Monday, February 13, 2012

TV: FIRST GOD

TV! Siapa yang gak kenal? Kalo boleh dibilang tabung ini udah jadi salah satu perangkat rumah tangga wajib. Dengan TV informasi bisa dengan cepat didapat. Dan sebagai sarana pendidikan atau sekedar hiburan, TV menjadi pilihan murah meriah dan paling banyak peminatnya. Dengan kecanggihannya, kita bisa menikmati sajian-sajian menarik dari belahan dunia manapun, bahkan sampai keluar angkasa, sehingga dunia seakan hanya seluas layar kaca saja.

Asal Usul
Gagasan awalnya ialah transmisi elektrik dari elemen gambar dan suara secara simultan yang merupakan lanjutan dari teknologi radio rintisan Dane tahun 1802. Dane berpendapat bahwa “pesan dapat dikirim melalui kawat beraliran listrik dalam jarak pendek”. Tahun 1865 James Maxwell menemukan prinsip baru yaitu gerakan magnetis dapat mengarungi ruang angkasa melalui gelombang dengan kecepatan 186.000 mil/detik sama dengan kecepatan cahaya. Tahun 1895 Marconi mengembangkan ide Maxwell dengan hasil ia dapat menerima tanda tanpa melalui kawat dengan jarak satu mil dari sumbernya.
W.E. Sawyer (Amerika) dan Maurice Leblance (Perancis) menemukan penayangan elemen gambar dengan cepat dan berurutan, garis demi garis, frame demi frame pada tahun 1880. Temuan ini memungkinkan digunakannya satu kabel/saluran untuk transmisi tahun 1884. Paul Nipkow bapak per-TV-an dunia menciptakan alat bernama “Jantra Nipkow (Nipkow Disk)” yang melahirkan TV mekanis (Electrische Teleskop) dengan prinsip gambar kecil yang dibentuk oleh elemen-elemen secara teratur (Scanning Device) dan membentuk gambar ketika diputar secara mekanis dengan lingkaran spiral.
Tanggal 11 September 1928, Alexander dari General Electric di New York berhasil menayangkan drama TV untuk pertama kalinya di Amrik “The Queen’s Messenger” plus suaranya disalurkan melalui stasiun radio WGY, mempergunakan 3 kamera dan siarannya dapat ditangkap oleh TV ukuran 3-4 inci.

Industri TV
Merujuk keberhasilan General Electric menayangkan drama TV pertama tahun 1928 serta penemuan penting lainnya. Maka industri TV pun  lantas menjamur dan menjadi awal kemunculan berbagai stasiun TV besar seperti NBC, CBS, yang ada di Amerika.
Eropapun tidak ketinggalan dengan percobaan-percobaan per-TV-annya, walaupun agak terlambat karena dilanda perang dunia II. Tahun 1948 Jerman memulai siaran TV-nya, Inggris memulai siaran TV-nya sejak tahun 1936 yang terkenal dengan BBC-nya. Italia memulai debutnya  tahun 1953 melalui RAI (Radio TV Italiana).
Di wilayah Asia, Jepang merupakan negara paling maju dibidang per-TV-an. Tahun 1953 Filipina memulai siaran TV-nya disusul Muangthai pada tahun 1955, Indonesia dan RRC pada tahun 1962. Sampai dengan tahun 1970, negara maju seperti Jepang, Uni sovyet, Inggris, Amerika Serikat, Jerman barat memiliki lebih dari 100 stasiun TV.

First god
Apa mau dikata, gak beda jauh dengan mandi atau gosok gigi, menonton TV udah jadi ritual harian yang oleh kebanyakan dari kita diterima sebagai nasib teknologi. TV menjadi terlalu menggoda untuk tidak ditonton dengan segala kelebihan yang dimilikinya tersebut, tidak mengherankan bila anak-anak, orang dewasa bahkan orang tua betah menghabiskan waktu berjam-jam di depan pesawat TV. Para antropolog menciptakan suatu istilah latin yang baru bagi penduduk yang berbudaya gila media ini “Boobis Americanus”. Problem boobis americanus tidak terbatas pada perangkat TV saja tetapi kini meluas sampai kepada segala jenis teknologi media. Boobis americanus merupakan keadaan pikiran yang berkembang menjadi kutu buku, pecandu koran, majalah, radio, dan komputer bahkan TV karena teknologi-teknologi tersebut begitu memikat. Seorang pengamat bahkan mengatakan TV telah menjadi ‘the second god” (atau bahkan mungkin the first god) bagi manusia.


Hati-hati
Dibalik semua manfaat dan kegunaan TV masa sekarang, ada yang perlu kita waspadai.
Sekalipun gak pernah ada yang dapat membuktikan, TV udah dituding sebagai pemicu sikap agresif atau beberapa sikap buruk seperti cepat tergoda untuk membeli sesuatu karena iklan yang ditayangkan di TV, meniru prilaku idola seperti meloncat dari balkon untuk meniru superman, maupun adegan-adegan lain yang mempengaruhi pola pikir penontonnya.
Suatu penelitian lintas budaya  mendapati bahwa jika sebuah keluarga membeli TV, komunikasi pribadi dalam keluarga berkurang dari sekitar 14 sampai 19 menit perhari. Selain itu acara hiburan TV secara tak langsung mengajarkan setidaknya 4 hal di bawah ini:

1.    Konsumerisme. Iklan, film, sinetron, dan seluruh sistem selebriti dalam dunia hiburan adalah sumber konsumerisme. Jangan sampai kita jatuh dalam perangkap “cinta barang”, perhatikan apakah itu berguna, tidak begitu berguna atau bahkan tidak berguna sama sekali.
2.    Kejahatan sekuler. Dalam cerita film selalu ada tokoh baik dan jahat. Kebaikan biasanya diciptakan oleh si penulis cerita, bukan berdasarkan standar Tuhan atau alkitab. Demikian pula dengan kejahatan, sehingga bisa terjadi yang baik dianggap jahat dan yang jahat dibilang baik. Juga terciptanya daerah “abu-abu” dimana si tokoh utama biasanya hidup di sini. Ia tidak jahat tetapi juga tidak seperti malaikat. Tercipta juga “bohong putih” atau bohong untuk “kebaikan”. Pembunuhan, pemerkosaan, freesex menjadi sesuatu yang biasa. Tuhan mengajarkan segala sesuatu yang bukan dari Tuhan maka sebenarnya berasal dari si iblis.
3.    Individualisme. Media massa kini sering menyentuh keegoisan manusia, setiap kita di dunia adalah untuk melayani diri sendiri, untuk memaksimalkan kesenangan pribadi dan untuk mengikuti jalan kita sendiri menuju kebebasan. Padahal siapa yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain?
4.    Keindahan luar. Dunia hiburan mengagungkan keindahan luar seperti kecantikan luar, bentuk tubuh, busana mewah, trend gaya dsb. Padahal yang Tuhan lihat dan yang paling penting adalah apa yang dari dalam/ hati kita.

