jadi kalo bikin buku pasti gak terlalu laku. Saya anak tunggal jadi harus mikirin juga nanggung orangtua saya selain keluarga sendiri, kalo jadi penulis mana cukup duitnya?

Di saat saya lagi bingung gini ada satu kejadian yang mengubah cara pandang saya. Karena saya suka baca buku, terutama yang berbahasa Inggris karena banyak pilihannya, saya suka pergi ke tukang buku bekas dan nyari–nyari buku novel yang murah di sana. Di sana saya nemu satu buku yang udah lecek banget, halamannya udah kuning, terbitan tahun 60-an dan harganya cuma Rp 1.500. Judulnya, “Hiding Place”, buku ini nyeritain keluarga Corrie Ten Boom, satu keluarga Kristen di Belanda pada perang dunia ke-2. Buku ini sangat memberkati saya dan mengajarkan banyak hal. Saat itu saya melihat sekilas cara kerja Tuhan dalam sebuah tulisan. Buku ini ditulis 40 tahun yang lalu dan entah sudah melalui berapa banyak tangan sebelum sampai ke tangan saya dan mengubah cara pandang saya. Dengan tak terlihat dan tak terduga, tangan Tuhan menuntun tulisan ini melewati ruang dan waktu, 40 tahun kemudian di suatu negara yang jauh dari tempat asal buku ini ditulis, Tuhan membuat buku ini memberkati saya.

Saat itu saya sadar, ketika Tuhan memanggil seseorang, Dia gak main–main dan cuman asal manggil doang. Kalo kita bersedia membayar harganya, Tuhan bisa menjadikan pelayanan kita melewati ruang dan waktu. Mungkin cerita saya terlalu berlebihan, tapi sepertinya saat itu Tuhan mengeluarkan saya dari kotak kecil bernama “Bandung” dan memperlihatkan sejauh apa yang bisa saya capai jika saya bersedia membayar harganya.

Walaupun begitu saya masih perlu waktu 1 tahun untuk benar–benar mengambil keputusan jadi penulis dan melepaskan pekerjaan yang sebelumnya. Saya perlu waktu lama untuk mengambil keputusan karena saya takut membayar harganya. Saya takut hidup susah dan miskin, saya takut gagal. Hanya karena visi itu dari Tuhan bukan berarti gak ada halangan, justru halangannya makin gede karena bakalan ada pihak lawan yang menghalangi kita menjadi maksimal. Gua Adulam, rumah Potifar dan penjara mesir, gua singa menunjukkan kalo orang–orang yang mendapat mimpi dari Tuhan harus melewati rintangan yang besar dan saya takut untuk menghadapi rintangan itu. Kalo bisa, saya lebih suka kembali ke mimpi awal saya yang sederhana, lulus kuliah, kerja dan menikah. Tapi, saya tahu kalo saya lakukan itu, saya tidak akan pernah hidup dengan tenang dan suatu hari nanti akan mati denagn penyesalan.

Akhirnya, saya mengambil keputusan dan Tuhan buka jalan. Lewat seorang teman yang kerja di GF!, sebenarnya kita gak terlalu akrab tapi gak tau gimana bisa jadi deket, saya mulai menulis di majalah GF!. Tentu saja banyak masalah yang muncul, baik dari orangtua, masalah mental maupun finansial dan saya tahu perjalanan saya masih sangat jauh tapi paling tidak saya sudah mengambil keputusan dan mulai menjalani keputusan itu. Sampai saat ini saya yakin dengan pilihan yang saya ambil, masalahnya saya ga tahu kuat gak ya bayar harganya sampe suatu hari nanti saya juga bisa nulis buku yang 40 tahun kemudian masih bisa mendatangkan berkat bagi seseorang di negara yang jauh.

Sepertinya pengalaman saya lebih mengarahkan kamu untuk mengambil kuliah di bidang musik yah? Saya gak ada niat ngarahin kamu kesana, kalo ceritanya lebih ngarah kesana ya itu gak disengaja, pengalaman saya memang gitu ceritanya. Paling gak, saya belajar ada 4 hal yang menjadi ciri apakah suatu visi itu dari Tuhan atau bukan.

Yang pertama, kalo Tuhan manggil, dia ga pernah manggil kita untuk sesuatu yang biasa. Tuhan manggil setiap orang untuk sesuatu yang luar biasa, masalahnya tidak semua orang bersedia bayar harganya. Visi yang luar biasa tidak selalu berarti menjadi hamba Tuhan yang terkenal, menjadi seorang ayah yang baik juga visi yang luar biasa. Visi luar biasa bukan berarti melayani seluruh dunia, melayani satu desa kecil terpencil juga visi yang luar biasa. Visi yang luar biasa sama seperti Yesus, Dia mengubah hidup orang – orang dan ketika Dia naik ke surga, pengaruh itu ngga hilang tapi terus diwariskan.

Yang kedua, visi yang dari Tuhan mustahil dicapai dengan kekuatan kita sendiri. Visi dari Tuhan akan membuat kita membutuhkan Tuhan untuk mencapainya.

Yang ketiga, jika suatu visi dari Tuhan, visi itu gak kan pernah hilang walaupun kita berkali–kali menolaknya. Berapa lama pun dan sekeras apapun usaha kita untuk melupakannya, visi itu akan terus muncul di kepala kita dan tidak bisa kita lupakan.

Yang keempat, ada harga yang mahal yang harus kita bayar untuk visi itu. Visi dari Tuhan bukan visi murahan yang bisa kita capai dengan gampang. Disinilah kesulitan paling besar yang harus kita hadapi saat akan mengambil pilihan.

Saya ga bisa bantu kamu memilih, itu keputusan kamu sendiri. Tapi, saya harap pengalaman saya bisa sedikit membantu mengatasi stress kamu. Masa depan kamu ditentukan oleh kamu sendiri, pilih dengan hati–hati. (min2)