Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Friday, March 9, 2012

MELAYANI SAUDARA KITA di JALANAN.


MELAYANI SAUDARA KITA di JALANAN.

Sejak krismon terjadi di negara kita, jumlah anak-anak jalanan meningkat sangat drastis, terutama kerasa banget di perempatan-perempatan jalan di kota-kota besar. Makin banyak aja saudara kita yang terpaksa harus hidup di jalanan buat mencari sesuap nasi bagi keluarga mereka. Kerasnya hidup yang harus mereka hadapi mungkin lebih daripada apa yang kita kebanyakan harus hadapi, belum lagi banyak dari mereka yang sudah tidak memiliki keluarga yang jelas. Ada beberapa dari teman kita yang mendapat beban dari Tuhan dan memutuskan untuk menjawab panggilan Tuhan itu, untuk melayani saudara kita yang harus hidup di jalanan itu. Mereka melayani dengan berbagai cara dan bentuk, ada yang melayani dengan membentuk yayasan tertentu, ada juga yang melayani secara perorangan maupun kelompok yang tidak terlalu terorganisir, yang penting bagi mereka adalah membagi kasih bagi orang-orang yang dianggap tidak seberuntung kebanyakan orang ini. Dari merekalah kita belajar seperti apa masyarakat yang harus tinggal di jalanan ini, dan bagaimana cara mereka melayani.

Hidup di jalanan berarti harus siap untuk menghadapi ancaman setiap saat, karena ternyata di antara mereka sendiri terdapat persaingan yang membuat mereka sering harus saling menjatuhkan satu sama lain. Tanpa terasa mereka terbentuk menjadi suatu ‘generasi tanpa ayah’ yang kepahitan, yang mengalami banyak penderitaan dan kekecewaan, mereka dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya karena kerasnya hidup yang mereka alami. Mereka menjadi sekelompok masyarakat yang tertutup dan sulit didekati karena mereka tidak percaya bahwa ada orang yang dapat mengasihi mereka dengan tulus, hal ini membuat mereka semakin tersisih dari kehidupan masyarakat pada umumnya.

Teman-teman kita memutuskan untuk melayani anak-anak jalanan adalah karena kasih, ada juga yang tergerak karena setiap hari melihat begitu banyak orang yang hidup dalam kekurangan di hampir setiap stopan di kota-kota besar. Mereka ingin membagikan sedikit dari kasih dan berkat yang sudah mereka terima, mereka ingin melihat keselamatan dan pemulihan dari Tuhan dicurahkan juga di jalanan. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa tadinya mereka seringkali gampang mengeluh, gampang kecewa karena masalah yang mereka hadapi, tapi sejak mereka melihat kehidupan masyarakat jalanan ini dengan segala masalahnya, mereka jadi makin gampang untuk ngucap syukur atas kebaikan Tuhan. Sementara kegiatan pelayanan mereka bermacam-macam, dari mulai menjalin hubungan, membagikan nasi bungkus, mengajarkan keterampilan, ada juga yang melayani dengan membentuk persekutuan khusus bagi anak jalanan, dan masih banyak lagi. 

Kebanyakan anak yang ada di jalanan sudah nggak sekolah lagi karena masalah biaya. Sementara sebagian kecil ada yang masih bisa sekolah, tapi setiap pulang sekolah mereka harus ngamen sampe malem buat bantu ortu mereka. Kalo ngamen sebagian hasilnya harus mereka setor ke ‘pelindung’ mereka yang biasanya menguasai area tertentu, dan kalo setoran mereka kurang... wah! mereka bisa digebukin, kasian ya? ‘Pelindung-pelindung’ ini juga yang sering nggak seneng kalo ngeliat anak buahnya dilayanin sama hamba-hamba Tuhan, mereka takut penghasilan mereka terganggu.

Selain itu kesulitan yang dihadapi untuk melayani mereka adalah waktu dan tempat untuk menemui mereka, karena harus ngejar setoran maka waktu mereka terbatas. Begitu banyaknya masalah dan ketidakadilan yang mereka alami membuat mereka jadi sulit untuk didekati, mereka selalu melihat orang lain dengan curiga, karena belum pernah ada orang yang mau mengasihi mereka apa adanya dengan tulus. Hal-hal ini menimbulkan adanya batas-batas psikologis yang menghalangi pendekatan yang bisa kita lakukan, karena itu untuk melayani mereka dasarnya harus benar-benar kasih. Tanpa kasih kita nggak mungkin sabar buat melayani mereka, apalagi kalo kita buru-buru pengen ngeliat hasilnya, wah.. bisa frustasi lho.

