Showing posts with label DIARY. Show all posts
Showing posts with label DIARY. Show all posts

Monday, April 22, 2013

La Vita è Bella



La Vita è Bella
~ Jenny Jusuf ~


My life just getting worse. I’m lost. It’s a disaster.

SMS itu masuk ke handphone saya pukul sembilan pagi, tepat setelah saya ‘histeris’ menemukan hasta karya tikus di tong sampah kantor.
Bo, sampah berserakan dalam potongan-potongan kecil, dimana-mana ada bekas gigitan tikus, sampai plastik kresek juga dicincang mungil-mungil. *Okay, informasi nggak penting. Balik ke topik.*
Pengirimnya adalah seorang sahabat lama. Dengan cepat saya mengetik balasan, menanyakan masalahnya.
Sambil menunggu jawaban, saya mengerjakan tugas-tugas kantor, tetapi pikiran saya tak mau tenang.
Masalah, masalah, masalah.
Rasanya akhir-akhir ini hanya itu yang saya dengar; dimana-mana, dalam keluarga saya, kehidupan pribadi saya, sahabat-sahabat saya, bahkan asisten rumah tangga saya.
Ada yang mumet karena benturan berkepanjangan yang terjadi dalam organisasi yang dipimpinnya. Ada yang stress karena suaminya terlibat pelanggaran hukum dan terancam dideportasi dari negara tempatnya tinggal dan bekerja. Ada yang terlibat hutang ratusan juta pada bank dan terpaksa main kucing-kucingan dengan debt collector. Ada yang ayahnya sakit-sakitan sementara ia tak punya uang untuk membiayai pengobatan. Ada yang patah hati dan harus merelakan impian yang sudah dibangun sekian lama. Ada yang orangtuanya meninggal dan ‘mewariskan’ hutang yang sangat besar, plus segudang masalah di perusahaan. Ada yang kakak tersayangnya minggat dari rumah dan membuat satu keluarga panik jaya. Ada yang baru menikah dan merasa telah membuat kesalahan terbesar dalam hidup. Ada yang kehilangan anak, istri dan cucu pada waktu nyaris bersamaan karena sakit. Ada yang frustrasi karena terlalu keras berusaha menggapai impian dan mentok di tengah jalan. Bahkan ada yang sampai didiagnosa terkena mental disorder.
Hidup yang terus berputar ini memang tak pernah luput dari persoalan, dari yang sederhana sampai yang rumit. Tapi, kok kali ini banyak banget ya, yang dirundung *tsah* masalah dalam waktu yang sama? Dan semuanya bukan masalah ringan.
Dari semuanya, mungkin salah satu yang terberat adalah persoalan yang dialami seorang teman, yang sudah lama tidak saya jumpai. Kabar terakhir yang saya dengar, ia terlilit kesulitan ekonomi yang parah sampai tidak sanggup menghidupi keluarganya dan terpaksa ‘mengemis’ belas kasihan orang.
Bertahun-tahun lalu, teman saya terlibat penggelapan di sebuah perusahaan yang mengakibatkannya kehilangan reputasi dan nyaris dipecat. Setelah ia mengundurkan diri, tidak seorang pun yang tahu bagaimana kondisinya, sampai kawan saya bertemu dengannya beberapa bulan lalu.
Menurut cerita, kondisi teman kami itu sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus, tidak terawat dan tampak jauh lebih tua sampai sulit dikenali. Setelah gagal mendapatkan pekerjaan, ia memohon diberi bantuan uang sekadarnya.
“Ah, dia kayak gitu kan karena kelakuannya yang dulu. Dia yang milih jalan hidupnya sendiri, jadi biarin aja. Jalanin konsekuensinya, lah,” komentar seorang teman yang turut mendengarkan cerita itu.
Saya terdiam. Tiba-tiba mie ayam di depan saya tak lagi menggiurkan. Perut saya kenyang mendadak.
Saya tidak menyalahkan komentar itu. Semua orang bebas memiliki pendapat dan perspektif masing-masing. Namun, tak urung saya mencelos. Sepertinya memang jauh lebih mudah mencari maaf dari Tuhan ketimbang sesama manusia. Mungkin Tuhan jauh lebih mudah mengampuni karena Ia mahakuasa. Atau justru manusia yang harus malu, karena dalam kemahakuasaanNya Tuhan bisa saja menurunkan petir dari langit untuk membantai mereka yang berdosa, namun memilih untuk tidak melakukannya karena senista apapun seorang manusia, tak ada yang tak layak diberi kesempatan kedua?
