Sunday, August 29, 2010

GUARDIAN

Yohanes 15 : 13
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya

Beberapa waktu yang lalu saya menonton sebuah film berjudul GUARDIAN, film tentang drama penyelamatan di lautan lepas yang sangat ganas. di akhir film ini diceritakan seorang Guardian mati karena mengorbankan nyawanya agar nyawa sahabatnya diselamatkan, saat kedua Guardian ini tergantung pada seutas tali baja yang terikat pada helicopter yang siap mengevakuasi mereka berdua dari atas kapal yang hampir tenggelam karena badai ganas.

Sadarkah kita, bahwa terima atau tidak terima, ada seorang sahabat yang sudah berkorban berikan hidupnya agar kita tetap hidup, sama persis dengan film Guardian. Nama sahabat itu Yesus, ya.. Yesus melakukan operasi penyelamatan buat sahabat-sahabatNya, Yesus tahu saat Ia memutuskan untuk menyelamatkan kita, Ia harus sangat menderita dan kehilangan nyawaNya… Namun Yesus tetap melakukannya karena kasihNya yang begitu besar terhadap kita. Bahkan Ia taat sampai mati agar kita hidup di dalam kekekalanNya. KasihNya inilah yang harus kita peringati setiap hari, bahkan setiap detik. Dan menjadi alasan buat kita untuk mengasihi Tuhan Yesus dan mengasihi orang lain… karena Yesus telah melakukannya terlebih dulu. (ADON)

Saturday, July 31, 2010

Teman Bermasalah

Q
Aku punya temen, sekarang ini dia lagi punya banyak banget masalah. Beberapa kali dia curhat sama aku. Yang bikin sedih, dia selalu lari ke hal yang negatif kayak minum-minum, ngerokok, ngebolos, dsb. Aku pengen banget bantuin, setidaknya dia nggak lagi ngeroko, minum or bolos kalo kena masalah. (Confussing gal - somewhere)

A
Hmm… memang nggak banyak yang bisa kamu lakuin selain terus ngedukung dia. Gimanapun juga seseorang gak bisa ngerubah hidupnya kalo dia sendiri gak punya niat untuk berubah. Saya ngomong kayak gini bukan berarti menuduh gebetan kamu orang yang gak mau ngerubah hidupnya. Maksud saya, biarpun kamu ngebujuk atau ngelarang dia, niat untuk berubah itu harus dari dia sendiri, bukan dari kamu. Memang bujukan dan larangan mungkin bisa ngerubah kelakuan seseorang tapi gak akan bertahan lama. Tapi, hanya sekedar punya niat untuk berubah saja gak cukup, harus ada sesuatu yang memampukan orang itu untuk berubah.

Singkatnya, saya cuma mau bilang kalo yang paling dia perlukan sekarang sebenarnya bukan kamu, tapi Tuhan. Memang ini jawaban yang klise, tapi saya gak punya jawaban yang lain. Biarpun kamu dengerin curhatnya ratusan kali, negor dia ribuan kali sekalipun itu gak bakalan menyelesaikan masalah. Biarpun saya bisa jelaskan panjang lebar sebenernya intinya tetep sama, dia butuh Tuhan, gak ada yang lain. Kenapa? Karena cuma Yesus yang bisa memampukan seseorang untuk berubah.

Yang bisa kamu lakukan saat ini hanya dengan berada di dekatnya dan dengerin dia curhat dan sedikit demi sedikit sampaikan kalo Tuhan itu baik dan cuma Yesus yang bisa bantu dia. Jangan terlalu banyak menegur, itu bisa membuat dia jadi menjauh. Jangan terlalu memaksa ketika membicarakan tentang Yesus kepada dia karena bisa saja jadi membela agamanya dan kalian berakhir dengan ribut berdebat mempertahankan agama masing–masing. Bicarakan tentang Yesus pelan–pelan sedikit demi sedikit tiap hari. Kalo dia sudah mulai tersinggung dan marah, jangan diterusin, berhenti aja dan dengerin dia ngomong. Dalam kondisi stress kayak gini, telinga lebih berguna daripada mulut, ngedengerin lebih berguna daripada kamu ngomong terus menerus. Jangan lupa doain supaya waktu kamu ngomong, Roh Kudus bisa senggol–senggol hatinya. (min2)

Thursday, July 29, 2010

THE ROSE OF AMAZING GRACE - CERPEN

THE ROSE OF AMAZING GRACE


Sumi mengamati jari-jari Anie bermain di atas tuts-tuts piano. Tangannya ikut berayun mengikuti irama lagu yang sedang mengalun. Amazing Grace, karya lagu yang begitu mengagumkan itu sudah puluhan kali dimainkan oleh Anie, namun demikian setiap melodinya masih terasa indah di telinga Sumi.