Gimana sih bisa mulai melayani mereka? Berikut ini adalah saran dari Imelda, seorang anak muda yang terbeban buat melayani anak jalanan: ‘Untuk bisa mendekati mereka tentunya penampilan kita harus bisa bersahaja walau nggak usah dibuat-buat, jangan terlalu cepat menuntut mereka untuk berubah, jangan banyak janji ntar kita susah sendiri, jangan juga terlalu banyak nanya seperti interogasi, yang penting bangun hubungan dan tabur kebaikan. Tapi hati-hati, kebanyakan dari mereka mentalnya udah kebentuk buat minta-minta, karena itu jangan sampe kita terjebak dalam kasih yang nggak ngedidik’.
Kalo menurut Pdt.Frengky Utana yang paling penting adalah kasih. ‘Jangan terlalu mengejar hasil tertentu, karena kalau kita menetapkan hasil tertentu, lalu ternyata banyak kesulitan yang kita hadapi, maka kita akan menjadi kecewa dan putus asa. Tapi kalau dasar pelayanan kita adalah kasih, walau seakan-akan belum ada hasilnya kita akan tetap bersemangat untuk melayani mereka’.

Iin Wenas dalam VCD yang dikeluarkan oleh yayasan yang mereka dirikan mengatakan bahwa Tuhan mengasihi anak-anak jalanan, sekali pun banyak orang mengaggap mereka sebagai sampah masyarakat. Karena itu kita juga perlu untuk melayani mereka supaya kasih Tuhan bisa mereka terima’.

‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.’MAT 25:40
Ada yang terbeban buat mereka?(And)



Copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com

Sunday, January 8, 2012

SEKOLAH MINGGU - CERPEN


"Mira, gimana kalo ntar kita jalan"
"Boleh" sahut Mira sambil mengemasi buku-buku di meja perpustakaan
"Nanti aku jemput ya"
Mira bereaksi dengan tatapan manja sembari tersenyum.
Begitulah angan dalam benak Mira, berharap malam minggu ini malam yang menyenangkan setelah seminggu suntuk kuliah.
"Oh my God" ujar Mira sambil menepuk jidatnya setelah keluar dari perpustakaan seolah ada sesuatu yang terlupakan, "besok aku harus ngajar sekolah minggu bagaimana mungkin aku dengan nyaman bermalam mingguan nanti".

SEKOLAH MINGGU
Oleh Lukas Prasetya Efendy

Sesampainya di  rumah.
"Mir, tolong bantu mama, hari ini mama banyak kerjaan, piring didapur dari pagi belum di cuci dan pakaian dari kemaren mama belum sempat setrika" teriak mama dari balik tembok yang menyekat kamar Mira memberi instruksi.
"Iya Ma, nanti Mira kerjain"

Klutak, klutak srek, srek byur…
Mira dengan cekatan mengerjakan pekerjaannya itu. Tampak ia tenggelam dengan apa yang ia lakukan. Setelah dapur selesai, pakaian segunung menantinya.
"Selesai, selesai, cepet selesai" gumam Mira ingin segera menuntaskan pekerjaan yang ia kerjakan.
"akhinya selesai juga" ujar Mira lega
"Mir, Lexi udah nunggu di depan" teriak mama entah dari mana, yang kedengaran cuma suaranya doang.
"Iya Ma!! Suruh tunggu sebentar" tanggap Mira

Keesokan harinya... "Hari ini adalah hari pertama aku ngajar, mana semalam nggak persiapan, mungkin nanti aku hanya perkenalkan nama sebagai pertemuan awal" ujar Mira pesimis sembari melangkah meninggalkan rumah.
"Mir, nanti kamu ngajar kelas anak ya?" tanya Ibu Sarah, gembala sekolah minggu kasih instruksi.
"Tapi Bu..."
"Saya ngerti apa yang akan kamu ucapkan, kamu akan bisa ngerasa sendiri di kelas mana kamu cocok mengajar nanti, setelah kamu ngajar beberapa kali, baru kamu bisa dengan sendirinya menentukan dimana kamu ngajar" tambah Ibu Sarah.
Mira hanya bisa mengangguk saja mendengar penuturan pemimpinnya itu.
"Selamat melayani" ucap Ibu Sarah sembari menjabat tangan Mira dengan erat.

