Wednesday, January 11, 2012

TOPTEN BIBLE KULINER EKSTRIM


Selamat datang di pameran makanan aneh di Alkitab! Di sini kita bisa liat sepuluh jenis makanan ‘aneh’ yang ada di Alkitab. Disebut aneh karena emang pada masa Alkitab ditulis makanan itu nggak umum buat dimakan (en sampe sekarang juga masih nggak umum buat dimakan). Nah, langsung saja, ini dia sepuluh jenis makanan ‘aneh’ di Alkitab...(dp) 

TOPTEN BIBLE KULINER EKSTRIM

10. Manna
Makanan yang sering disebut sebagai roti dari surga ini seperti apa bentuknya, masih misteri sampe sekarang. Tapi menurut Alkitab, manna itu berwarna putih, bentuknya seperti sisik (Keluaran 16:14). Rasanya? Yang pastinya enak, soalnya orang Israel tahan makan manna empat puluh taon. Katanya sih rasanya kayak kue madu (Keluaran 16:31).

9. Roti bakar
Jaman sekarang roti bakar bukan makanan aneh. Tapi jaman dulu pas jamannya Elia, roti bakar itu makanan langka, soalnya jaman itu  orang bikin roti itu dipanggang (sampe sekarang juga sama) terus dimakannya sama sayur berkuah. Jadi kalo ada orang makan roti bakar artinya nggak umum banget. Malah Elia cuman satu-satunya orang di Alkitab yang disebutin makan roti bakar (1 Raja-raja 19:6).  

8. Buah pohon kehidupan
Buah yang satu ini termasuk buah langka yang udah punah. Soalnya buah ini cuman hidup di taman Eden (Kejadian 2:9) en waktu Adam dan Hawa diusir dari taman Eden, buah ini dengan buah-buah lain yang ada di taman Eden ikutan punah. Jadi kayak apa bentuknya, kayak apa rasanya, kita nggak pernah tau.

7. Belalang dan madu hutan
Di Alkitab cuman satu orang yang makanannya belalang dan madu hutan, yaitu Yohanes Pembaptis (Markus 1:6), kayak apa rasanya? Kayaknya cuman Yohanes doang yang tau. Tapi yang pastinya makanan ini cukup bergizi soalnya nggak ada laporan kalo Yohanes sakit gara-gara makan belalang dan madu hutan. Oh ya, buat info aja, katanya ada yang bilang kalo belalang yang dimakan Yohanes itu bukan belalang, binatang yang suka lompat-lompat itu, tapi nama sejenis buah.   

6. Sayur pahit
Sayur yang satu ini emang langka. Nggak usah nyari di warung ato restoran mana-mana. Nggak bakal ada yang jual. Ya abisnya siapa juga yang mo makan makanan yang rasanya pahit? Tapi orang Israel makan loh, biar cuman setaon sekali pas Paskah doang (Keluaran 12:8,14). Kayak gimana bentuknya? Nggak jauh beda kayak selada ato seledri. Rasanya? Ya pasti pahit lah.

5. Kepala keledai
Kepala ikan masih enak kalo dijadiin makanan. Kalo kepala keledai? Nggak tau deh gimana rasanya. Tapi pas jamannya Elisa sempat ada kejadian kepala keledai jadi salah satu menu utama buat makan orang Israel, soalnya waktu itu udah nggak ada lagi makanan lain. Jadinya harga kepala keledai aja mahal banget (2 Raja-raja 6:25).

4. Gulungan kitab
Tau‘kan kayak gimana bentuknya gulungan kitab? Kayak kertas yang digulung, cuman bahannya bukan kertas tapi dari kulit binatang. Kebayang dong gimana rasanya kulit pohon. Makanya di Alkitab cuman dua orang yang berani makan gulungan kitab, Yehezkiel en Yohanes. Gimana rasanya? Kata yang udah makan sih, ‘pas di mulut manis, tapi di perut pahit’ (Yehezkiel 3:3, Wahyu 10:9) 

3. Debu tanah
Ada yang suka makan debu? Dijamin pasti nggak ada. Tapi di Alkitab ada satu binatang yang makanan sehari-harinya itu debu tanah. Dia adalah ular. Jadi gini sejarahnya, gara-gara nipu Adam dan Hawa buat makan buah pengetahuan, si ular kena hukuman dari Tuhan buat makan debu tanah seumur hidupnya (Kejadian 3:14). Tapi kok sekarang ular makannya tikus, ato hewan lain? Udah bosan sama debu tanah kali ya jadi pengen ganti menu.

2. Tahi merpati
Kebayang nggak kalo suatu saat kita mesti makan kotoran hewan? Nggak banget deh... tapi itu pernah kejadian di Israel waktu terjadi kelaparan besar gara-gara dikepung ama orang Aram (2 Raja-raja 6:25). Yang lebih gila lagi, tahi merpati ini dijual loh. En harganya mahal banget... (buat ukuran waktu itu). Kebayang ya gimana rasanya?