Hanya Alat
Lalu bagaimana? Apakah anak Tuhan harus hidup “aneh”, jauh dari teknologi, nggak nonton TV, nggak pake komputer, telepon, dsb? Bahkan menganggap semua teknologi termasuk TV adalah alat si iblis?

Sebaiknya untuk praktisnya perhatikan beberapa hal di bawah ini:
1.    Kita bisa menggunakan teknologi (termasuk TV) untuk memuliakan Tuhan, memperbesar kapasitas rohani kita dan juga orang lain, seperti menonton atau membuat acara rohani.
2.    Segala sesuatu diperbolehkan tapi apakah segala sesuatu itu berguna? Manfaatkan TV untuk hal-hal yang berguna, seperti untuk belajar, menambah wawasan, menambah informasi, ataupun sebagai sarana hiburan sekedar melepas kejenuhan. Kurangi menonton hal-hal yang dapat berpengaruh buruk dan merusak pikiran kita.
3.    Jangan sampai kita terikat oleh TV. Berapa lama kita diam di depan TV? Apakah melebihi lamanya waktu kita dengan Tuhan atau keluarga? Ketika waktunya Tuhan minta kita untuk berdoa atau pergi ke persekutuan/ kebaktian atau melayani atau setidaknya membantu ortu apakah kita lebih memilih menonton acara kesukaan kita?
4.    Perhatikan juga keempat poin dampak dunia hiburan di atas, apakah ada yang mempengaruhi kita? Apakah kita menjadi boros karena selalu tertarik untuk membeli apa yang diiklankan atau yang dipakai si tokoh cerita? Apakah kita jadi tidak lagi mengerti dengan jelas mengenai standar kebenaran Tuhan? Apakah kita mengidolakan (memberhalakan) seseorang/ tokoh/ selebriti?

TV hanyalah sebuah alat, ia bisa dipakai oleh iblis ataupun oleh Tuhan. Tinggal bagaimana sikap kita terhadap teknologi itu. (F!ig)

Sunday, February 12, 2012

JOSEPH S. DJAFAR : “Musik rohani bagaikan cincin mas kawin…”

JOSEPH S. DJAFAR :
“Musik rohani bagaikan cincin mas kawin…”

Tak bisa dipungkiri, musik rohani maju pesat.  Bahkan dalam hal aransemen musik pun tak lagi ketinggalan jaman, makin kaya warnanya.  Kalau tahun 80-an nama-nama macam Willy Sumantri, Herry Priyonggo, Januar Ishak, dll dikenal sebagai musisi sekaligus penata musik atau music arranger, maka mendekati abad 21 bakat-bakal baru bermunculan, memberi warna segar pada musik rohani Indonesia.  Ada Iman ‘Pongky’ Prasetyo, Hans Kurniawan, Michael Chandra, dan Joseph S. Djafar.

MY IDENTITY
Nama lengkap        : Joseph Setiawan Djafar
Nama panggilan    : Ocep
Tempat/tanggal lahir    : Semarang, 26 Agustus 1976
Nama ortu        : Ilyas Agung Djafar
Hobby            : Musik dan berenang
Makanan favorit        : Es Krim
Minuman favorit        : Capuccino
Pendidikan terakhir    : Sarjana Teknik Elektro Univ. Trisakti, Jakarta

Masih muda, dalam usianya yang baru 24 tahun tahun ini Joseph S. Djafar telah menangani + 30 album rohani dengan aransemen musik yang segar dan kreatif. Beberapa diantaranya : Giving My Best 1-3, JAM, True Worshipper 2, Mewarnai Dunia, Nyanyian Hati – Farah P., Pelita Hati – Jefrey S. Tjandra, Accoustic Worship Unplugged Vol.1 (terbaru), dll. Selain seorang pemain piano, keyboard dengan prestasi segudang, belakangan cowok jangkung kelahiran Semarang, 26 Agustus 1976 ini dikenal sebagai pencipta lagu rohani.  Beberapa karyanya : Aku Berterima Kasih, Sobat yang Kuperlu, You are My Keeper, Karya Yang Mulia, Someone Cares, Allah yang Setia, dll. 

Bakatnya sudah terlihat sejak awal.  Diusia yang baru 11 tahun, Joseph sudah menyelesaikan sekolah musik di Royal School.  Pernah juara piano Tingkat Nasional Lintas Artha selama 6 kali, merebut Most Outstanding Perfomance untuk kompetisi nasional tahun 1986, mendapat penghargaan dari Kedutaan Belanda untuk musik etnis Indonesia-Belanda, terima penghargaan JOC Concert tahun 1988 di Jepang, dan seabrek prestasi lainnya.

Sekalipun dilatarbelakangi keluarga yang semuanya pianis tulen, jangan dikira anak bungsu dari 6 bersaudara ini berhasil tanpa kerja keras.  Punya orang tua yang disiplin, sejak umur 5 tahun Joseph sudah terbiasa dengan jadwal musik yang padat.  Jarak usia delapan tahun dengan kakak nomor lima, membuat anak cowok satu-satunya ini suka menyendiri dan kuper (kurang pergaulan, red).  Belum lagi   kakak-kakaknya harus pindah ke Jakarta, sedang Joseph yang baru kelas 6 SD tinggal dengan ortu yang sudah berusia 50 tahun ke atas, maka musiklah yang menjadi teman Joseph saat kesepian.  Rasa minder karena dimasa itu tubuhnya gemuk, ejekan teman mengenai dirinya yang nggak gaul, nggak keren dibandingkan semua kakaknya, telah memacu Joseph belajar piano dengan keras.  Umur 8 tahun Joseph sudah punya jam latihan 4-5 per hari, tak jarang jatuh sakit gara-gara kecapekan.  Sebab hanya dengan main piano, Joseph merasa dirinya eksis di mata orang. 

“Kalau saya nggak dihargai karena penampilan saya, maka saya harus dihargai orang dari prestasi saya!”