Mira memulai kelas barunya.
"Selamat pagi anak-anak"
"Selamat pagi kak" tanggap mereka  polos
"Kakak sangat senang bisa bertemu dengan ade-ade yang manis semua disini"
"Kakak mila tinggal dimana?" tanya Selvi salah seorang murid dengan dengan lidah cedalnya
"Kakak tinggal di jalan leli, kalo Selvi?"
“Selvi tinggal di gang petluk no 124 yang banyak lumah-lumah..." kalimat Selvi terpotong karena tiba-tiba terdengar teriakan dari sudut kelas, "Bu guru, Marco pukul saya, huahuahuahaaaaa...!!!!!!"
Mira segera ambil tindakan untuk menenangkan muridnya itu
"Cup cup, sudah Fabio nggak boleh nangis lagi ya. Marco, lain kali nggak boleh diulangi lagi ya… Nanti kakak bisa marah kalo ada murid yang bandel seperti ini" Mira mulai bereaksi
"Kakak Mira rambutnya panjang, bagus, kalo besar aku pengen seperti kakak Mira" ujar Tasya sambil membelai-belai ekor kuda Mira yang sedang menenangkan Fabio.
"Nggak boleh!!! Itu kakak Mila-ku, Tasya nggak boleh pegang-pegang kakak Mila-ku!!!!" teriak Selvi sambil berlari menuju Tasya, sementara itu Tasya menarik ekor kuda Mira, Mira pun terjerembab ke belakang, "tuh kan Tasya nakal, Tasya bikin jatuh kakak Mila-ku" tuduh Selvi
"Plak!!!!" Tasya mendaratkan sebuah pukulan refleks di wajah imut Selvi
"Huaaaaa, huaaaa!!!!!!!!!" Selvi menangis sekenceng-kencengnya.
Mira segera bangkit dari posisi jatuhnya, wajahnya memerah, menahan emosi, Mira memperhatikan satu persatu muridnya itu. Pandangannya sedikit terhenti ketika melihat salah satu dari muridnya yang berbeda dengan yang lain. Tampak ia tenang tidak seperti murid-murid lain.

Baru kali itu Mira pulang dari gereja dengan kondisi fisik yang letih lesu, tak bertenaga, "apa yang terjadi tadi, apakah ini yang dinamakan dunia anak, apakah dunia anak memusingkan seperti ini, sampai kapan aku seperti ini" berbagai gerutuan muncul dalam benak Mira, namun ia teringat dengan kata-kata ibu Sarah . "Ah mungkin baru awal dan lagian aku tidak ada persiapan, akan kuusahakan untuk lebih matang dalam persiapan"

Beberapa hari kemudian. "Tlilitt-lilit-tlilit" ponsel Mira berdering.
"Shaloom selamat siang"
"Selamat siang, Mir, ini Ibu Sarah. Ibu mau kasih sedikit info tentang salah seorang muridmu"
"Iya bu terimakasih banyak, anak yang mana ya?"
"Namanya Andre, beberapa bulan yang lalu papanya meninggal karena sakit keras, terus sekarang orang tua yang tersisa hanya ibunya semata wayang, tapi sampai sekarang ibunya masih terbaring di rumah sakit karena kanker rahim"
"Lalu siapa yang merawat Andre sekarang?"
"Sementara yang merawat andre sih Pamannya, itupun kurang diperhatikan, karena Pamannya hanya seorang tukang becak yang harus bekerja untuk menghidupi orangtua dan harus membiayai pengobatan ibu Andre". Mira terkejut mendengar penuturan Ibu Sarah.