1. Bayi  rebus
Ini benar-benar kejadian nyata. Ternyata yang namanya kanibalisme (manusia makan manusia) bukan barang baru. Di Alkitab pas jamannya Elisa sempat ada kelaparan besar-besaran di Israel sampe-sampe orang mesti makan anaknya sendiri (2 Raja-raja 6:28-29) horor ya... tapi itu benar-benar kejadian. Gimana rasanya? Wah pasti nggak pengen tau deh...

Tuesday, January 10, 2012

Tempat-tempat di Alkitab yang Jarang Kamu Dengar Dari A Sampai Z


Sebutkan sebuah tempat di Alkitab yang dimulai dengan huruf G! Galilea? Getsemani? Hmm... bosen ah! Yuk kita telusuri Alkitab, dan coba cari satu-satu nama berikut, sekalian cari tau, apa yang terjadi dengan tempat-tempat ini di zaman sekarang. Nah, boleh jadi, nama-nama ini kedengarannya asing di telingamu. Tetapi justru di situlah serunya, kawan! (CS)

Tempat-tempat di Alkitab yang Jarang Kamu Dengar Dari A  Sampai Z

Adria, Laut (Kisah Para Rasul 27:27)
Kapal yang ditumpangi Paulus dan teman-teman sekerjanya terombang-ambing di atas laut ini selama berminggu-minggu sebelum akhirnya berlabuh di Pulau Malta. Sekarang, Laut Adriatik menjadi batas sedikitnya enam negara di Eropa, dan konon merupakan laut tercantik di dunia.

Bitinia (Kisah Para Rasul 16:7)
Daerah ini dicoba dimasuki oleh Paulus dalam program pengabaran Injil-nya, tetapi saat itu Roh Yesus melarangnya. Dalam peta modern, Bitinia sudah tidak ada lagi, menjadi bagian dari negara Turki.

Cakrawala (Kejadian 1)
Menjadi simbolisasi dari langit yang diciptakan Tuhan pada “hari kedua”. Kini, cakrawala adalah “rumah” bagi triliunan bintang dan tak terkira luasnya.

Dibon (Yesaya 15:9)
Kota di dekat Laut Mati yang penduduknya, bangsa Moab, diamuk oleh Allah. Kota ini menjadi bagian dari Yordania, tempat hunian dari sekitar 15 ribu jiwa.

Eglon (Hakim-hakim 3:12-30)
Kota di Kanaan yang rajanya berdamai dengan Gibeon, yang kemudian tanahnya dikuasai oleh Suku Yehuda. Meskipun tidak berhubungan, kata Eglon dijadikan nama sebuah kecamatan kecil di West Virginia, AS.

Fenisia (Kisah Para Rasul 11:19)
Pusat kebudayaan suatu bangsa besar yang terkenal sampai ke negeri-negeri yang jauh. Ditinggali oleh orang-orang Kristen yang pertama di zaman Para Rasul. Sekarang daerah ini terbagi menjadi tiga negara: Lebanon, Syria, dan Palestina.

Gadara (Matius 8:28)
Di sinilah Yesus mengusir setan yang merasuki dua orang dan “mentransfer” roh tersebut kepada sekawanan babi yang akhirnya terjun ke jurang. Yang tersisa dari kawasan ini hanyalah puing-puing di Yordania yang dinamai Umm Qais.

Hazor (Hakim-hakim 4:2)
Salah satu kota berbenteng milik Kerajaan Kanaan yang paling berpengaruh pada zamannya. UNESCO PBB memberikan gelar “World Heritage Site” untuk kawasan puing-puing terluas di negara Israel ini.

Ikonium (Kisah Para Rasul 13:51)
Letaknya yang strategis di dataran Anatolia, Turki, membuat Paulus sempat mengunjunginya untuk pengabaran Injil. Kota ini sempat berkali-kali dihancurkan bangsa Arab di abad pertengahan. Namanya sekarang sudah berubah menjadi Konya.

Jalan Salib (Yohanes 19)
Jalan ini masih dapat kamu temukan kalau sekali waktu nanti kamu berkunjung ke Kota Tua Yerusalem. Mulainya dari Gerbang Singa dan berakhir di Gereja Makam Suci. Konon melalui jalan inilah Tuhan Yesus menempuh penderitaan-Nya yang paling dahsyat dan kelam.

Kebar, Sungai (Yehezkiel 1)
Di sebuah desa dekat sungai ini, nabi kita Yehezkiel yang dibuang ke sana pertama kali mendengar suara Allah. Ini adalah salah satu dari Sungai-sungai Babylon, yang jadi inspirasi lagu Boney M (tanya papa-mama kamu tentang artis ini). “By the rivers of Babylon ...”