Kelas satu SMP Joseph pindah ke Jakarta. Karena nggak cocok dengan pergaulan di Jakarta, sifat Joseph makin tertutup dan menenggelamkan diri dalam musik. Kemudian keluarganya mengalami goncangan ekonomi.  Joseph bahkan terancam berhenti les musik yang memang tidak murah biayanya.  Tapi karena bakat musiknya yang tergolong jenius, banyak yang  mensponsori biayanya sampai tamat.  Bahkan tawaran beasiswa dari sekolah musik di Australia dan Toronto-Canada datang, tapi tidak diambilnya karena takut tidak mampu membiayai hidup di sana. Hal ini cukup membuat Joseph kecewa dan merasa down.   

Namun rupanya Tuhan punya rencana lain.  Di gereja tempatnya melayani sebagai keyboardist,  Joseph dipercayakan untuk melatih para pemusik.  Tak lama kemudian ditarik Symphony Music menjadi salah satu keyboardist. Sempat juga jadi guru piano klasik. Secara perlahan Tuhan memulihkan hidup Joseph.  Kepercayaan dan kesempatan yang diberikan telah membentuk Joseph sehingga berani memimpin, punya wibawa, dan tidak gugupan lagi. 

Tawaran pertama untuk mengaransemen musik datang dari Willy Soemantri, yaitu album solo piano Joseph berjudul Kemurahan Tuhan, yang sempat meledak.  Berlanjut di album Giving My Best I  tahun 1996, pelan-pelan nama Joseph mulai dipercaya sebagai music arranger. 

“Prinsip saya, musik yang saya aransemen harus jadi berkat bagi orang lain.  Untuk ke sana saya nggak bisa bergantung pada talenta dan skill saja, tapi harus mengandalkan Tuhan sebagai sumber urapan. Jika keduanya jalan, maka apa yang kita buat akan disukai  dan jadi berkat bagi yang membutuhkannya.  Dengan kata lain albumnya meledak.”

Tidak hanya dari kalangan rohani, tapi tawaran untuk menangani musik sekuler berdatangan.  Meskipun Joseph memuji keprofesionalan musik dunia yang menurutnya semua teratur dengan rapi dan transparan, baik itu aransemen, rekaman, marketing, dan keuangan, tapi bagi Joseph:

“Komitmen saya adalah terus melayani Tuhan dengan talenta saya. Dengan talenta inilah saya bisa memuji dan memuliakan namaNya.  Musik rohani bagaikan cincin mas kawin yang saya berikan kepada Tuhan.  Saya nggak akan beralih ke musik sekuler meski itu menawarkan uang yang lebih banyak.”

Dengan kesibukan yang padat, di waktu luangnya Joseph memilih tinggal di rumah atau ke pantai, yang penting suasananya sepi dan tenang.  Menurut Joseph yang paling tidak suka keramaian dan ribut-ribut, suasana yang sepi bisa menentramkan hati dan pikiran.

Kini, hasil dari sekian proyek yang digarap, Joseph berhasil membangun studio rekaman miliknya sendiri yang berlokasi di rumah sendiri.  Selain itu, bersama dua rekannya Joseph juga membuat studio di daerah Pancoran.  Tujuannya untuk disewakan dalam arti untuk menambah pendapatan,  sekaligus melahirkan dan melipatgandakan bibit-bibit baru dibidang musik.

 “Saya tidak berhenti belajar.  Sekarangpun saya sedang belajar audio engineering dan digital recording.  Saya terus menggali ilmu, baca buku sebanyak mungkin.  Selain itu, saya sering rekaman di MIDI Lab dan melihat Erwin Gutawa, Aminoto Kosin latihan.  Saya ambil pelajaran yang berguna untuk perkembangan karir musik saya.“

TIPS SUKSES ALA JOSEPH
    Jangan pernah jadi orang lain, jadilah diri sendiri apa adanya. Kalau mau jadi kayak orang lain, artinya kita nggak mau jadi kepala tapi ekor. Tuhan kasih talenta buat tiap orang yang harus dikembangkan sesuai kemampuan masing-masing, bukan untuk ikut-ikutan/meniru orang lain.  Karena kita semua punya keunikan masing-masing yang berbeda dengan orang lain
    Jangan pernah berhenti belajar
    Tekun.  Artinya mau korban waktu, tenaga, perasaan, mental, termasuk siap dicerca orang (tahan malu).  Ketekunan itu kunci keberhasilan dalam bidang apapun yang kita lakukan

MINAT JADI ‘TUKANG ARANSEMEN’ (MUSIC ARRANGER)? BEGINI KATA JOSEPH :
    jangan pernah berhenti untuk berkreasi.  Jangan selalu minder dan merasa apa yang kita hasilkan itu jelek.  Soal orang nggak suka dengan karya kita,  itu relatif. Kalau karya kita dikritik, jadikan itu dorongan untuk koreksi diri dan kembangkan supaya kita jangan bertumbuh sesuai dengan selera orang
    Secara teknis seorang arranger harus punya wawasan musik yang luas tentang  warna-warna musik
    punyai waktu belajar segala macam alat musik
    banyak baca buku, dengar kaset dan berita tentang perkembangan musik 
    harus berani bereksperimen, menciptakan lagu sendiri. Karena rata-rata arranger yang baik itu belajar dari menciptakan lagu sendiri

ti

Saturday, February 11, 2012

AIR

“Kini saatnya untuk sebuah kuis!” ujar seorang dosen memulai pelajaran tentang Manajemen waktu. Ia meletakan sebuah ember kosong di atas meja, kemudian mengisinya dengan batu-batu besar sehingga ember itu tidak muat lagi.
“Menurut kalian, ember ini sudah penuh atau belum?”
“Sudah!” Jawab para mahasiswa.
“Belum!” Jawab si dosen, lalu ia mengambil kantong plastik berisi kerikil dan memasukannya dalam ember tadi sehingga mengisi celah-celah batu-batu besar itu.
“Sekarang bagaimana?” tanya si dosen, “emh… mungkin belum..’ jawab para mahasiswa. Si dosen kemudian mengambil pasir dan mesukannya sehingga mengisi celah-celah batu dan kerikil. “Kalau sekarang, apakah sudah penuh?”. Para mahasiswa menjawab: “Belum!”, lalu si dosen mengambil sebotol air dan menuangkannya sehingga penuh sampai ke bibir ember tadi.
Apa yang terjadi jika kita memasukan terlebih dahulu benda-benda yang kecil dan yang terakhir adalah batu besar? Tentu masih banyak ronga kosong dalam ember itu. Hal ini mengajarkan kepada kita tentang prioritas dalam hidup kita. Jika kita mengisi waktu kita dengan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mengerjakan apa yang sebenarnya prioritas kita, kita malah sibuk dengan hal-hal kecil yang merisaukan.
Renungkan apa yang menjadi “batu-batu besar” dalam hidup kita, dan kerjakanlah itu terlebih dahulu.