Beberapa jam kemudian, Mira dan Ibu Ssarah tiba di rumah sakit, sungguh pemandangan yang mengharukan, seorang bocah dengan wajah yang belepotan, hanya mengenakan celana monyet  tanpa mengenakan baju atau kaos menangisi ibunya yang terbaring lemah di ranjang pasien. Tak terasa Mira menitikkan air matanya. Andre terus menangis berharap ibunya lekas sembuh

Sepulang dari rumah sakit, Mira bagaikan patung hidup di dalam kamar, pikirannya jauh melayang memikirkan  Andre, "Apa yang harus ia makan ketika pamannya yang hanya seorang tukang becak berpenghasilan sangat minim belum mendapatkan sesuap nasi? Apa yang terjadi kalau aku dan Ibu Sarah nggak datang memberinya pakaian untuk dipakai, apa dia nggak masuk angin?"  pikirannya melayang, melayang dan terus melayang sementara jiwanya merasakan kepedihan yang dialami  Andre sebagai  bocah 5 tahun yang harus menghadapi problem seperti itu. Mira memejamkan matanya tak kuasa merasakan kepedihan itu, kelopak matanya yang tertutup itu membuat air mata jatuh membasahi pipinya.

Hari-hari dalam minggu itu pun berlalu seiring dengan berjalannya waktu, seperti biasa, hari Sabtu ia habiskan siang dengan diskusi kelompok untuk praktikum yang akan dijalani minggu depan, dan seperti biasa juga pada akhir diskusi Lexi menawarkan untuk berakhir pekan bareng.

Tapi kali itu Mira menolak. "Kenapa Mir?" tanya Lexi dengan gelagat penuh selidik.
"Aku besok harus ngajar sekolah minggu"
"Hah!!! Sejak kapan kamu jadi guru sekolah minggu?"
"Emang kenapa?"
"Nggak, ga papa kok cuma kaget aja ternyata seorang yang biasanya kutu laboratorium bisa jadi guru sekolah minggu, aku salut ma kamu Mir, met melayani sukses selalu," ucap Lexi
"Thanks ya, Lex"

Minggu pagi yang cerah pun tiba dengan segala kesejukannya . Mira melangkahkan kaki dengan penuh kemantapan. "Aku rasa kali ini akan lebih baik" ujar Mira meyakinkan.

Mira memulai kelasnya. "Selamat pagi ade-ade yang manis "
"Selamat pagi kakak" jawab mereka serempak.
"Pagi ini kakak akan bercerita tentang seekor ayam yang mati karena melindungi  anak-anaknya" Mira memulai ceritanya, namun tak semudah apa yang ia pikirkan, murid-murid tidak ada yang memperhatikannya, Mira seperti mesin robot yang disetel tanpa ada yang melihat.
Si kaleb perputar-putar kian kemari, berlagak seperti power ranger, "kawan-kawan saatnya berubah, chiaattt" serunya seolah-olah dia power ranger betulan. Si Marco sejak tadi memandangi pensil yang dipegang diatas kepalanya, matanya tak berkedip sedikit pun memandangi pensil yang dipegang melebihi kepalanya, Marco bagai patung hidup di kelas itu. Si  Fabio dengan jahilnya kesana kemari menjahili Tasya dan Selvi, tapi Tasya dan Selvi tampak tidak terganggu dengan kejahilan si Fabio, mereka asyik ngobrol seperti orang dewasa. Menyaksikan itu Mira jadi pusing tujuh keliling, refleks ia mengetukkan kotak pensil yang ia bawa pada meja belajarnya,"Kaleb, bisa diam nggak? Kalo nggak bisa diam kakak keluar dari kelas" bentak Mira.
"Tapi kak, Kaleb kan power rangerharus membasmi ketidakadilan di muka bumi" jawab Kaleb dengan polos, Mira pusing mendengar jawaban anak usia 5 tahun itu.
"Fabio, kakak bisa marah kalo kamu selalu ngganggu teman" tegur Mira, Fabio hanya cengengesan mendengar teguran Mira yang semakin pusing, dalam hati Mira ingin berteriak sekuat tenaga namun ia tahan, Mira beralih pada Selvi dan Tasya, "Selvi, Tasya apa yang kamu lakukan? Kakak masih ada di     depan kelas kalian malah ngobrol sendiri".
"Kakak kita sedang main pasar-pasaran, saya yang beli, Selvi yang jual" ujar Tasya, seolah tidak bersalah, Mira semakin geram dengan tingkah  mereka, amarahnya semakin tak tertahankan lagi.
"Marco, kenapa kamu sejak tadi memandangi pensil yang kamu pegang? Apa kamu tidak lihat kakak ada disini?" Mendengar itu Marco memalingkan wajah inocence pada Mira, "Kakak ini adalah apolo yang Marco bawa ke luar angkasa, ini bukan pensil, ini adalah apolo yang akan mendarat di bulan"
"Grrrrrrrrrr" Mira semakin geram, sebelum mengakhiri kelasnya dengan doa ia memandang seluruh muridnya, pandangannya terhenti sejenak oleh Ian yang sejak tadi hanya diam.