“Bagaimana?” tanya Anie setelah berhenti bermain. “Apakah terlalu cepat?”

“Aku pikir sudah jauh lebih baik”, sahut Sumi seraya mendekati Anie. “Lagu ini indah sekali ya, An. Lagu ini mengingatkan akan anugerah Tuhan yang besar bagiku”, jawab Sumi. Ia menghela nafas sebenar. “Mengenal Yesus adalah sesuatu yang indah dan ajaib. Aku yang tidak ada apa-apanya ini dikasihiNya. Aku bersyukur sekali.”

“Sumi, setiap saat kamu selalu mengajarku bersyukur atas kasih Tuhan yang besar”, kata Anie meraih tangan Sumi. “Kamu anak Tuhan yang baik. Tuhan pasti sayang sekali padamu.”

“Tuhan mengasihi semua orang. Ia juga mengasihimu.” Tangan Sumi mengenggam tangan sahabatnya. “Aku ingin setiap hal yang kita kerjakan dapat menunjukkan kepada orang lain, betapa dalamnya kasih Tuhan kita itu.”

“Iya. Salah satunya dengan menyanyikan pujian ini”, jawab Anie. “Amazing Grace……how sweet the sound…”

“Lagu ini adalah lagu kesukaanku. Kalau aku mati nanti, kamu mainkan lagu ini untukku ya!”, kata Sumi sambil tersenyum.

“Kamu ini ada-ada aja”, ujar Anie memukul lengan Sumi pelan sambil tertawa. “eh, Sum, apakah aku harus ikut lomba itu?” tanya Anie kembali serius. “Aku nggak yakin bisa menang, Sum”

“Percayalah kamu pasti bisa!”, sahut Sumi bersemangat. “Besok kita beli formulirnya ya”, sambungnya.

“Berapa biayanya?”

“Biaya pendaftarannya sih tidak terlalu mahal, hanya dua puluh ribu, tapi kita juga harus memikirkan biaya transportasi dari Malang ke Surabaya”

“Aku nggak punya uang, Sum” Wajah Anie tampak sedih. “Adikku masuk sekolah tahun ini. Tabunganku habis untuk membeli seragam, tas dan buku. Tabungan ibuku cuma cukup untuk uang pendaftaran dan uang SPP bulan pertama”

Sumi merogoh kantong celana jeansnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop putih agak tebal.

“Aku tadi membuka celenganku”, kata Sumi sambil tersenyum senang. “Ternyata lumayan banyak juga. Ada enam puluh tiga ribu. Ini untukmu!” Sumi menyodorkan amplop itu ke Anie.

“Jangan! Aku nggak mau” Anie menggelengkan kepala seraya mendorong kembali tangan Sumi. “Itu kan tabunganmu. Kamu sudah menabung cukup lama. Simpanlah untuk keperluanmu di lain waktu”

“Sudahlah. Aku benar-benar ingin membantumu” Sumi menjejalkan amplop itu ke tangan Sumi. “Jangan kuatir. Aku kan masih bekerja, nanti aku akan menabung lagi”

“Sum, kamu baik”, ucap Anie menatap Sumi dalam-dalam.

“Kalau kamu menang lomba ini, kamu akan menerima beasiswa untuk sekolah musik di Singapore”, kata Sumi dengan mata berbinar-binar. “Aku ingin kamu belajar musik dengan baik. Kelak kamu dapat melayani Tuhan dengan hebat. Mainkan selalu lagu yang indah untuk Tuhan!”

“Thanks ya Sum!”, ucap Anie terharu. Ia tahu betapa tulusnya hati sahabat karibnya itu.

Anie mengenal Sumi sejak lama. Mereka selalu ke Gereja bersama-sama, sama-sama suka membaca, menyanyi dan sama-sama suka makan rujak manis. Anie sering membawakan rujak manis buatan ibunya untuk Sumi.

Biasanya, sepulang sekolah Anie memang membantu ibunya berjualan rujak manis di depan rumah. Dari hasil menjual rujak itulah, Anie dapat duduk sampai di bangku SMP. Tahun ini, ia naik kelas tiga SMP.