“Carilah terlebih dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”
(Matius 6:33)

Friday, February 10, 2012

TIPS

1.    Bacalah banyak Firman Tuhan setiap hari.
Semakin banyak kita mendengar dan membaca Firman Tuhan semakin banyak kesempatan untuk Tuhan berbicara pada kita.
2.    Bacalah buku-buku rohani dan dengarlah kaset-kaset kotbah.
Karena manusia tidak diberi cukup waktu untuk dapat mengenal Allah seorang diri. Kotbah yang kita dengar tiap minggu itu tidak cukup, buktinya banyak lupanya daripada keingetnya. Karena itu kita pribadi harus haus untuk menggali Firman Tuhan lebih lagi.
3.    Tidak memiliki ‘hamba Tuhan favorit’.
Belajarlah untuk membuka hati bagi Firman Tuhan, nasehat dan teguran Tuhan tanpa memandang orang yang menyampaikannya. Selama hal itu benar dan sesuai Firman Tuhan jangan pernah menganggap remeh, apalagi menolaknya.
4.    Ceklah pergaulanmu.
Karena pergaulan yang buruk pasti merusak kebiasaan baik. Kamu bergaul dengan worshiper atau gosiper? Kamu bergaul dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan atau yang kompromi? Margareth Thatcher pernah berkata ‘tunjukkan padaku teman-temanmu maka aku akan menunjukkan padamu masa depanmu’. Orang yang tidak mau memperhatikan pergaulannya pasti sulit bertumbuh.

OK, selamet ngejalanin dan bertumbuh di dalam Tuhan, ya. GOD BLESS YOU ALLWAYS!! (And)

SEMUT

Semua binatang hutan berhamburan, kancil, kelinci, kijang, semua berlari bersembunyi. Rupanya sang Singa sedang lewat, betapa si raja Hutan ini sangat ditakuti oleh karena besar dan ganasnya. Suatu siang si Singa beristirahat di bawah sebuah pohon, di tengah lelapnya tidur tiba-tiba si Singa mengaduh kesakitan, AWW!, Oh rupanya ada semut menggigit badannya. Iapun kembali tidur.

Sekali lagi ia terbangun karena kaget, AWW!, Rupanya si semut menggit lagi. Ah… cuman semut, pikir si singa dan kemudian iapun meneruskan tidurnya.

Sampailah si simut ke telinga si Singa, dengan mudah si semut masuk ke telinganya dan menggigiti bagian dalam telinga si Singa. Si Singa menjerit kesakitan, ia meronta-ronta karena tidak bisa mengeluarkan si semut dari telinganya.. akhirnya ia membenturkan kepalanya pada batang pohon dan ia pun mati.

Singa mati bukan oleh anteng yang kuat atau gajah yang besar, melainkan oleh seekor semut kecil. Demikian pula banyak anak Tuhan jatuh karena perkara-perkara kecil yang dianggap sepele. Seperti jengkel, kesal, bohong sedikit, nyontek sedikit, gosip dsb.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar juga dalam perkara-perkara kecil ia tidak benar pula dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10)

SAYA MAU JADI BERKAT BAGI INDONESIA

SAYA MAU JADI BERKAT BAGI INDONESIA
   
EV. DANIEL ALEXANDER, seorang hamba Tuhan kelahiran Surabaya 44 tahun lalu, yang telah mengabdikan diri melalui pelayanannya di Nabire, Papua sejak tahun 90 bersama istrinya Louis Alexander.  Cinta tanah air dan beban yang Tuhan taruh dalam hatinya telah membuahkan belasan sekolah dan perguruan tinggi di Papua yang didirikan  bersama yayasan setempat.  Beliau juga banyak menyekolahkan anak-anak di berbagai suku terpencil yang tak mampu namun berprestasi. 

TUHAN SAYANG INDONESIA
Terus terang, kalau berbicara mengenai bangsa Indonesia, saya pernah mengalami hal yang menyakitkan sebagai salah satu anak bangsa ini tetapi Tuhan bukakan dalam firmanNya melalui Roh Kudus beberapa ayat tentang Indonesia yang telah mengubah saya. Yesaya 49:1–2, menulis tentang bangsa yang besar dan banyak pulau.  Lalu Zefanya 2:11, tertulis bahwa bangsa-bangsa daerah pesisir akan datang dan sujud kepada Tuhan.  Wahyu 5:9, intinya: Tuhan sudah membeli semua orang dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa.  Indonesia adalah bangsa yang paling banyak memiliki ke-4 hal diatas.  Dari kenyataan ini, kita sadar kalau mata Tuhan tertuju pada Indonesia yang sudah dipilih demi kemuliaanNya.  Saya sangat bersyukur jika seluruh Gereja mengkhotbahkan betapa Tuhan mengasihi bangsa ini. Karenanya suku apapun kita, kalau kita dilahirkan sebagai bangsa Indonesia, terimalah itu dengan penuh ucapan syukur. Sejelek apapun keadaan negara kita saat ini, Tuhan tetap sayang kepada bangsa ini dan bangsa kita butuh kita.

MAU LAHIR DI MANA?
Tuhan memberikan kehendak bebas pada manusia untuk memilih.  Tuhan tidak ikut campur kalau tidak diminta. Misalnya: kita mau sekolah dimana, beli apa, itu semua hak kita, Tuhan tidak bakalan ikut campur atau menggunakan hak prerogatif-Nya (hak istimewa). Tapi ada dua hal dimana manusia tidak bisa memilih menurut kehendaknya sendiri,  yaitu: lahir dimana dan mau jadi bangsa apapun itu hak Tuhan. Kita tidak bisa minta agar lahir jadi bangsa Amerika yang katanya keren. Tuhan punya maksud dalam hidup kita.