Laodikia (Kolose 4:13-16)
Satu dari tujuh jemaat yang disebutkan dalam Kitab Wahyu dan juga termasuk yang pertumbuhannya diperhatikan oleh Paulus. Dulu kota besar, yang tersisa kini cuma puing-puingnya yang dikuasai Turki.

Meriba, Mata Air (Bilangan 20:13)
Saksi bisu pertengkaran bangsa Israel dengan Tuhan. Tahu sebabnya? Karena nggak ada air! Sekarang, tak ada yang bisa memastikan di mana posisi geografisnya. Pokoknya, di dekat Gurun Sinai lah!

Negeb, Gurun (Kejadian 12:9)
Dalam bahasa Ibrani, artinya “kering.” Memang, namanya juga gurun! Daerah ini pernah dikunjungi Abraham sebelum ia ke Mesir. Di zaman modern, Gurun Negev justru jadi tempat salah satu kota liburan dan peristirahatan di Israel yang paling populer, Eilat.
Oreb, Gunung Batu (Yesaya 10:26)
Inilah tempat Oreb, raja Midian sekaligus musuh Gideon, mati dibunuh oleh sang hakim Israel. Dari situlah tempat ini mendapatkan namanya. Kalau namanya yang sekarang sudah berubah sedikit, jadi Orbo. Letaknya di dekat Bethshean, Yordania.

Patara (Kisah Para Rasul 21:1-2)
Kota tempat kelahiran Santa Klaus (Santo Nikolas) di tepi Laut Mediteranea ini pernah disinggahi Paulus sebelum ia bertolak ke Fenisia. Dulunya, kota ini adalah pelabuhan dan kota dagang yang sangat besar. Banyak pelancong di Turki mendatanginya sekarang, meskipun kotanya sendiri sudah tak ada lagi.

Qumran
Naskah-naskah asli yang sekarang jadi Alkitab yang kamu pegang sekarang itu ditemukan di dalam gua-gua yang banyak terdapat di daerah ini. Sejak saat itu, dataran kering di kawasan Tepi Barat, Israel, ini menjadi sasaran para arkeolog yang ingin mencari tahu lebih banyak lagi.

Rodos (Yehezkiel 27:15)
Terkenal di zaman nabi Yehezkiel karena jago berdagang, orang-orang Rodos banyaknya berjualan gading dan kayu. Inilah tempat berdirinya Kolosus, satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Dewasa ini, sumber pendapatan utama dari pulau besar yang dikuasai Yunani ini adalah pariwisata.

Susa, atau Susan(Ester 1)
Inilah salah satu pemukiman tertua yang pertama muncul di dunia, didirikan di sekitar tahun 6000 sebelum Masehi. Pernah menjadi ibukota dari kerajaan Elam, Akadia, Asyria, bahkan hingga Kekaisaran Persia (di bawah pemerintahan Cyrus Agung, 538 sM). Di sini, kamu bisa mengunjungi sebuah tempat yang diduga adalah kuburan Daniel.

Tekoa (Amos 1:1)
Di sekitar abad kedelapan sebelum Masehi, nabi Amos pernah lahir di sini, dan tumbuh besar sebagai gembala dan tukang kebun. Tuhan mengutus Amos untuk berkhotbah menentang ketidakadilan soal kemakmuran dalam kehidupan bangsa Israel, yang saat itu sedang dalam masa keemasannya. Tekoa yang modern adalah tempat bernaungnya Tekoa Agro-Technology Farm milik Israel.

Us (Ayub 1:1)
Dulu, di tanah inilah seorang kaya nan saleh bernama Ayub diuji kesetiaannya kepada Tuhan. Tempat tinggal Ayub ini konon sekarang diduduki oleh dua negara: Syria dan Yordania.

Vatikan
Karena tidak ada nama tempat di Alkitab yang dimulai dengan huruf “V” dalam bahasa Ibrani, maka tentu saja inilah yang paling berhubungan. Konon, di sinilah tempat Petrus mengembangkan umat Kristen yang pertama-tama di Roma. Inilah satu-satunya negara yang masih menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya.

Wadi El-Arish, atau Sungai Mesir (Kejadian 15:18)
Disebut beberapa kali dalam Perjanjian Lama sebagai suatu tempat yang subur di tengah gurun yang tandus, di sini sekarang berdiri Arish, ibukota pemerintahan Mesir di Semenanjung Sinai. Wadi ini sering sekali dilanda banjir dari lautan di sebelah utaranya.

Xystus
Meskipun nggak tercatat di Alkitab, ini adalah gedung olahraga yang didirikan oleh orang Yunani. Pada zaman Yesus, Xystus dengan terasnya yang terbuka berdiri megah di pusat kota Yerusalem, berdekatan dengan Bait Suci.