Dan SMS-SMS yang saya terima, berita yang saya dengar dan baca, persoalan yang silih berganti sampai menyesakkan indera pendengaran dan hati...
AADD? Ada Apa dengan Dunia? *Halah*
Apakah dunia memang sudah semakin ‘sakit’? Bumi semakin tua, namun dari hari ke hari yang terlihat bukan dunia yang lebih baik, melainkan dunia yang semakin rusak, penuh kekacauan dan penderitaan, dimana seluruh penghuninya berlomba-lomba memuaskan keinginan sendiri dan memprioritaskan kepentingan pribadi atas nama ego.
Kita berjalan sendiri-sendiri, tak lagi bergandengan tangan - meski saya juga tak tahu kapan terakhir kali orang-orang di dunia ini bergandengan tangan dalam cinta. Atau pada dasarnya kita memang sekumpulan makhluk individualis, dalam arti sebenar-benarnya? Berkumpul, tapi tak bersatu. Bersama, namun tak beriringan. Berkelompok, tapi bergerak sendiri-sendiri.
Ketika seseorang ditimpa bencana, kita hanya menoleh sekilas, menatap dengan iba, menyuarakan sepatah komentar, lalu kembali memandang lurus ke depan, sibuk dengan jalan yang kita titi setiap hari. Karena hidup harus terus berlanjut dan semua orang memiliki persoalan sendiri-sendiri. Dan beban masing-masing. Dan perjalanan yang harus ditempuh.
Dan tulisan ini semakin nggak jelas arahnya. ;-)
Lepas dari apapun, ini yang selalu saya percayai sepenuh hati: entah hidup ini baik-baik saja atau penuh masalah, entah hati ini diliputi kebahagiaan atau kesedihan, entah tertawa atau menangis, setiap hari akan selalu ada matahari. Setiap hari akan selalu ada embun di pucuk pohon, udara segar pagi, kicau burung, angin semilir, derai tawa kanak-kanak, air putih menyegarkan, dan langit senja.
Setiap hari kita membuka mata dan menarik nafas. Entah sadar atau tidak, entah hati sedang gembira atau murung, entah optimis atau galau, entah kita berjalan sendirian atau menggenggam tangan seseorang, hidup memang terus bergulir. Maka, melangkahlah. Tapaki perjalanan yang belum usai ini.
Jika tiba saatnya melepas, lepaskanlah. Jika masih harus menggenggam, kepalkan jemari dan jagalah baik-baik. Jika tiba saatnya berhenti, berhentilah. Jika tiba saatnya beristirahat, duduklah di tepian. Jika tiba saatnya berjalan lagi, menapaklah. Jika tiba saatnya berlari, ambillah ancang-ancang. Jika tiba saatnya terbang, melayanglah tinggi.
Jika beban terasa berat menghimpit sampai tak ada celah untuk melantunkan sebait syukur, setidaknya bersyukurlah karena kita masih diberi pilihan untuk berbahagia (iya, saya percaya bahagia itu pilihan). Kita selalu bisa memilih untuk berselimut lara atau berterima kasih ke hadirat Sang Pencipta atas sebentuk rahmat bernama Kehidupan, yang masih dipercayakanNya kepada kita hingga detik ini.
Ya, berterima kasih, karena apapun yang terjadi, hidup adalah anugerah yang harus diisi dengan rasa syukur. Seperti kalimat cantik yang tersimpan di ponsel saya: La Vita è Bella. Hidup ini sungguh indah.
:-)
Saya cuma punya satu doa: berikan saya hati yang luas.
Untuk mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan; walau uluran itu mungkin hanya berupa usapan di punggung, tepukan di pundak, SMS menghibur, percakapan hangat, atau sekadar mendengarkan.
Untuk memberi tanpa mengharap kembali*. Untuk mencintai tanpa syarat. Untuk menerima perbedaan tanpa tergoda menghakimi. Untuk selalu membuka pintu maaf. Untuk mengesampingkan ego. Untuk terus bangkit, tidak peduli berapa kali pun saya tersandung dan jatuh. Untuk tahu kapan harus melambatkan langkah, kapan harus berhenti, kapan harus berjalan, kapan harus berlari. Untuk menerima hal-hal yang tidak sejalan dengan keinginan sebagai bagian dari hidup yang terus berproses. Untuk terus belajar, berkembang dan tumbuh dewasa...
...untuk senantiasa tersenyum dan tertawa bersama kehidupan, karena apapun yang terjadi, meski ia jauh dari sempurna, hidup ini indah apa adanya.