Lain halnya dengan Sumi. Ia harus berhenti sekolah dua tahun yang lalu. Penghasilan ayahnya sebagai tukang bangunan tidak mencukupi untuk keperluan mereka sehari-hari. Sumi harus bekerja untuk  membantu aahnya menyekolahkan dua adiknya yang masih SD. Sumi bekerja di sebuah toko yang menjual bunga-bunga segar. Ibu Ribka, pemilik toko itu sangat sayang pada Sumi. Selain jujur, Sumi rajin dan bersemangat sekali dalam bekerja.

Sumi sering membantu ibu Ribka merangkai bunga. Lama kelamaan, ia jadi pandai merangkai bunga sendiri. Bila hari sudah mulai sore dan toko hampir tutup, Sumi suka mencari satu atau dua tangkai bunga mawar untuk dibawa pulang.

“Sebenarnya untuk siapa sih bunga mawar itu, Sum?” goda ibu Ribka ketika Sumi meminta dua mawar merah muda untuk dibawa pulang.

“Untuk sahabatku”, sahut Sumi tersenyum.

“Sahabat apa sahabat?”, sambung ibu Ribka belum puas menggoda.

“Ah, Ibu ini. Ada-ada aja!”, kata Sumi merasa geli. “Ini untuk temanku, Anie. Dia suka sekali bunga mawar. Sebenarnya dia juga menanam mawar di rumahnya, tapi mawarnya nggak pernah berbunga ha..ha…” Sumi tertawa lepas.

Seperti biasa, sore itu sepulang dari toko, Sumi mampir ke rumah Anie.

“Wuah yang ini lebih segar dari yang kemaren”, ujar Anie senang melihat Sumi membawa dua tangkai mawar merah muda untuknya. “Makasih ya!”

“Besok kamu berangkat jam berapa?” tanya Sumi.

“Aku harus sudah ada di sana jam empat sore”, jawab Anie. Telunjuknya menunjuk jam tangan di pergelangan tangan kirinya. “Berarti aku naik bis dari sini kira-kira jam dua belas, sesudah makan siang”

“Kamu tampil jam empat sore?”, tanya Sumi lagi kurang mengerti.

“Lombanya memang dimulai jam empat. Pesertanya banyak dan aku, orang yang paling terakhir mendaftar. Jadi, sepertinya aku tampil agak malam”

“Jam berapa?”

“Kira-kira emh….jam enam”, sahut Anie.

“Aku akan bertepuk tangan paling keras”, ujar Sumi sambil berpura-pura bertepuk tangan. “Kamu mainnya yang bagus ya!”

“Lho, kamu mau mengantarku?”

“Enggak. Besok aku nggak bisa meninggalkan toko. Kamu tahu kan, kalau hari Sabtu banyak orang memesan bunga. Ibu Ribka memberiku ijin pulang lebih cepat. Jam tiga sore, aku naik bis dari sini. Mudah-mudahan, jam enam aku sudah sampai di sana”, kata Sumi menjelaskan.

“Bisa-bisa kamu pulang malam lho, Sum. Apa kamu nggak cape, besok pagi harus pergi kerja pagi-pagi?”, tanya Anie kuatir.

“Kamu nggak mau aku melihatmu di atas panggung?”

“Bukan begitu. Aku cuma…….”

“Sudahlah. Tenang aja”, sela Sumi. “Oh ya, aku baru dapat gajiku untuk minggu ini. Lumayan, untuk ongkos naik bis!”, sambung Sumi cengir.

“Sum, aku takut kalah”, kata Anie. Melihat semangat Sumi, ia jadi ragu tidak mampu memenuhi harapan teman baiknya itu.

“Percayalah! Tuhan akan menolongmu”, kata Sumi mengingatkan. “Tidak penting menang atau kalah, yang jelas kamu sudah berusaha. Selama kita tidak mencuri kemuliaan Tuhan, apa yang kita kerjakan Tuhan pasti berkenan”

“Maukah kamu berdoa untukku?”, tanya Anie memohon.

Sumi mengangguk, lalu mereka berdoa.

Keesokan harinya, Sumi tidak sabar menunggu sore segera tiba. Berkali-kali ia melirik jam di dinding. Syukurlah, banyak pembeli hari itu. Merangkai beberapa karangan bunga membuatnya merasa waktu sedikit cepat berlalu.