Yaman, atau Syeba(1 Raja-raja 10)
Negeri asal Ratu Syeba, perempuan yang berhasil menaklukkan hati Raja Salomo, tetapi dirinya sendiri dipesonakan oleh kebijaksanaan dan kekayaan sang raja. Meskipun tak ada yang bisa memastikan di mana Negeri Syeba ini, banyak ahli Alkitab menduga letaknya adalah di Yaman yang sekarang.

Zarfat, atau Sarfat(Obaja 1:20)
Batas utara Negeri Kanaan pada zaman nabi Obaja, di sinilah tinggal janda yang memberi makan Elia selama nabi nekat ini ada di pengasingan. Kota ini sudah tidak ada lagi, tetapi kita masih bisa melihat puing-puingnya saat kita bertamasya ke Sidon dan Tirus, di Lebanon. []

Monday, January 9, 2012

Suatu Hari Di Bukit Hermon

Suatu Hari Di Bukit Hermon


Malam belumlah larut namun suasana di Rumah Retreat Bukit Hermon - Tawangmangu yang hari ini dipakai untuk acara retreat mahasiswa Kristen dari FISIP UNS Solo terlihat sangat sepi. Hal ini dapat dimaklumi sebab acara yang telah berlangsung selama 2 hari ini memang menguras banyak tenaga. Akibatnya semua peserta malam ini lebih memilih tidur mengistirahatkan badan daripada bergadang.

Tapi benarkah semua telah tertidur? Eit tunggu dulu... Ada tiga mahluk hidup yang berlarian menuju kamar paviliun. Apa saja yang menghalangi, mereka terjang, kalau halangannya terlalu berat untuk diterjang ya dilompati, kalau gak bisa diterjang atau dilompati ya nyari jalan lain... yang penting lari... lari... lari... Kelihatan sekali mereka sedang dikejar alias melarikan diri dari sesuatu. Tapi apa ya?

"Gawat, gawat... wah bener-bener gawat, Met!"

Meity yang sedang duduk di depan kamar paviliun heran melihat Burwan, Irvan, dan Arief lari pontang-panting ketakutan, "Ada apa sih?"

"Ada di sana, Met..." jawab Arief sekenanya, "hegh... hegh... hegh..."
"Ada di sana apa?"
"Ada hegh... hegh... hegh... ada hegh... hegh... hegh..."
"Ada hegh... hegh... hegh... apaan?,"
"Ada hantu, Met,"
"Boooong!"

"Bentar, Met nanti kami ceritakan tapi sebelumnya biar kami bernafas dulu, OK?" pinta Burwan yang langsung ditanggapi dengan anggukan dan senyuman oleh Meity.

Tanpa babibu ketiga anak tersebut langsung sibuk mengatur nafasnya masing-masing hegh... hegh... hegh... meong (lho)

"Begini ceritanya," Irvan mulai bercerita setelah merasa irama nafasnya sudah mulai teratur, "tadi kami jalan-jalan ke depan terus melihat Sigit sedang duduk sendirian di depan. Ya kita samperin aja lalu kita ngobrol ngalor-ngidul, utara-selatan tanpa juntrungan. Nah pas asyik-asyiknya ngobrol, Sigit bilang eh kalo wajahku kayak gini cakep gak? Begitu aku liat wajahnya... tiba-tiba sudah berubah jadi tengkorak!"

Burwan ikut nimpali, "kupikir ah paling cuma topeng tapi waktu kulihat di mulai berdiri dan ternyata kakinya gak menyentuh tanah, ya udah kami sepakat untuk lari..."

"Eh, jangan-jangan dia ngejar kalian." goda Meity.

"Hush, jangan bilang gitu donk," protes Arief sambil mengarahkan pandangannya ke lorong menuju arah depan.

"Tadi kalian bilang hantu itu memakai wujud Sigit, ya?" Meity coba kembali menegaskan cerita teman-temannya. Mereka pun hanya menjawab dengan anggukan.

"Wah terjadi lagi, deh," ucap Meity singkat tanpa menunjukkan wajah kaget, takut atau cemas. Ekspresi wajah yang tentu saja mengundang tanda tanya besar bagi teman-temannya. Ada apa dibalik semuanya ini. Mengapa Meity berkata 'wah terjadi lagi' Apakah peristiwa ini sudah terjadi sebelumnya?

"Emangnya ada apa?" tanya Arief mewakili rasa penasaran teman-temannya, "dulu udah pernah kejadian kayak gini, ya?"

"Iya," jawab Meity singkat. Sejurus kemudian ia mulai bercerita bahwa beberapa tahun yang lalu ada peserta retreat yang meninggal karena kecelakaan. Waktu itu ia datang menyusul retreat. Tapi malangnya di tengah perjalanan ia ditabrak bis dan tewas seketika di tempat itu juga. Hal ini membuat arwahnya masih penasaran untuk mengikuti acara retreat. Akhirnya ia sering menemui siapa saja peserta retreat di Bukit Hermon ini dengan mengambil wujud peserta lain.