Ya, hati yang luas.
Hanya itu.

*Ada yang inget ini lagu apa? ;-D


Tuesday, April 24, 2012

Transformasi, Why Oh Why?


Transformasi, Why Oh Why?
~Diary Jenny Jusuf ~

Curhat saya kali ini lebih artikelitis *halah* (baca: menyerupai artikel).
Tulisan mengenai transformasi di sebuah majalah Kristiani mencuri perhatian saya, segera setelah saya membukanya. Saya tidak terlalu tertarik pada judulnya, melainkan pertanyaan yang tercetak besar-besar di halaman berwarna cerah itu, yang kurang lebih berbunyi: Akankah transformasi betul-betul terjadi di Indonesia? Kenapa justru banyak bencana terjadi di negeri ini? Apakah Tuhan lalai akan janji dan nubuatan yang Ia berikan bertahun-tahun silam melalui hamba-hambaNya?
Beberapa tahun lalu, istilah ‘transformasi’ begitu populer sampai menjadi semacam ‘ikon’ dalam Gereja. Dimana pun kita beribadah, kata ini tercetak besar-besar di spanduk, banner, warta jemaat, dan tidak henti-hentinya dikumandangkan dalam khotbah, pujian-penyembahan maupun persekutuan komunitas. Topik ini menjadi tema utama dalam Gerakan Doa Nasional. Semua orang terkena ‘demam’ transformasi (maafkan kalimat saya, tapi saya tidak bisa menemukan kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya).
Tahun demi tahun berlalu. Banyak peristiwa terjadi di negeri tercinta ini. Mulai dari kecelakaan pesawat terbang yang penuh misteri, wabah penyakit sampai bencana alam mahadahsyat yang mengguncang bangsa ini dengan sebuah pertanyaan besar: Di mana Tuhan? Kenapa Ia membiarkan semua ini terjadi?
Dan pertanyaan serupa (tanpa sadar) mulai menghantui Gereja, walau dalam wujud yang berbeda: Kenapa Tuhan berdiam diri dan tidak melakukan apa pun? Kenapa Ia membiarkan umatNya menderita? Bukankah Ia berjanji akan memulihkan Indonesia? Kenapa yang terjadi justru bencana dan berbagai peristiwa menyedihkan?
Pertanyaan itulah yang tersirat dalam artikel mengenai transformasi yang saya baca. Sejujurnya, pertanyaan tersebut mengusik saya. Secara saya tidak banyak menaruh atensi pada topik yang satu ini (baca: cuek bebek), saya nyaris tidak pernah mempertanyakan hal-hal tersebut. Saya memandang segala sesuatu yang terjadi ‘apa adanya’, dan walaupun sempat latah miris-miris dan panik-panik, akhirnya saya membiarkan peristiwa tersebut berlalu begitu saja.
Saya tidak pernah mempertanyakan why oh why ini terjadi, kok bisa, apa alasannya, dan seterusnya, sampai saya membaca artikel di majalah itu. Dan sejujurnya, saat membacanya pun, pemikiran pertama yang singgah di benak saya adalah, “Lha, kok jadi seperti ‘nyalahin’ Tuhan, ya?”
Seolah-olah, atas setiap hal yang terjadi, Tuhan-lah yang nomor satu ‘ketiban pulung’ dan dipertanyakan kedaulatanNya: Kenapa Ia berdiam diri? Kenapa Ia tidak bertindak?
Atau, karena Ia Allah yang berdaulat, secara langsung tak langsung kemahakuasaanNya dijadikan justifikasi atas berbagai ‘tuduhan’ yang memposisikanNya sebagai ‘terdakwa’, dengan pertanyaan, “Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Apa maksud Tuhan?” – yang bagi saya hanya terdengar sebagai ‘penghalusan’ dari: “Kok Tuhan menimpakan bencana ini? Apa salah kita?”
*Peaceahhh :-D*
Maafkan saya karena berkata seperti ini, tapi kok ya saya merasa, pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan ke Tuhan itu agak kurang adil. Kurang adil bagi siapa? Ya bagi Tuhan.