YUSUF, PENGUASA MESIR KEBANGSAAN ISRAEL
Alkitab menulis bahwa kita bertanggungjawab terhadap bangsa dimana kita dilahirkan. Kita juga harus bisa jadi berkat bagi orang lain yang mungkin berbeda bangsa. Kenapa?
Yusuf yang tinggal di bangsa lain, tempat dia dibuang saudaranya, menderita jadi budak bahkan tawanan. Pokoknya hidup Yusuf di Mesir penuh penderitaan yang menyakitkan, tapi dia mau menolong bangsa itu saat Mesir dilanda  kekeringan dan kelaparan. Dia tidak menolak untuk menjadi berkat bagi orang Mesir meskipun mereka pernah jadi memori hitam dalam hidupnya.
Jadi bagaimanapun kita diperlakukan, baik menyakitkan atau menyenangkan, tetaplah untuk bisa jadi berkat bagi orang lain. Saya berbicara begini karena sesuai dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kita bisa saja keturunan asing/suku apapun yang hidup di Indonesia.  Kadang bisa tertekan, terpojok, atau tersisih. Tapi saya sadar bahwa dilahirkan di negara ini, jadi WNI bukan karena kebetulan saja tapi Tuhan memang punya rencana untuk saya.   Saya yakin, kita semua bisa jadi berkat bagi bangsa ini.

MAU PINDAH NEGARA? NANTI DULU!
Kenyataan saat ini, banyak anak muda yang bangga jika bisa menuntut ilmu bahkan bekerja di luar negeri.  Saya tidak salahkan karena ini hak mereka. Kalau dilihat memang rasa nasionalisme pada generasi muda saat ini makin berkurang. Saya berpendapat bahwa Gereja seharusnya jadi alat Tuhan yang sempurna untuk mengobarkan rasa nasional, sayangnya belum semua gereja melakukannya!  Malah ada hamba Tuhan yang seharusnya jadi contoh cinta bangsa  tapi banyak yang ‘kabur’ bahkan pindah ke luar negeri karena takut, kecewa terhadap Tuhan/manusia, dll.  Sangat disayangkan, justru Tuhan memanggil kita untuk mengasihi orang yang telah menyakiti kita.
Yunus, nabi yang dikasihi Tuhan, yang banyak menobatkan orang lewat pelayanannya karena Tuhan selalu menyertainya.  Tapi saat diutus pergi ke Niniwe supaya bangsa itu bertobat sebelum dibinasakan,  Yunus menolak dan lari dari Tuhan. Mengapa?  Gara-gara Yunus terlanjur sakit hati dan dendam karena nenek moyangnya dulu dibantai bangsa Niniwe (dulu bernama bangsa Asyur).  Tuhan menegurnya, sebelum akhirnya nabi Yunus datang ke kota itu dan terjadilah pertobatan yang besar, murka Tuhan pun surut.  Jadi kita harus mau menjadi berkat bagi orang atau bangsa yang telah menyakiti kita.  Ingat ayat yang bilang, ‘Kasihilah musuhmu dengan segenap hatimu dan berkati mereka’.
Saya punya pengalaman seperti nabi Yunus. Saya keturunan Tionghoa yang pernah mengalami tekanan yang bertubi-tubi. Bahkan sejak kecil saya sudah merasakan yang namanya dendam, sakit hati atau kecewa. Sebab pada umur 9 tahun, Ayah saya dibunuh, saya tidak tahu kenapa.  Kejadian itu membuat saya begitu membenci bangsa ini.  Keinginan untuk hijrah ke luar negeri begitu kuat. Tapi dari waktu ke waktu Tuhan memulihkan dan membukakan sesuatu kepada saya mengenai bangsa ini.
Rasa nasionalisme dan cinta saya pada bangsa Indonesia makin besar. Karena saya sadar bahwa saya lahir di bangsa ini, meskipun berbeda dan  mengalami sakit hati. Tapi saya mau jadi berkat buat bangsa ini, sebab itulah panggilan Tuhan untuk kita bagi bangsa ini. Jadi mari kita bangun bangsa ini, jangan lupakan bangsa ini!

KADO UNTUK INDONESIA
Saya sangat rindu untuk bisa mempersembahkan sesuatu buat bangsa ini dan berusaha untuk ikut membangun bangsa ini.  Bulan Oktober ’87, saat saya berdoa pada Tuhan untuk memberikan visiNya, apa yang harus saya buat untuk negara ini, Roh Kudus dengan lembut berkata, “Daniel, kenapa kamu nggak mau kembali kepada pelayanan Yesus yang semula”. Roh Kudus bikin saya kaget karena sadar bahwa awal mula pelayanan Yesus adalah pendidikan dan rumah sakit.  Kemana saja Yesus pergi bahkan sampai hari terakhir naik ke surga,  selalu dibawa orang sakit dan orang  kenal Dia sebagai guru Yesus bukan pendeta Yesus.
Saya baca di ensiklopedi ternyata kata pendidikan  pertama kali ditemukan dalam literatur tertua di  Ulangan 6:7. Musa bilang ajarkan itu kepada anak-anak.  Apalagi sekarang dunia butuh pendidikan. Tidak harus bentuk sekolah tapi intinya pendidikan.  Sejak itu saya bergerak  membangun bangsa ini lewat sekolah dan kesehatan. Sekarang kami buat banyak sekolah di Papua barat dan Kalimantan Timur,  juga menyekolahkan perawat dan dokter. Sekarang ada 5 dokter yang kami sekolahkan.  Nanti kami akan buka RS terbaik di sana.

MAU BUAT SESUATU?
Di Papua, tepatnya suku terpencil di Krayan, kami menyiapkan anak-anak kecil dari TK sampai besar diasramakan. Ternyata perubahan hidup mereka luar biasa melalui pelayanan langsung dengan mendidik, mengubah pola pikir dan cara hidup mereka.  Kalau kita hanya pelayanan kegerejaan saja, tidak akan mengubah. Kami butuh dokter, ahli tehnik dan ekonomi, dll.  Kalau berminat hubungi saja: Kotak Pos 206, Nabire 98802–Papua (Telp. 0984-22282)


DUA SISI YANG BERBEDA

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang mashyur permai kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah kurasa tenang
Tanahku ta kulupakan
Engkau kubanggakan
(cipt Ibu Sud)

Sepertinya lagu yang suka diputar di akhir siaran TVRI ini harus sering dinyanyikan. Baca deh cerita berikut:
Saya punya teman yang baru 3 tahun studi di luar negeri. Saya cukup shock, waktu dia pulang baru-baru ini.  Dandanannya tentu saja udah western style, yang aneh bahasa sendiri aja banyak nggak hapal, dan yang lebih bikin saya sedih adalah celaan dan nada meremehkan yang sering keluar dari mulutnya.  Melihat truk sampah yang over load alias hampir tumpah berceceran, katanya sambil menutup hidung, “Di sono mah bersih, Jakarta makin dirty, ya!”.  Dan setelah itu dengan santainya dia membuang bungkus tissue ke kali! Olala….Waktu saya tanya kenapa dia buang sembarangan, lagi-lagi dengan nada sinis katanya, “Apa artinya buang sampah pada tempatnya? Di sini buang ke kali sama kayak buang garam ke laut, udah kepalang!”