"Nah rupanya kali ini ia menampakkan diri kepada kalian dengan mengambil ujud Sigit"

"Hiii..." respon ketiga anak tersebut hampir bersamaan.

"Eh kalian harusnya bangga donk dijumpai arwah orang tersebut," canda Meity, "jarang-jarang lho ada yang bisa melihat penampakannya."

"Enak aja... amit-amit... dibayar berapapun gak sudi aku ngalaminya lagi!! " teriak Burwan.

Akibat teriakan Burwan tersebut, sebuah pintu kamar terbuka. Di depan pintu tersebut terdapat nama "Bambang", ketua panitia retreat. Memang ini adalah kamarnya Bambang, karena sesaat kemudia ia keluar dari kamar.

"Lho, kok kalian belum tidur?" tanya Bambang penasaran.

Tanpa basa-basi, ketiga anak tersebut secara bergantian menceritakan peristiwa yang baru saja mereka alami.

"Kalian masih percaya dengan arwah penasaran ya?!"
"Ya, jelas donk, soalnya tadi kami mengalami sendiri."
"Bagaimana kalian tahu kalau dia adalah arwah penasaran?"
"Kan ceritanya memang begitu, dia itu arwah orang yang meninggal sewaktu hendak pergi..."
"Kalian yakin cerita itu benar?", tanpa memberi kesempatan teman-temannya menjawab Bambang kembali bertanya, "bagaimana kalau yang muncul ke hadapan kalian tadi bukan arwah penasaran?"
"Lalu apa?" tanya Arief mewakili rasa penasaran teman-temannya.
"Setan," jawab Bambang, "setan yang mengambil wujud manusia dengan memanfaatkan peristiwa mengenaskan yang dulu pernah terjadi."

"Kenapa kamu bisa yakin bahwa dia adalah penjelmaan dari setan," kali ini Burwan yang bertanya
"Lho, tadi kan sudah dijelasin secara gamblang saat KKR," jawab Bambang

Ketiga anak tersebut saling berpandangan satu dengan yang lain sebelum akhirnya memberi pengakuan, "Kami tadi gak ikut KKR-nya, hihihihi..."

"Ah, kalian ini." Walaupun agak jengkel karena ada yang tidak menaati peraturan yaitu mengikuti semua acara retreat, Bambang tetap antusias menceritakan isi khotbah saat KKR tadi. Ia menceritakan bahwa dunia orang mati sudah berpisah dengan dunia orang hidup. Orang yang sudah mati tidak dapat lagi berhubungan dengan orang yang masih hidup dan sebaliknya. Ini dilukiskan dalam perumpamaan orang kaya dengan Lazarus. Bila ada orang yang kelihatan seperti orang mati bisa jadi ia adalah setan yang mengambil wujud orang yang sudah mati. Tujuannya tentu saja untuk melemahkan iman seseorang agar ia lebih takut kepada orang yang sudah mati dibandingkan takut kepada Allah.

Pembicaraan satu arah pun akhirnya berkembang menjadi diskusi yang cukup segar. Sesekali mereka bercanda namun isi dari pembicaraan tetap terjaga.

"Hei, kalo mo sharring pelanan dikit dunk?!" bentak Meity yang terganggu dengan suasana ramai diluar kamarnya.

Burwan, Irvan, dan Arief saling berpandangan. Mereka merasa Meity yang tadi duduk di sebelah kiri Burwan belum masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kanan Burwan. Sementara itu jalan satu-satunya masuk kamar ialah melalui pintu kamar tapi sejak mereka datang tadi pintu kamar tersebut sedikitpun belum bergerak.

"Lho, Met sejak kapan kamu masuk kamar? Bukankah tadi kamu masih ngobrol bersama kami?"

"Enak aja! Aku dah tidur sejak jam 9.00 tadi dan baru bangun karena mendengar suara berisik kalian!"

Spontan Burwan, Irvan, dan Arief menoleh ke tempat Meity duduk. Kosong! Ketiga anak tersebut saling berpandangan dan akhirnya sama-sama pingsan.

(Hardhono)

Sunday, January 8, 2012

SEKOLAH MINGGU - CERPEN


"Mira, gimana kalo ntar kita jalan"
"Boleh" sahut Mira sambil mengemasi buku-buku di meja perpustakaan
"Nanti aku jemput ya"
Mira bereaksi dengan tatapan manja sembari tersenyum.
Begitulah angan dalam benak Mira, berharap malam minggu ini malam yang menyenangkan setelah seminggu suntuk kuliah.
"Oh my God" ujar Mira sambil menepuk jidatnya setelah keluar dari perpustakaan seolah ada sesuatu yang terlupakan, "besok aku harus ngajar sekolah minggu bagaimana mungkin aku dengan nyaman bermalam mingguan nanti".