Apa kabarnya pemerintah daerah yang memilih tutup mata dan membiarkan pembangunan merajalela tanpa kendali sampai daerah resapan air tergusur sedemikian rupa? Apa kabarnya pengabaian prosedur standar maskapai penerbangan dan kesalahan teknis yang sama sekali luput dari kontrol? Apa kabarnya pabrik raksasa yang luar biasa sembrono mengolah limbahnya sehingga mengakibatkan luapan lumpur yang tidak terbendung? Apa kabarnya penebangan liar dan eksploitasi sumber daya energi yang berlebihan? Apa kabarnya polusi, pemborosan, kecerobohan dan perilaku sembarangan bin semena-mena yang tanpa sadar KITA lakukan setiap hari, di mana-mana, terhadap lingkungan sekitar?
Adilkah bila kita ‘menimpakan’ semua akibat dari perbuatan manusia kepada Sang Pencipta dengan melegalisasi pertanyaan: “Kenapa Tuhan membiarkan bencana ini terjadi?”
Saya membayangkan, seandainya Tuhan menempatkan diri sebagai ABG belasan tahun, barangkali Ia akan mengajukan argumentasi yang sama seperti Cinta kepada Rangga di film AADC: “Terus kalo gitu, salah gue??” ;-D
Tebak-tebak buah manggis: kira-kira sulitkah bagi Tuhan untuk membawa bangsa Israel masuk ke Kanaan hanya dalam beberapa hari perjalanan?
Jarak Mesir-Kanaan tidak jauh. Kalau tidak salah, sebuah analisa geografis -yang saya lupa pernah baca di mana- malah mengatakan, hanya diperlukan waktu sekitar dua hari dari Mesir untuk menyeberang ke Kanaan. (sekali lagi, ini kalau saya nggak salah ingat. Kalau ada yang punya informasi lebih akurat, monggodiralat. Untuk referensi, silakan baca Keluaran 13:17-18 :-) )
Lepas dari berapa lama waktu yang dibutuhkan, terbukti memang ada jalan yang lebih dekat untuk sampai ke Kanaan. Pertanyaannya, kenapa Tuhan tidak memilih jalan itu untuk menyeberangkan bangsa Israel?
Pemikiran kedua: Okay, taruhlah mereka tidak punya pilihan lain kecuali melewati padang gurun, memang padang gurun segede apa yang membutuhkan 40 tahun untuk diseberangi?
Pada proses timbal balik yang (selalu) terdapat dalam penggenapan rencana Tuhan, respon dan kesiapan orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah faktor yang sangat menentukan terwujudnya janji/Firman/nubuatan itu.
Kembali ke ayat di atas, saya menyimpulkan, alasan Tuhan membawa bangsa Israel berputar-putar sekian lama adalah karena –secara sederhana- mereka belum siap untuk memasuki Kanaan.
Belum siap dalam hal apa? Saya memilih untuk tidak menjabarkannya secara detil, karena bukan itu fokusnya. Lagipula, kepanjangan untuk dirinci di sini. ;-)
Lha kalau belum siap, ngapain dong Tuhan membawa Israel keluar dari Mesir? Tanyakan padaNya. Soalnya bukan saya yang menyuruh Musa menghadap Firaun untuk membebaskan mereka. *wink*
Saya ingat kalimat yang pernah Ia ucapkan pada saya beberapa tahun silam. Ucapan tersebut diawali dengan dua pertanyaan, dan sukses membuat saya mati kata: “Apakah menurutmu sulit bagiKu untuk membawamu mengalami perwujudan janji dan panggilanKu?”
Saya terdiam, namun dalam hati mengakui: sama sekali tidak sulit. Ya iyalah, Ia ‘kan mahakuasa. Pencipta langit dan bumi. Kalau Ia menghendaki, apa pun bisa terjadi dalam sekejap mata.
Pertanyaan keduaNya adalah: “The question is, are you ready?”
Kali itu, saya betul-betul diam. Otak saya blank seketika. Selama bermenit-menit, saya hanya bisa duduk di kursi tanpa bergerak. Seluruh pikiran saya terfokus pada dua pertanyaan itu, sampai Ia kembali berkata: “Apapun panggilanmu, apapun janji yang kau terima, biarkan tanganKu membawamu ke sana.”
Saat itulah saya mengerti.
Terlalu sering kita mencoba memahami Firman yang Ia sampaikan dari sudut pandang manusiawi, dan berusaha mewujudkannya dengan kemampuan manusiawi yang sangat terbatas tanpa menimbang dan menelaah hidup kita terlebih dahulu.