Saya kenal seorang bernama John Sisson, kakek dari 5 cucu kebangsaan Australia waktu dia lagi motret acara tujuh belasan 6 tahun lalu.  Sejak itu kami bersahabat lewat surat.  Tiap tahun John pasti ke Indonesia, khususnya Padang, Bangka, Bali, dan Jakarta (sekalian ketemu saya!).  Yang bikin saya kagum, John cinta banget sama Indonesia.  Dia seorang pensiunan kantor pos dan uang pensiunnya nggak dikemana-manain selain dipakai untuk datang ke Indonesia.  Bahkan di tahun saat kerusuhan terjadi (1998), dimana turis-turis pada ngumpet, John tetap aja dateng! Bahkan di beberapa suratnya John menulis kerinduannya melihat Indonesia pulih dan bangkit kembali.  Yang bikin saya haru, setiap ada artikel tentang Indonesia di koran Perth, pasti digunting termasuk berita tentang kelahiran anak harimau putih di Taman Safari yang bikin John bela-belain datang meski sedang sakit. 

Dua cerita di atas kiranya menggugah hati kita sebagai generasi muda Indonesia.  Sungguh dua sisi yang berbeda! Jangan sampai kita yang notabene bangsa Indonesia tidak suka dengan bangsa sendiri tanpa mau melakukan sesuatu, sedangkan ada orang-orang asing yang prihatin dengan bangsa kita dan rindu pemulihan terjadi.

Keadaan Indonesia belumlah pulih total.  Lepas dari kegetiran dijajah sekian ratus tahun,  justru diusia kemerdekaan yang makin lanjut banyak anak bangsa yang cuek, pindah, bahkan ada yang  malu mengakui ibu pertiwinya.  Masih ingat lagu wajib nasional :
Oh lihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati
Air  matanya berlinang, mas intannya terkenang
Hutan, gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan
Kini Ibu sedang lara, merintih dan berdoa
(Cipt. Charles C.)

Indonesia butuh cinta dan doa kita supaya Tuhan memulihkan Indonesia. Lalu apa yang bisa kita perbuat?   Nggak usah muluk-muluk, yang praktis ini aja dulu :
•    Peduli lingkungan
Udah jelas, jangan bikin rusak lingkungan gara-gara malas buang sampah.  Jangan tutup mata dengan bencana yang terjadi pada saudara sebangsa dan setanah air kita (gempa di Bengkulu, misalnya).
•    Disiplin
Sudah harus kita menghapus cap “jam karet” di dahi bangsa ini.  Mulai dengan disiplin waktu, nggak telat kalo ke gereja, nggak ngaret kalo janjian.  Kalo mau pasti bisa! (Saya juga mau!!).
•    Stop foya-foya
Kalau merasa kebanyakan uang yang bisa dipakai sesuka hati, ada baiknya kita jalan-jalan sejenak di samping rel KA, mengunjungi rumah-rumah dipinggiran kali Ciliwung, mampir di bawah kolong jembatan, dll.  Kiranya mata kita tercelik dan sadar bahwa yang dibawah garis kemiskinan masih banyak.  Contoh gampang : jangan buang-buang makanan (ingat berapa banyak keringat petani terkuras demi sepiring nasi).
•    No more corruption
Jangan lagi jadi koruptor kecil-kecilan (nyontek, bohong demi dagangan laku, dll).  Selain ini dosa, nanti gedenya kita terlatih jadi koruptor.
•    Gotong royong
Inget lho, ini ciri khas bangsa kita yang nggak boleh hilang.  Jangan terlalu EGP (emang gue pikirin) soalnya ini bibit sombong dan nggak nguntungin banget!
•    Cinta produk Indonesia
Bukannya nggak boleh pakai barang bermerk luar negeri.  Tapi berkatilah bangsa sendiri dengan menggunakan produk Indonesia yang kualitasnya nggak kalah.  Harusnya kita bangga karena telah membantu pengusaha kecil Indonesia.
•    Bangga
Kalo punya kesempatan, datanglah ke Taman Mini Indonesia Indah.  Kali-kali ada yang belum tau bahwa Indonesia itu kaya dengan kesenian, kebudayaan, dan punya daerah wisata yang bagus-bagus.  Promosikanlah kemana saja kita pergi.
•    Doa
Nggak bakalan bisa doa buat bangsa sendiri kalo nggak punya cinta dan belas kasihan. Dengan melakukan hal-hal praktis di atas, otomatis akan menumbuhkan rasa nasionalisme kita dan pasti Tuhan akan berikan belas kasihan di hati kita.
Kami umatMu, rendahkan diri, sujud dan berdoa….Mencari wajahMu, berbalik dari jalan kami yang jahat….(2Taw7:14) (ti)

Wednesday, February 1, 2012

Aminoto Kosin: Bakat itu cuman 5%

Kehadirannya di blantika musik Indonesia, udah cukup diakui. Seorang arranger dan juga konduktor. Dari tangannya, udah banyak musik dan musisi yang berkualitas dihasilkan. Tapi semua itu melalui banyak perjuangan, “Buat saya seseorang yang mau menjadi musisi, sebaiknya dimulai dari yang formal. Artinya sekolah musik dulu. Mungkin bisa kursus, kalo mo singkat. Tapi yang pasti kalo mo jadi musisi tidak bisa instant. Tidak ada yang singkat. Harus menempuh beberapa jalur. Saya sendiri ngerasa banget perbedaannya. Bisa aja sih tidak melewati hal tersebut. Mungkin kasih karunia kali”, ujar Papa dari 2 putri yang juga sekarang udah menunjukkan bakat bermusiknya.


Ceritain donga masa kecilnya!
Wah masa kecilku bahagia syeekali! Aku dibelai dan aku disayang juga (Ko Amin, begitu ia senang dipanggil, menceritakannya persis kayak anak kecil, hehe. -red). Aku terlahir di tanahnya orang batak, Medan, 18 Februari 1963. Dan sempat pindah ke Kuala Lumpur. Kita tinggal di sana lebih kurang tiga tahunan. Sekitar tahun 1969 sampe 1972 gitu deh. Masuk sekolah Inggris. Waktu itu kakakku ikut les piano, aku pengen ikut-ikutan. Lalu kita sekeluarga balik lagi ke Medan. Sekitar kelas empat SD kita pindah ke Jakarta sampe sekarang. Meski pindah-pindah, aku tetep komitmen dan serius ngeles musik. Aku ngeles drum dan piano.