SEKOLAH MINGGU
Oleh Lukas Prasetya Efendy

Sesampainya di  rumah.
"Mir, tolong bantu mama, hari ini mama banyak kerjaan, piring didapur dari pagi belum di cuci dan pakaian dari kemaren mama belum sempat setrika" teriak mama dari balik tembok yang menyekat kamar Mira memberi instruksi.
"Iya Ma, nanti Mira kerjain"

Klutak, klutak srek, srek byur…
Mira dengan cekatan mengerjakan pekerjaannya itu. Tampak ia tenggelam dengan apa yang ia lakukan. Setelah dapur selesai, pakaian segunung menantinya.
"Selesai, selesai, cepet selesai" gumam Mira ingin segera menuntaskan pekerjaan yang ia kerjakan.
"akhinya selesai juga" ujar Mira lega
"Mir, Lexi udah nunggu di depan" teriak mama entah dari mana, yang kedengaran cuma suaranya doang.
"Iya Ma!! Suruh tunggu sebentar" tanggap Mira

Keesokan harinya... "Hari ini adalah hari pertama aku ngajar, mana semalam nggak persiapan, mungkin nanti aku hanya perkenalkan nama sebagai pertemuan awal" ujar Mira pesimis sembari melangkah meninggalkan rumah.
"Mir, nanti kamu ngajar kelas anak ya?" tanya Ibu Sarah, gembala sekolah minggu kasih instruksi.
"Tapi Bu..."
"Saya ngerti apa yang akan kamu ucapkan, kamu akan bisa ngerasa sendiri di kelas mana kamu cocok mengajar nanti, setelah kamu ngajar beberapa kali, baru kamu bisa dengan sendirinya menentukan dimana kamu ngajar" tambah Ibu Sarah.
Mira hanya bisa mengangguk saja mendengar penuturan pemimpinnya itu.
"Selamat melayani" ucap Ibu Sarah sembari menjabat tangan Mira dengan erat.

Mira memulai kelas barunya.
"Selamat pagi anak-anak"
"Selamat pagi kak" tanggap mereka  polos
"Kakak sangat senang bisa bertemu dengan ade-ade yang manis semua disini"
"Kakak mila tinggal dimana?" tanya Selvi salah seorang murid dengan dengan lidah cedalnya
"Kakak tinggal di jalan leli, kalo Selvi?"
“Selvi tinggal di gang petluk no 124 yang banyak lumah-lumah..." kalimat Selvi terpotong karena tiba-tiba terdengar teriakan dari sudut kelas, "Bu guru, Marco pukul saya, huahuahuahaaaaa...!!!!!!"
Mira segera ambil tindakan untuk menenangkan muridnya itu
"Cup cup, sudah Fabio nggak boleh nangis lagi ya. Marco, lain kali nggak boleh diulangi lagi ya… Nanti kakak bisa marah kalo ada murid yang bandel seperti ini" Mira mulai bereaksi
"Kakak Mira rambutnya panjang, bagus, kalo besar aku pengen seperti kakak Mira" ujar Tasya sambil membelai-belai ekor kuda Mira yang sedang menenangkan Fabio.
"Nggak boleh!!! Itu kakak Mila-ku, Tasya nggak boleh pegang-pegang kakak Mila-ku!!!!" teriak Selvi sambil berlari menuju Tasya, sementara itu Tasya menarik ekor kuda Mira, Mira pun terjerembab ke belakang, "tuh kan Tasya nakal, Tasya bikin jatuh kakak Mila-ku" tuduh Selvi
"Plak!!!!" Tasya mendaratkan sebuah pukulan refleks di wajah imut Selvi
"Huaaaaa, huaaaa!!!!!!!!!" Selvi menangis sekenceng-kencengnya.
Mira segera bangkit dari posisi jatuhnya, wajahnya memerah, menahan emosi, Mira memperhatikan satu persatu muridnya itu. Pandangannya sedikit terhenti ketika melihat salah satu dari muridnya yang berbeda dengan yang lain. Tampak ia tenang tidak seperti murid-murid lain.

Baru kali itu Mira pulang dari gereja dengan kondisi fisik yang letih lesu, tak bertenaga, "apa yang terjadi tadi, apakah ini yang dinamakan dunia anak, apakah dunia anak memusingkan seperti ini, sampai kapan aku seperti ini" berbagai gerutuan muncul dalam benak Mira, namun ia teringat dengan kata-kata ibu Sarah . "Ah mungkin baru awal dan lagian aku tidak ada persiapan, akan kuusahakan untuk lebih matang dalam persiapan"

Beberapa hari kemudian. "Tlilitt-lilit-tlilit" ponsel Mira berdering.
"Shaloom selamat siang"
"Selamat siang, Mir, ini Ibu Sarah. Ibu mau kasih sedikit info tentang salah seorang muridmu"
"Iya bu terimakasih banyak, anak yang mana ya?"
"Namanya Andre, beberapa bulan yang lalu papanya meninggal karena sakit keras, terus sekarang orang tua yang tersisa hanya ibunya semata wayang, tapi sampai sekarang ibunya masih terbaring di rumah sakit karena kanker rahim"
"Lalu siapa yang merawat Andre sekarang?"
"Sementara yang merawat andre sih Pamannya, itupun kurang diperhatikan, karena Pamannya hanya seorang tukang becak yang harus bekerja untuk menghidupi orangtua dan harus membiayai pengobatan ibu Andre". Mira terkejut mendengar penuturan Ibu Sarah.