Tidak ada yang salah dengan berusaha mewujudkan Firman. Yang membuat usaha tersebut menjadi ngawur adalah ketika kita menjalankannya dengan kehidupan yang masih terkontaminasi ambisi pribadi, pemahaman yang keliru, konflik batin, bayang-bayang masa lalu dan pencemaran-pencemaran lainnya.
Tuhan lebih memilih janji-janjiNya tertunda, daripada melihat kita hancur oleh penggenapan janji tersebut.
Kenapa bisa hancur? Kalau itu dari Tuhan, kan, Ia sendiri yang akan menjagai kita? Betul. Tuhan akan menjagai kita saat kita hidup dalam FirmanNya. Pertanyaannya adalah, jika hidup kita masih memiliki begitu banyak lubang di sana-sini dan hati kita belum terbebas dari kontaminasi agenda pribadi; ketika Tuhan mempromosikan kita (sebagai bagian dari penggenapan rencanaNya), bisakah kita menjamin kita tidak akan hanyut oleh pesona promosi itu?
Ketika Tuhan melimpahkan berkat secara materi untuk digunakan membangun negeri, bisakah kita menjamin mata ini tidak akan silau oleh dana sekian ratus miliar di rekening kita?
Ketika Tuhan menjadikan kita terkenal untuk menyuarakan FirmanNya, bisakah kita menjamin hati ini tidak akan berpaling dari kebenaranNya yang sejati untuk mengejar kepuasan manusiawi yang dengan mudah bisa didapat dari kepopuleran tersebut?
Ketika Tuhan mengangkat dan menempatkan kita pada posisi yang strategis untuk membuat keputusan yang dapat berdampak besar bagi seluruh negeri, bisakah kita menjamin hidup kita tetap lurus dan kita tidak tergoda untuk menyalahgunakan posisi itu demi mencapai ambisi pribadi?
Ketika Tuhan memakai kita untuk memulihkan kondisi bangsa dan mata banyak orang mulai tertuju kepada kita, bisakah kita menjamin bejana ini akan senantiasa terjaga kemurniannya?
Bisakah kita memastikan bahwa hati ini tidak akan berubah ‘jahat’ ketika Ia membawa kita ‘naik’? Bisakah kita memastikan bahwa hati ini tidak akan terpaling oleh posisi, jabatan, uang, popularitas, dan segala hal gemerlap lain -- yang tidak mungkin kita nikmati ketika masih berada di ‘bawah’? Bisakah kita memastikan bahwa bejana ini tidak akan hancur (justru) saat Ia mulai memenuhinya dengan anggur?
Ini pertanyaan penting, Jendral.
Jika jawaban kita adalah “Yah…”, “Sepertinya…”, “Tidak”, atau “Ragu-ragu”; mungkin, mungkin saja, kita belum siap mengalami perubahan besar yang disebut Transformasi. Bejana ini masih memerlukan perombakan, pembentukan dan pemurnian untuk membuatnya tahan uji -- tidak akan rusak bila digunakan menampung anggur.
Saya percaya Tuhan memiliki panggilan pribadi atas setiap orang. Saya percaya Ia telah memberikan visi, janji dan Firman -- dan itu semua akan tergenapi. Saya percaya Transformasi akan terjadi. Saya hidup untuk melihat Transformasi terwujud, dan saya akan mengalaminya sendiri. Saya percaya Saudara adalah bagian dari penggenapan Transformasi itu juga.
Tapi, kapan?! Saya tidak tahu, dan sebaiknya kita berhenti bertanya.
Mulailah bekerja sesuai kapasitas dan porsi kita masing-masing, dan jalanilah setiap pembentukan yang terdapat dalam proses itu dengan setia.
Ia bukan Tuhan yang lalai dan melupakan FirmanNya sendiri. Penggenapan janji hanya masalah waktu, dan waktu itu berada dalam genggamanNya yang perkasa. Ketika bejana ini terbukti siap untuk dipakai, Sang Pembangun Ulung tidak akan menunda lagi.
Izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah pesan: apa pun janji yang pernah Ia berikan, dan apa pun panggilan yang ditetapkannya atas Saudara, izinkan tanganNya sendiri membawa Saudara menggenapinya.
:-)