Ternyata siang itu sama dengan minggu lalu, bahkan kali ini Mira lebih parah kelelahan. Sesampainya di rumah Mira hanya diam memahami apa sebenarnya yang dipikirkan oleh bocah-bocah lima tahun itu.
Sampai matahari terbenam, Mira masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi, hingga ia terlelap dalam ketidakmengertiannya.

"Mira" terdengaar ada suara yang memanggil
"Iya, siapa ya?" jawab Mira
"Ini Aku yang mengutus kamu"
Mira tercengang mendengar kata itu, ia berusaha mendapati asal suara  itu namun  yang ia dapati hanya hamparan bunga dan rumput yang luas, anak-anak berlarian kesana kemari sambil tertawa bahagia
"Mira, selamat datang di dunia anak" terdengar suara itu lagi, Mira masih tak mengerti
"Mira, Aku tahu kamu pusing menghadapi anak-anak yang memang membuat kamu pusing"
"Lalu kenapa Engkau membuat orang dewasa pusing kewalahan menghadapi mereka?"
"Hahahaha, Mira, pertanyaanmu lucu tapi memang jawaban itu yang Kutunggu-tunggu, kenapa Aku   membuat orang dewasa pusing menghadapi bocah-bocah itu? Supaya kalian orang-orang dewasa tahu betapa susahnya Aku menangani kalian, asal kamu tau, Aku  menghadapi kalian dengan sangat ekstra seperti kamu menghadapi anak-anak 5 tahun yang susah mengerti bahasa orang dewasa" Mira  terdiam mendengar jawaban seperti itu
"Mira..." terdengar lagi suara itu, "Apa kamu pikir Aku akan menghancurkan media televisi dan penyebab lain bobroknya fenomena anak dunia ini?" Lagi lagi Mira hanya terdiam.
"Itu lucu Mira dan Aku tidak akan menghancurkan manusia seperti jaman Nuh. Mira, selamat melayani anak-anakKu, tangani mereka dengan ekstra hati-hati, mereka seperti porselen indah yang mudah  pecah". Itu adalah suara yang terakhir. Tak ter dengar lagi suara itu. Mira hendak melangkahkan kakinya namun tersandung sesuatu, sebuah bungkusan.

Mira membuka  bungkusan yang menghalangi kakinya itu, sementara suara anak-anak yang  berlarian  kesana kemari dengan tawa riang terdengar riuh di taman itu. Bungkusan itu  berisikan tisu, tusuk gigi, kawat tembaga, permen  polo, permen mentos, dan coklat. Ada secarik kertas di bawah bertuliskan:

Mira selamat melayani… 
Aku berikan tisu ini untuk menghapus air mata muridmu ketika mereka sedih. Ubah kesedihan mereka menjadi sukacita, hapus air mata mereka dengan tisu itu atau air matamu juga ketika kamu menghadapi mereka.
Aku berikan tusuk gigi untuk kamu pakai mengorek kesalahan mereka. Tapi ingatlah untuk selalu mengorek dengan kasih
Aku berikan kawat tembaga untuk mengingatkan bahwa kamu adalah seorang mediator anak-anak kepadaKu
Aku berikan permen polo supaya kamu selalu ingat pelampung penyelamatKu selalu tersedia buatmu  ketika kamu mengalami kesusahan
Aku berikan permen mentos untuk mengingatkan kamu bahwa Aku selalu melihat pelayananmu
Aku berikan coklat sebagai hadiah untukmu, Aku tau kamu suka coklat dan Aku berikan ini sebagai hadiah untukmu sebab Aku menghargai pelayananmu
Dari: Bapa mu di sorga "J Christ"

Mira terbangun dari tidurnya, sejenak ia terdiam kemudian ia tersenyum dan berkata dengan lirih, "Terimakasih Tuhan".
(LP)

Kiriman lukas prasetya efendy

Tuesday, June 29, 2010

ENAKNYA JADI ANAK SELEB

ENAKNYA JADI ANAK SELEB

Jadi anak seleb? Siapa yang gak mau. Ngebayanginnya aja sudah ngiler. Punya ortu popular, kaya, hidup rasanya mudah. Tapi siap-siap aja kalo namamu jadi aneh!