Beberapa jam kemudian, Mira dan Ibu Ssarah tiba di rumah sakit, sungguh pemandangan yang mengharukan, seorang bocah dengan wajah yang belepotan, hanya mengenakan celana monyet  tanpa mengenakan baju atau kaos menangisi ibunya yang terbaring lemah di ranjang pasien. Tak terasa Mira menitikkan air matanya. Andre terus menangis berharap ibunya lekas sembuh

Sepulang dari rumah sakit, Mira bagaikan patung hidup di dalam kamar, pikirannya jauh melayang memikirkan  Andre, "Apa yang harus ia makan ketika pamannya yang hanya seorang tukang becak berpenghasilan sangat minim belum mendapatkan sesuap nasi? Apa yang terjadi kalau aku dan Ibu Sarah nggak datang memberinya pakaian untuk dipakai, apa dia nggak masuk angin?"  pikirannya melayang, melayang dan terus melayang sementara jiwanya merasakan kepedihan yang dialami  Andre sebagai  bocah 5 tahun yang harus menghadapi problem seperti itu. Mira memejamkan matanya tak kuasa merasakan kepedihan itu, kelopak matanya yang tertutup itu membuat air mata jatuh membasahi pipinya.

Hari-hari dalam minggu itu pun berlalu seiring dengan berjalannya waktu, seperti biasa, hari Sabtu ia habiskan siang dengan diskusi kelompok untuk praktikum yang akan dijalani minggu depan, dan seperti biasa juga pada akhir diskusi Lexi menawarkan untuk berakhir pekan bareng.

Tapi kali itu Mira menolak. "Kenapa Mir?" tanya Lexi dengan gelagat penuh selidik.
"Aku besok harus ngajar sekolah minggu"
"Hah!!! Sejak kapan kamu jadi guru sekolah minggu?"
"Emang kenapa?"
"Nggak, ga papa kok cuma kaget aja ternyata seorang yang biasanya kutu laboratorium bisa jadi guru sekolah minggu, aku salut ma kamu Mir, met melayani sukses selalu," ucap Lexi
"Thanks ya, Lex"

Minggu pagi yang cerah pun tiba dengan segala kesejukannya . Mira melangkahkan kaki dengan penuh kemantapan. "Aku rasa kali ini akan lebih baik" ujar Mira meyakinkan.

Mira memulai kelasnya. "Selamat pagi ade-ade yang manis "
"Selamat pagi kakak" jawab mereka serempak.
"Pagi ini kakak akan bercerita tentang seekor ayam yang mati karena melindungi  anak-anaknya" Mira memulai ceritanya, namun tak semudah apa yang ia pikirkan, murid-murid tidak ada yang memperhatikannya, Mira seperti mesin robot yang disetel tanpa ada yang melihat.
Si kaleb perputar-putar kian kemari, berlagak seperti power ranger, "kawan-kawan saatnya berubah, chiaattt" serunya seolah-olah dia power ranger betulan. Si Marco sejak tadi memandangi pensil yang dipegang diatas kepalanya, matanya tak berkedip sedikit pun memandangi pensil yang dipegang melebihi kepalanya, Marco bagai patung hidup di kelas itu. Si  Fabio dengan jahilnya kesana kemari menjahili Tasya dan Selvi, tapi Tasya dan Selvi tampak tidak terganggu dengan kejahilan si Fabio, mereka asyik ngobrol seperti orang dewasa. Menyaksikan itu Mira jadi pusing tujuh keliling, refleks ia mengetukkan kotak pensil yang ia bawa pada meja belajarnya,"Kaleb, bisa diam nggak? Kalo nggak bisa diam kakak keluar dari kelas" bentak Mira.
"Tapi kak, Kaleb kan power rangerharus membasmi ketidakadilan di muka bumi" jawab Kaleb dengan polos, Mira pusing mendengar jawaban anak usia 5 tahun itu.
"Fabio, kakak bisa marah kalo kamu selalu ngganggu teman" tegur Mira, Fabio hanya cengengesan mendengar teguran Mira yang semakin pusing, dalam hati Mira ingin berteriak sekuat tenaga namun ia tahan, Mira beralih pada Selvi dan Tasya, "Selvi, Tasya apa yang kamu lakukan? Kakak masih ada di     depan kelas kalian malah ngobrol sendiri".
"Kakak kita sedang main pasar-pasaran, saya yang beli, Selvi yang jual" ujar Tasya, seolah tidak bersalah, Mira semakin geram dengan tingkah  mereka, amarahnya semakin tak tertahankan lagi.
"Marco, kenapa kamu sejak tadi memandangi pensil yang kamu pegang? Apa kamu tidak lihat kakak ada disini?" Mendengar itu Marco memalingkan wajah inocence pada Mira, "Kakak ini adalah apolo yang Marco bawa ke luar angkasa, ini bukan pensil, ini adalah apolo yang akan mendarat di bulan"
"Grrrrrrrrrr" Mira semakin geram, sebelum mengakhiri kelasnya dengan doa ia memandang seluruh muridnya, pandangannya terhenti sejenak oleh Ian yang sejak tadi hanya diam.