Kira-kira bakat musiknya Ko Amin ada bakat keturunan nggak sih?
Susah juga ngomongnya ya. Papaku tuh suka nyetel musik yang rada berat-berat gitu. Jadi aku sering mendengarnya. Mungkin ini yang membuat aku makin menyukai musik. Di umur yang begitu masih kecil aku udah terbiasa dengan musik jazz atau klasik. Bahkan Papaku juga sering membawa aku nonton konser-konser musik. Kalau aku teliti lagi, lingkungan ini mungkin yang membentuk aku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengambil sekolah musik secara serius setelah selesai SMA.


Bakat kita paling cuman 5%, sisanya itu kerja keras. Mau nggak kita belajar lebih lagi. Meski kita berbakat, kalo nggak pernah belajar hasilnya nggak akan pernah baik. Alangkah baiknya bila keduanya berjalan dengan baik. Dana itu hanya faktor berikutnya. Dan saya pikir kalo kita pintar dan berbakat, pasti banyak yang akan membiayai. Jangan khawatir deh!


Bisa mengambil keputusan untuk sekolah musik itu ceritanya bagaimana?
Aku mulai kuliah di Berklee Colege Music di Amrik tahun 1982 dan kelarnya tahun 1985. Sebenarnya pas mo mutusin masuk sekolah musik rada berat juga. Jarang banget orang ngambil jurusan ini. Tambah lagi setelah sampe di Amrik, cuma aku yang yang orang Indonesia. Lumayan ribet juga mencocokin diri. Nah, Papaku tuh kan dokter en aku anak cowok sendiri. So, maunya Papa sih aku nerusin kayak dia. Tapi aku nggak mo nyerah gitu aja. Aku lobi bokap lewat guru les musik. Aku suruh mereka nemuin bokap. Disini mungkin bokap udah liat kali keseriusan aku. So akhirnya aku diberangkatin. Keren kan teknik aku nge-deketin bokap?! Hehe. Bokap akhirnya mau suppoert aku, tapi dengan satu syarat, aku harus tekun en serius. Harus jadi musisi yang bener.


Nah setelah selesai kuliah dan balik ke Jakarta, ngapain?
Aku sempat nganggur. Aku ketemu sama Om Willy Sumantri. Kebetulan dia dekat ama Papa. Lalu Papa bilang, “Eh, anakku habis sekolah coba ajak dia rekaman aja”. Waktu itu aku umur 25 tahun. Lalu aku diajak rekaman sama Om Willy Sumantri, ngerjain rekamannya Maya Rumantir. Dari sini aku kenal dengan Dian Pramana Putra. Lalu ama Yoppi Item. Dan mulai sejak itu aku diajak rekaman ama yang lain-lainya. Termasuk Pak Peter F. Gontha. Lalu ketemu sama Erwin Gutawa. Kok kayaknya nyambung ngobrol dan bermusiknya akhirnya kita bentuklah grup Karimata.


Enak nggak ya jadi musisi?
Sebenarnya jadi musisi itu ada enak dan nggaknya. Enaknya kita melakukan dengan apa yang kita suka. Dapat duit lagi. Nggak enaknya, kita dikejar-kejar ama deadline. Kerjaan kita gini menggunakan feeling banget. Kalau emang lagi nggak ada ide, rada berat ngerjainnya. Tapi tetap juga kita usahakan. Nggak boleh nggak. Emang sih, kita harus memikirkan diri kita juga. Tetapi kerjaan kita kan melibatkan banyak orang. Kalo hanya satu kita banyak orang yang telat. Jangan sampelah itu terjadi. Satu lagi, ketika masuk dalam industri musik, apa yang kita kurang suka, juga harus ditoleransi. Kita harus dapat belajar memaklumi. Karena semuanya nggak dapat seperti apa yang kita harapkan. Apalagi kalo kita bekerja dalam sebuah tim. Harus ada kesepahaman.


Menurut Ko Amin untuk menjadi musisi itu mendingan masuk sekolah formal atau otodidak saja cukup?
Nah ada dua jenis musisi. Ada otodidak dan formal. Untuk otodidak, nggak semuanya bisa. Contohnya, Mas Erwin Gutawa. Nggak semua musisi bisa seperti dia. saya angkat topi sama dia.


Menurut Ko Amin, kalau mau menekuni musik harusnya gimana?
Ya sebaiknya sekolah sih. Ini paling aman. Karena nggak semua orang bisa seperti Mas Erwin. Buat orang tertentu bisa gampang secara otodidak. Tetapi buat orang yang lain, belum tentu. Kalau kita di sekolah musik yang formal pasti akan mendapatkan pengajaran basic yang kuat. Ini bisa jadi modal ketika nanti udah terjun dalam dunia profesional. Kita nggak akan kehabisan ide. Soalnya pada masa sekolah kita udah banyak explore. Di lapangan kita tinggal ngikutin perkembangan musik aja.


Sebaiknya juga sejak usia belasan tahun, kalo udah mulai SMP atau SMA baru belajar musik, biasanya itu telat. Harus belajar ekstra banget. Kepekaan kita itu banyak dilatih sejak usia dini. Kalo udah gede, kitanya udah kebentuk. Jadi sangat susah untuk mengarahkannya lagi. Liat aja akan lebih gampang mengajar anak kecil dibandingkan anak yang udah dewasa. Biasanya anak yang udah dewasa lebih gampang menjalankan sendiri dibanding mendengarkan orang lain.


Biasanya kan kalo baru lulus SMA rada susah nentuin pilihan kuliah. Apalagi kalau ada intervensi dari orangtua. Menurut Ko amin bagaimana ya?
Menurut aku, orangtua mana sih anaknya nggak mau maju. Persoalannya kita juga harus menunjukkan apa yang kita maui. Kita juga harus menunjukkan dengan prestasi. Jangan asal mo milih aja. Tapi tidak dengan dengan perbuatan kita. Saya sangat yakin orangtua kita pasti mendukung.