dc
Copyright majalah GFRESH! www.anakmudanet.blogspot.com

Friday, January 13, 2012

Sibuk?


Sibuk?
~ Diary oleh Jenny Jusuf ~

“Jen, ini covernya, ada 5 alternatif. Soal ngerapiin biar penerbit aja, di sini susah euy, mati lampu mulu. Gw nggak bisa detail. Semoga kepake…”

Saya bengong berat baca e-mail yang singgah di inbox saya siang itu. Tiga hari sebelumnya, setelah merasakan euforia berlebihan karena naskah Kumpulan Cerpen saya (akhirnya) lolos seleksi penerbit, saya mengirim pesan pendek ke seorang sahabat slash mantan dosen Desain Komunikasi Visual yang lumayan jago dalam hal desain-mendesain. Saya minta bantuannya buat merancang ilustrasi untuk alternatif cover buku saya.
Sejujurnya, saya sempat ragu. Sahabat saya lagi ada di Dilli, Timor Leste, dalam rangka menunaikan panggilan hati. Sedikit banyak –dari cerita-ceritanya—saya mengetahui ‘parah’nya kondisi infrastruktur negara baru itu. Air sulit, harga barang kebutuhan pokok melambung, lingkungan dihuni anak-anak muda begajulan, sampai masalah kelangkaan listrik.
Yup, saking seringnya sambungan listrik terputus, sahabat saya sampai berujar, “Gue mendingan nggak ada air deh, daripada nggak ada listrik. Kalau nggak ada air, paling parah nggak mandi. Kalau tanpa listrik, nggak bisa kerja.”
Saya juga tahu, kesibukan yang dijalaninya di sana nggak sedikit. Mulai dari ngerjain tugas rutin harian, ngajar kursus bahasa Inggris ke pemuda setempat, nyusun program kerja, bikin newsletter, sampai ngurus segala hal yang berhubungan ama media. Plus kondisi environment yang nggak mendukung yang selalu bikin mood naik-turun. Saya nggak berani berharap banyak.
Saya kirim pesan pendek itu 29 Januari malam, plus petunjuk singkat soal rancangan yang saya pengen. Saya kasih tenggat waktu seminggu, lagi-lagi tanpa berharap banyak.
Tanggal 31 Januari siang, saya menemukan e-mail di atas dalam inbox saya, beserta 5 buah desain yang dilampirin dalam format CorelDraw X3.
Saya cuman bisa melongo jaya saking surprised-nya.
Koreksi. Saking surprised DAN nggak nyangka. *eh, sama aja, ya?*
Yang langsung terbayang di benak saya adalah: sosok sahabat saya yang duduk dalam kegelapan, berusaha bikin desain tanpa listrik dengan cuman disokong baterai laptop yang nggak seberapa dayanya.
Haduuuh. Terima kasih banyak, Jeng... you are the best!
;-)
Ini ngingetin saya pada seorang sahabat lain, yang taon lalu saya kirimi e-mail berisi belasan pertanyaan dalam rangka mewawancarainya buat rubrik ‘Profil’ di majalah gereja edisi terbaru. Nggak ada yang istimewa dalam wawancara itu. Yang bikin wawancara itu super-duper-spesial adalah karena sahabat saya sedang bertugas di Belanda selama setaon. Jauh ya, bow.
Jabatannya? Presiden Organisasi Mahasiswa Farmasi Sedunia.
Job desc-nya? Apa aja yang mengharuskannya pergi dari satu negara ke negara lain kayak kita belanja ke Cihampelas Walk atau Blok M. Sangat sering. Sangat sibuk.