Sebelum meninggalkan toko, ia sempat merangkai beberapa mawar kesukaan Anie. Setelah dibungkus dengan plastik bening dan diberi pita, tak lupa ia merekatkan kartu ucapan yang sudah disiapkannya kemarin malam. Tulisan tangannya yang rapi berbunyi :

Kita bertemu, saling mengenal dan saling memberi

Anie suka bunga mawar, Sumi suka “Amazing Grace”

Mawar itu indah, Anugerah Tuhan itu ajaib

Semoga kita dapat menjadi bunga mawar yang indah

Yang selalu memancarkan kasih dan anugerahNya yang ajaib

Jam tiga kurang sepuluh menit, Sumi segera membereskan pekerjaannya. Setelah itu ia bergegas meninggalkan toko. Tidak lama kemudian, ia sudah ada di bis menuju Surabaya.

Di gedung yang penuh dengan penonton, terlihat Anie melangkah perlahan di atas panggung. Ia menuju piano putih berkaki tiga yang terletak pas di tengah-tengah panggung. Ia duduk di atas kursi piano. Tangannya dingin dan jantungnya berdegub kencang. “Tuhan, tolong aku!”, desisnya.

Anie mulai meletakkan jemarinya di atas tuts piano. Sebentar kemudian, terdengar permainan nada-nada yang penuh penghayatan. Setiap hadirin menikmati setiap melogi lagu “Amazing Grace” yang mengalun bagaikan angin yang sejuk di telinga mereka.

Sumi tak jauh dari situ. Lima belas menit yang lalu, ia sudah turun dari bis. Namun ia harus bertanya tiga kali, baru ia yakin jalan ke tempat yang ditujunya. Ia mempercepat langkahnya ketika melihat gedung besar yang ada di seberangnya. “Aku sudah sampai!”, serunya girang seraya berlari kencang menuju gedung itu. Tiba-tiba sebuah mobil kijang biru melesat cepat dari arah kanan. Sumi yang terkejut menjerit keras-keras. Tetapi terlambat, sang supir tidak sempat mengerem lagi. Bruaakkk!

Di dalam gedung, denting piano masih mengalunkan tembang indah “Amazing Grace”. Anie bermain dengan sebaik mungkin. Di telinganya terngiang pesang sahabatnya, “Mainkan selalu lagu yang indah untuk Tuhan!”

Sementara itu, orang-orang di luar sana mulai datang mengerumuni tubuh Sumi yang tergeletak di jalan. Dari hidung dan mulutnya keluar darah segar. Tangan kanannya masih erat menggenggam rangkaian mawar. Beberapa saat sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia tersenyum bahagia. Mungkin karena keinginannya dapat terpenuhi. Pergi ke rumah Bapa dengan diiringi lagu “Amazing Grace” dari kejauhan.

(untuk sahabatku, Anie dan Sumi). J. Liove

Wednesday, July 28, 2010

Orang PILIHAN TUHAN yang Salah Memilih

BELAJAR DARI SIMSON

Orang PILIHAN TUHAN yang Salah Memilih

Kelahiran Simson

Hakim-hakim 13:1-5

Simson adalah suatu fenomena! Lahir sekitar tahun 1110 SM, suatu kelahiran yang sama sekali nggak biasa-biasa aja, karena sebelumnya kota Zorah, kota kelahirannya dibuat gempar dengan munculnya seorang malaikat yang membawa pesan dari Tuhan buat mereka. Malaikat itu muncul di depan isteri Manoah, dan bilang bahwa : “...Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin."

Simson lahir sebagai orang yang istimewa, nggak ada yang bisa menolak hal itu. Dari cara lahirnya saja, hanya ada 3 kelahiran yang seperti itu dalam sejarah Alkitab selain Simson: kelahiran Ishak, Yohanes, dan Tuhan Yesus sendiri! Nama Simson punya arti ‘Matahari Kecil’, di jaman itu matahari sering jadi gambaran tentang kehadiran dan kebesaran Tuhan. Jadi Simson diharapkan bisa jadi wakil Allah buat bangsa Israel. Dan harapan itu memang terjadi, Simson jadi Hakim (pemimpin) buat bangsa Israel selama 20 tahun yang dahsyat banget, dan dia menjadi pemimpin Israel yang paling banyak ditulis di dalam kitab Hakim-Hakim. Nggak heran Paulus pun menulis tentang Simson sebagai pahlawan iman, sekitar 1200 tahun kemudian (Ibrani 11:32-33).

Simson tumbuh sebagai orang yang hebat. Dia punya janji Allah dalam hidupnya, dia pun punya kekuatan luar biasa dari Tuhan, kekuatan yang membuat dia bisa melakukan sangat banyak hal lebih dari orang-orang sebayanya. Simson tumbuh dewasa sebagai seorang ‘superstar’, dia jadi idola di tengah-tengah bangsanya.