Menurut Ko Amin standar sekolah musik di Indonesia sudah memenuhi syarat atau belum sih?
Belum banget. Masih jauh, untuk membuat sekolah yang baik haruslah juga guru-gurunya yang terbaik pula. Guru-guru yang saya temui selama kuliah di Amrik, mereka sangat bertalenta mengajar. Jadi nggak jarang keluar banyak siswa-siswa yang luar biasa berbakat. Tambah lagi, pemerintah di sana juga mendukung. Saya pikir ini semuanya satu paket. Nah, apa yang saya lakukan di Chapel Music Ministry, adalah salah satunya ini. Saya rindu anak-anak muda bisa tertampung kreatifitasnya di musik. Melalui wadah ini saya pengen anak-anak muda bisa berkembang. Silahkan aja bergabung dengan kita. Kita tunggu. Sekarang ini kita udah punya Chapel Band, Chapel Singers, Chapel Choir dan terakhir kita udah buat Chapel Music Course.


Harapan buat anak-anak Ko Amin apa?
Manfaatkan usia yang masih muda. Lakukan sesuatu yang positif sekarang untuk di masa depan. Karena apa yang kita tabur sekarang, tuainya entar setelah tua. Jangan buang-buang waktu. Penyesalan selalu datang diakhir. Secara umum anak muda pengen cepat jadi lias instant. Pengen terkenal dan dapat pengakuan. Semuanya itu ada prosesnya. Harus melewati latihan yang luar biasa.


Kalau kita ngomongin gereja, menurut Ko Amin tentang musisi gereja?
Banyak musisi gereja yang sebenarnya bisa main musik, tapi hanya bisa main saja, nggak pernah menempuh pengalaman yang formal. Harusnya berani menambah skill lagi, biar urapan dan skill bergabung, akan menghasilkan impact yang luar biasa. Kuncinya ya di SDM-nya. Balik ke orang-orang yang punya hati membangun musik gereja lagi. Kita harus mendidik musisi gereja. Kalau kualitas bermusik mereka bagus pasti menghasilkan musik yang luar biasa.


Kendala-kendala gereja secara umum apa sih ?
Biasanya soal paradigma. Kalo setiap anak Tuhan punya pandangan luas, Tuhan pasti ikut bekerja. Nggak ada yang mustahil. Kalau ternyata uang adalah masalahnya, DIA pasti memberkati. Alat-alat musik pasti terbelilah. Akhirnya, SDM-nya pun akan pasti banyak yang lahir. Masalahnya di pola pikir.


Gereja biasanya kurang bisa menerima sesuatu yang baru, apalagi kalau kita ngomongin musik ?
Kita lihat sejarah musik dulu deh. Sejarah musik kristen itu sendiri berasal dari budaya Mesopotamia lalu berkembang ke Timur Tengah. Lalu berkembang lagi ke klasik. Terus berkembang lagi ke modern. Jadi musik itu sebenarnya luas sekali. Jadi gereja nggak bisa bilang musik yang bener ini ato itu. Kalau memang mau nggak berubah, harusnya musik gereja cuman gambus, ceracap dan kecapi dong? Yang lainnya nggak boleh. Nah, ini kan nggak sesuai dengan jaman lagi. Tuhan justru mau kita berkembang. Kapasitas kita menjadi lebih besar lagi.


Menurut Ko Amin mengapa kok gereja bisa sampai mengkotak-kotakan musik gitu?
Setiap orang lahir dalam generasi yang berbeda. Kalo kita nyaman dalam satu generasi kita, ketika lahir generasi yang berikutnya kita akan gusar. Rasanya aneh dengan hal-hal yang baru. Padahal bayangkan coba seandainya kalo kita sendiri yang dianggap aneh. Pasti nggak bisa terima juga. Yang paling penting dari semua adalah, generasi yang tua harus tetap belajar dan mengikuti perkembangan jaman. Dan generasi yang muda juga harus belajar berkomunikasi yang baik terhadap orangtua.


Enakan mana sih, main di band ato orkestra?
Masing-masing itu lain disiplinnya. Misalnya main di orkes, dituntut disiplin yang cukup tinggi. Apalagi kalau kita lagi main akustik. Nggak boleh main keras. Kita harus mendengarkan yang lain. Kita nggak bisa seekpresif mungkin. Karena ada nada-nada yang dimainkan oleh teman-teman yang lain. Kalau kita di band cuma beberapa orang saja. Diband kita bisa berekspresi. Segala macam fell kayak apa juga bebas. Mau ngambil nada apa juga bebas. (pt, foto: pt, ist)


FAST FACT
- Lama pacaran ama istri hingga memutuskan menikah, 4 tahun. Kenalan pertama di kebaktian pemuda tahun 1984
- Bangun pagi, harus tersedia kopi
- Dulu pake kaca mata
- Lebih suka pake celana pendek ¾ dan t-shirt berwarna putih serta jarang banget pake sepatu yang tertutup. Meski terkadang dalam acara yang formal. Lumayan cueklah.
- Rambut panjang (kemungkinan kecil banget untuk dibotak, he he, red)
- Suka bergaul dengan anak muda. Mengayomi. Orangnya easy going banget
- Punya anjing lumayan gede. Namanya, Conan. (lumayan sering dibawa jalan-jalan, so ati-ati deket ama Ko Amin, hehe)
- Nyetirnya suka ngebut
- Pernah dipalak ama kapak merah di daerah Slipi. Hp-nya raib
- Jarang banget pake parfum
- Lumayan romantis
- Kurang suka olahraga
- Kalau main ke rumahnya pasti selalu ditawarin makan
- Di kamar mandinya banyak banget bacaan
- Orangnya rada last minute. Kalo uda gini, dia akan belain kebut-kebutan dengan waktu. Begadang, no problema banget
- Susah marah. Tapi kalau lagi marah, banyakan diamnya


Nama Lengkap :: Aminoto Kosin
Nama Panggilan :: Amin ato Ko Amin
Tempat dan Tgl lahir :: Medan, 18 Februari 1963
Anak ke :: 4 dari 6 bersaudara
Nama Istri :: Esther Harjadi
Nama Anak :: Pamela Kosin dan Nicole Kosin
Ayat Fave :: Semua yang di Mazmur
Minuman Fave :: Gado-gado, Seafood
Makanan Fave :: Air putih, Chinese tea, Coffe
Buah Fave :: Apel, Jeruk, Water Melon, Plum
Binatang Fave :: Anjing, Ikan
Buku Fave :: God Chaser en every Inspirational book
Musik Fave :: Semua Jenis Musik
Musisi Fave :: Pat Metheby, Lyle Mays, Dave Grusin
Film Fave :: Forrest Gump, Saving Private Ryan
Kartun Fave :: Walt Disney
Warna Fave :: Biru, Putih, Hitam
Sport Fave :: Renang
Motto :: Always do the best you can do
Pendidikan :: Barkle College of Music, Boston, USA