Dalam salah satu sesi curhat, ia sempet cerita kalo tidur selama 2 jam semalam itu udah biasa buat dia. Kadang malah nggak tidur sama sekali. Belanda –yang merupakan base camp-nya selama menunaikan masa jabatan—cuman berfungsi sebagai tempat ‘transit’ belaka. Keliling dunia (yang dianggap kemewahan tiada tara oleh banyak orang) udah dialaminya, tapi dia nggak pernah bisa membanggakan kunjungannya ke negara-negara itu.
“Apa yang mau diceritain, lha gue kalo pergi-pergi cuma nyantol di dua tempat: bandara ama hotel. Nggak sempet kemana-mana. Balik ke Belanda juga cuman nge-drop baju kotor. Nggak tidur dan nggak makan mah udah biasa,” ceritanya geli.
Whoa. Itulah yang saya namakan sibuk.
Jujur, saya sempat merasa sungkan waktu mengiriminya belasan pertanyaan dalam kondisi serba-ribet kayak gitu. Nggak enak hati.
Mau tahu, berapa waktu yang dibutuhin sahabat saya buat menjawab SEMUA pertanyaan wawancara yang saya kirim itu?
Dua hari, bok. DUA HARI.
Jawabannya panjang-panjang pula. Lengkap dan detil dari A sampe Z, sampe saya melongo dengan suksesnya di depan komputer.
Duh... Terima kasih Tuhan, buat sahabat-sahabat nan baik hati ini.
Tapi, sebagaimana hidup penuh dengan kejutan dan warna, selain hal-hal menyenangkan tersebut, saya juga pernah ngalamin kejadian yang bikin pengen garuk-garuk tanah.
Sebulan yang lalu (sebulan setengah, tepatnya), saya mengirim e-mailberisi delapan pertanyaan ke seorang teman atas permintaan Bapak Gembala. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu nantinya mau dirangkum dan disadur menjadi sebuah artikel buat majalah gereja edisi terbaru.
Saya mengirim e-mail. Saya menunggu. Saya mengingatkan. Saya mengingatkan lagi. Dan mengingatkan LAGI. Saya mendesak. Saya mengiriminya SMS. Saya mengontaknya melalui kanal maya.
Jawaban nggak kunjung datang karena sebuah alasan yang sangat klise: SIBUK. Nggak sempat.
Kesibukannya apa? Nggak jelas. Dan saking seringnya dia menggunakan alasan yang sama, saya sampai ogah bertanya.
Berulang kali saya ngingetin kalo tenggat waktu penerbitan makin tipis. Tapi hasilnya nihil. Yang saya dapetin cuman permohonan maaf disertai alasan dan janji, “Nanti, deh, minggu depan.”
Sayangnya, ‘minggu depan’ versi saya dan dia ternyata berbeda. ‘Minggu depan’ yang saya ketahui adalah, seminggu SETELAH percakapan terakhir. ‘Minggu depan’ versi teman saya, mungkin seminggu setelah... ...entah kapan. Pokoknya depaa…an banget. Hehehe.
Setelah frustrasi mengejar dan menunggu tanpa hasil, akhirnya saya menceritakan masalah tersebut ke Bapak Gembala. Apa boleh buat, artikel itu terpaksa dibatalin. Untung saya masih punya tulisan cadangan buat ngisi slot yang kosong, walau sedikit terkesan ‘maksa’.
Bagaimanapun, bukan saya namanya kalau nggak ngeyel. ;-D
Di detik-detik terakhir pembatalan, saya sempet mengirim pesan ke si teman melalui kontak cakap Yahoo Messenger. Menanyakan kapan dia akan memberi jawaban yang udah tertunda (sangat) lama itu.
Selang beberapa menit, balasan muncul di layar komputer.