Ternyata siang itu sama dengan minggu lalu, bahkan kali ini Mira lebih parah kelelahan. Sesampainya di rumah Mira hanya diam memahami apa sebenarnya yang dipikirkan oleh bocah-bocah lima tahun itu.
Sampai matahari terbenam, Mira masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi, hingga ia terlelap dalam ketidakmengertiannya.

"Mira" terdengaar ada suara yang memanggil
"Iya, siapa ya?" jawab Mira
"Ini Aku yang mengutus kamu"
Mira tercengang mendengar kata itu, ia berusaha mendapati asal suara  itu namun  yang ia dapati hanya hamparan bunga dan rumput yang luas, anak-anak berlarian kesana kemari sambil tertawa bahagia
"Mira, selamat datang di dunia anak" terdengar suara itu lagi, Mira masih tak mengerti
"Mira, Aku tahu kamu pusing menghadapi anak-anak yang memang membuat kamu pusing"
"Lalu kenapa Engkau membuat orang dewasa pusing kewalahan menghadapi mereka?"
"Hahahaha, Mira, pertanyaanmu lucu tapi memang jawaban itu yang Kutunggu-tunggu, kenapa Aku   membuat orang dewasa pusing menghadapi bocah-bocah itu? Supaya kalian orang-orang dewasa tahu betapa susahnya Aku menangani kalian, asal kamu tau, Aku  menghadapi kalian dengan sangat ekstra seperti kamu menghadapi anak-anak 5 tahun yang susah mengerti bahasa orang dewasa" Mira  terdiam mendengar jawaban seperti itu
"Mira..." terdengar lagi suara itu, "Apa kamu pikir Aku akan menghancurkan media televisi dan penyebab lain bobroknya fenomena anak dunia ini?" Lagi lagi Mira hanya terdiam.
"Itu lucu Mira dan Aku tidak akan menghancurkan manusia seperti jaman Nuh. Mira, selamat melayani anak-anakKu, tangani mereka dengan ekstra hati-hati, mereka seperti porselen indah yang mudah  pecah". Itu adalah suara yang terakhir. Tak ter dengar lagi suara itu. Mira hendak melangkahkan kakinya namun tersandung sesuatu, sebuah bungkusan.

Mira membuka  bungkusan yang menghalangi kakinya itu, sementara suara anak-anak yang  berlarian  kesana kemari dengan tawa riang terdengar riuh di taman itu. Bungkusan itu  berisikan tisu, tusuk gigi, kawat tembaga, permen  polo, permen mentos, dan coklat. Ada secarik kertas di bawah bertuliskan:

Mira selamat melayani… 
Aku berikan tisu ini untuk menghapus air mata muridmu ketika mereka sedih. Ubah kesedihan mereka menjadi sukacita, hapus air mata mereka dengan tisu itu atau air matamu juga ketika kamu menghadapi mereka.
Aku berikan tusuk gigi untuk kamu pakai mengorek kesalahan mereka. Tapi ingatlah untuk selalu mengorek dengan kasih
Aku berikan kawat tembaga untuk mengingatkan bahwa kamu adalah seorang mediator anak-anak kepadaKu
Aku berikan permen polo supaya kamu selalu ingat pelampung penyelamatKu selalu tersedia buatmu  ketika kamu mengalami kesusahan
Aku berikan permen mentos untuk mengingatkan kamu bahwa Aku selalu melihat pelayananmu
Aku berikan coklat sebagai hadiah untukmu, Aku tau kamu suka coklat dan Aku berikan ini sebagai hadiah untukmu sebab Aku menghargai pelayananmu
Dari: Bapa mu di sorga "J Christ"

Mira terbangun dari tidurnya, sejenak ia terdiam kemudian ia tersenyum dan berkata dengan lirih, "Terimakasih Tuhan".
(LP)

Kiriman lukas prasetya efendy