Audio Science (anak dari Shannyn Sossamon)

Apple (anak dari Gwyneth Paltrow)

Atlanta (anak dari John Taylor Duran Duran)

Alchamy (anak dari Jane Pollack)

Bamboo (anak dari Big Boi Outkast)

Banjo (anak dari Rachel Griffiths)

Blue Angel (anak dari The Edge U2)

Bow-Ty (anak dari 50 Cent)

Cairo (anak dari Beverly Peele)

Camera (anak dari Author Ashe)

Dusti Raine (anak dari Robert Van Winkle Vanilla Ice)
Moon Unit dan Diva Muffin (anak dari Frank Zappa)
Essenz Astral anak dari Michael Schenker and Bella Piper)

Fire (anak dari Steve Vai)

Free (anak dari  David Carradine)

Freedom (anak dari Steve Miller)

God’iss Love Stone (anak dari Lil’ Mo)

Heavenly Hiranna Tiger Lily (anak dari Michael Hutchence)

Homer James Jigme (anak dari Richard Gere)

Hopper (anak dari Sean Penn)

Indio (anak dari Robert Downey Jr.)

Jazz Domino (anak dari Joe Strummer)

Kal-el (anak dari Nicholas Cage)
London (anak dari Slash)

Lark Song (anak dari Mia Farrow)

Messiah Ya’majesty (anak dari T.I. the rapper)
Moxie Crimefighter (anak dari Penn Gillette)

Million (anak dari Mystikal No Limit)

Navy (anak dari Nivea and Terius Nash)

Peaches Honeyblossom (anak dari Bob Geldoff)

Pilot Inspektor  (anak dari Jason Lee)
Pirate (anak dari Jonathan Davis Korn)

Puma (anak dari Erykah Badu)

Racer, Rebel dan Rocket (anak dari Robert Rodriguez)

Sage Moonblood (anak dari Sylvester Stallone)

Seven Sirius (anak dari Andre Benjamin)

Starlite Melody (anak dari Marisa Berenson)

Sailor Lee (anak dari Christie Brinkley)
Storm (anak dari Nikki Sixx)

True (anak dari Forest Whitaker)

Tu (anak dari Rob Morrow)
Venetia Ember (anak dari Don Everly)

Waker (anak dari Mike House)

Whizdom (anak dari Jayson Williams)

Box of life

Kadang, saking keselnya kita sama ortu, kita suka berkhayal dilahirkan di keluarga yang lain. Punya ortu seperti keinginan kita, punya keluarga yang seperti bayangan kita. Mungkin kita berharap jadi anak orang ngetop, ternyata belum tentu asik juga. Hahaha..ternyata mereka lebih aneh dari ortu kita!! Sebab gak ada yang hidup tanpa masalah.  Hopefully ini bisa ngurangin BT kamu.

CELEB’S SWEET KIDS

“Just walked into the biggest house I have ever seen in my life… Mom I’m gonna get u that house someday i promise.. but dont expect this.” - Justin Bieber tweeting to his mom

“I just wanted to say, ever since I was born, Daddy has been the best father you could ever imagine. I just wanted to say I love him so much.” -Paris Jackson talking about her dad, Michael Jackson, at his memorial service.

PARENTS FACT

Orang tua dan anak. Kisah yang akan berlanjut terus, kecuali manusia memutuskan untuk punah. Taukah kamu, fakta-fakta tentang orang tua dan anak di dunia?

TAUKAH…

24 Juta anak di Amrik hidup tanpa ayah kandungnya.

1 juta anak di Amrik punya ayah yang mendekam di penjara.