Aduh iya nih, belum bisa. Sorry ya. Lagi tied up nih...

Saya cuman tersenyum simpul. Sempet tergoda buat nanya, ‘emangnya sesibuk apa, sih? Ngapain aja sampe ngejawab pertanyaan segitu doang nggak ada waktu sama sekali?’, tapi akhirnya saya urungkan.
Sambil membiarkan kalimat itu tetap bertengger di sana, saya membuka e-mail.
Beberapa hari sebelumnya saya mengirim e-mail berisi ucapan terima kasih ke sahabat saya di tanah Timor, sekaligus nanyain nomor rekeningnya. Walau ilustrasi cover yang dibuatnya masih harus melalui tahap seleksi ama penerbit (belum pasti diterima), saya pengen menghargai jerih payahnya dengan membayarnya secara profesional.
E-mail balasan dari sahabat saya berada di urutan teratas inbox. Saya membukanya, menelusuri kalimat di dalamnya dengan cepat, dan lagi-lagi tersenyum simpul. Tapi senyum kali ini punya makna yang berbeda.

No need to pay, it's a present.

Salahkah saya, kalo saya berharap bahwa mereka yang mengaku ‘ingin memberi yang terbaik bagi Tuhan’ bisa lebih menghargai makna sebuah tanggung jawab seperti sahabat-sahabat saya ini? Yang meskipun sibuk luar biasa, tetap nggak mengabaikan pentingnya sebuah janji, bahkan bersedia ‘memberi lebih’? Yang nggak mendewakan kesibukan pribadi dan bersedia mengesampingkan rasa tidak nyaman demi kepentingan pihak lain, walau tindakan itu nggak ngasih keuntungan apa-apa buatnya?
Kita udah ngedapetin anugerah dan kasih karunia yang begitu besar dari Sang Penebus. Kita punya firman yang sanggup mengubah batu jadi roti. Kita mewarisi kuasa dari tempat Yang Mahatinggi. Seharusnya kita dapat berbuat lebih baik. Seharusnya kita-lah yang jadi contoh.
Ah, seandainya. ;-)