Orang yang ortunya tak pernah cerai mengaku lebih puas dalam hidup dibanding yang ortunya bercerai

Bayi sering terlihat sedang tersenyum saat di USG, tapi jarang sekali tersenyum selama sekitar 1 bulan setelah kelahiran.

Bayi yang baru lahir mengenali ibunya melalui suara yang didengarnya, sekitar 14 hari kemudian baru belajar mengenali suara ayahnya.

Menurut survey, anak perempuan yang dilahirkan waktu ibunya masih muda/remaja, 80% akan menjadi ibu muda juga.

THE MOVIE PARENT AWARD

THE MOVIE PARENT AWARD

Hollywood seringkali mengangkat soal hubungan ortu dan anak. Ada yang patut dicontoh, ada pula yang ditonton juga mending gak usah. Ada ortu yang sayang anak, adapula ortu kejam yang mengabaikan anaknya. Kalo ada piala buat karakter ortu dalam film, mana pilihanmu?

The nominee are:



Sarah Connor (Terminator: The Sarah Connor Chronicles)

Sexy, tangguh, tahan banting, dan tak kenal menyerah membantai robot-robot Terminator jahat, tujuannnya satu: agar anaknya selamat.

Helen Parr AKA Elastigirl (The Incredibles)

Mengesampingkan keinginannya untuk menjadi pahlawan super agar keluarganya aman, tetapi kemudian juga ia menggunakan kekuatan supernya ketika ia harus menyelamatkan suami dan tiga anaknya.

Bryan Mills (Taken)

"I will look for you, I will find you, and I will kill you." Itu ancaman darinya bagi yang macam-macam dengan anak perempuannya.

Shrek (Shrek The Third, 2007)

Makhluk Ogre ini lebih tertarik mencari Arthur agar ia bias lepas dari tanggung jawabbya menjadi raja daripada mengurus anak-anaknya.

Darth Vader (The Empire Strikes Back, 1980)

Kayaknya ia mungkin ayah paling keren, punya armada perang galaksi, jutaan pasukan cloning dan kostum dengan perangkat suara serem. Tapi dalam menghadapi anak (Luke Skywalker), ia menyiksa teman-temannya agar Luke jatuh dalam perangkapnya. Dan ketika Luke menolak tawarannya untuk jadi pengganti ayahnya, ia malah memotong tangan anaknya.

Dora’s Mom (Dora The Explorer)

Oke deh dia membebaskan anaknya untuk belajar. Tapi membiarkan anak umur 6 tahun berkeliaran hanya ditemani seekor monyet di hutan liar dan sungai penuh buaya?



Jonathan Kent (Smallville)

Tanpa Jonathan Kent, Superman mungkin akan jadi Lex Luthor. Karena bukan kekuatan super yang membuat karakter Clark Kent jadi baik dan heroik, tapi bimbingan ayah adopsinya.

Fletcher Reede (Liar Liar)

Ia kerap berbohong dan mengingkari janji pada anaknya. Daripada menghadiri ultah anaknya, ia malah bikin affair dengan partner kerjanya. Untuk membuatnya sadar, ia harus kena ‘kutuk’ anaknya dan kehilangan keahliannya untuk berbohong selama 24 jam.

Marlin (Finding Nemo)

Menghadapi ikan hiu ganas, tersengat ubur-ubur, berjuang di arus deras, sampai ke ujung samudera ia tempuh hanya untuk mencari anaknya yang hilang.

Poseidon (Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief)

Dewa yang ngelayap, menghamili manusia, dan meninggalkan anaknya, bikin Percy (anaknya) bingung, kehilangan figure ayah dan harus mengalami keluarga yang hancur.

Guido Orefice (Life is Beautiful)

Sekalipun ia dan anaknya ada dalam kamp konsentrasi nazi, dijadikan budak, dan beresiko untuk dibunuh, tapi ia berusaha keras agar anaknya merasa senang dan bahagia.

Kate McCallister (Home Alone)

Ortu mana yang saking sibuknya menyiapkan liburan sampai ketinggalan anaknya di rumah sendirian?

John Quincy Archibald (John Q)

Ia rela mati untuk mendonorkan jantungnya agar anaknya bisa hidup.

YOUR PICK

Worst Parent Award goes to: ……

Best Parent Award goes to:…

Favorite Parent Award goes to: …