Simson diperlakukan istimewa oleh banyak orang, tapi perlakuan istimewa ini juga yang nantinya membuat hidup Simson harus berakhir dengan cara yang tragis. Alkitab menulis semua itu dimulai waktu Simson jatuh cinta, dia jatuh cinta sama seorang gadis Filistin di Timna (Hakim-hakim 14:2). Orang tuanya sempet ngelarang, karena hal itu jelas-jelas nggak sesuai sama Firman Tuhan, jadian sama orang yang nggak seiman. Apalagi buat Simson, orang yang dipilih Tuhan untuk hidup kudus sejak di kandungan. Tapi Simson menjawab ‘Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai!’ (Hakim-hakim 14:3).  Simson bertumbuh sebagai orang yang susah dinasehati, dia berjalan semaunya sendiri! Bahkan suatu kali dia pergi ke Gaza, dan dia tidur sama seorang pelacur di sana (Hakim-hakim 16:1).

Simson mulai hancur ketika kasihnya berubah menjadi nafsu, dia tergoda oleh dosa, dan dia menyerah. Seringkali kejatuhan seseorang dialami di tengah-tengah kejayaannya, orang cenderung merasa hebat, merasa kebal terhadap dosa, dan akhirnya pelan-pelan tanpa sadar rencana Tuhan dalam hidupnya sudah dihancurkan oleh iblis.

Simson jatuh cinta sama seorang cewek yang sangat cantik dan menarik, namanya Delila (artinya centil; red). Delila nggak pernah bener-bener mencintai Simson, dari awal memang dia dibayar untuk menjebak Simson. Tiga kali Simson berhasil menghindar dari pertanyaan Delila tentang rahasia kekuatan Tuhan dalam hidupnya, tapi dia nggak pernah lari menjauh dari godaan dosa. Akibatnya iblis terus punya kesempatan buat membombardir kelemahan ‘Pahlawan Tuhan’ yang satu ini. Akhirnya nafsu benar-benar menguasai Simson dan membuatnya menghianati perjanjiannya dengan Tuhan (Hakim-hakim 16:16).

Simson ditangkap oleh orang Filistin. Dia kehilangan kekuatannya, dia kehilangan janji dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Matanya dicungkil, tangannya di belenggu dengan 2 rantai tembaga, dan pekerjaannya sekarang adalah menggiling (mungkin biji-bijian; red). Waktu raja-raja Filistin berkumpul, Simson yang disuruh ngelawak. ‘Pahlawan Tuhan’ ini jadi bahan tertawaan banyak orang, keadaan yang sangat jauh berbeda dari rencana Allah dalam hidupnya, ya sangat jauh berbeda dibandingin dengan cara dia lahir ke dunia, sangat jauh berbeda dibanding dengan masa-masa mudanya yang dipuja banyak orang.

Simson tahu dia gagal, Simson tahu dia udah sangat jauh dari rencana Tuhan, tapi bagaimana pun Simson adalah orang yang pernah mengenal Allahnya dari dekat. Simson mulai berdoa lagi, dia mulai memanggil Tuhan yang pernah dia kenal. Dia minta ampun untuk segala kesalahannya, dan minta kesempatan satu kali lagi. Tuhan adalah Allah yang membenci dosa, tapi nggak pernah membenci orangnya, dan Dia pun memulihkan kekuatan Simson. Simson mendorong tiang penyangga tempat raja-raja Filistin berpesta sehingga gedung itu runtuh. 3000 pemimpin Filistin mati di tempat itu, begitu juga dengan pahlawan Allah yang begitu fenomenal ini.

Rencana Allah secara keseluruhan nggak pernah gagal, tapi janjiNya buat kita secara pribadi sangat tergantung sama keputusan dan pilihan dari diri kita sendiri. Pilihan yang diambil Simson membuat iblis bisa menghancurkan janji Allah buat dia, bahkan iblis berhasil menghancurkan kehidupannya karena Simson memilih untuk nggak mau dinasehati, dan nggak peduli sama Firman Tuhan. Simson mengira bahwa ketidaktaatan bisa ditutupi sama pengorbanan/pelayanannya. Simson mengira bahwa karunia adalah segala-galanya di atas karakter.

anakmuda.net

gfreshmagazine.com

Tuesday, July 27, 2010

GADIS KECIL; 18 & 2

GADIS KECIL; 18 & 2


Apa yang bisa aku katakan tentang gadis kecil ini?

Bahwa ia menarik? Dan semua orang mengakuinya. Atau bahwa ia gadis kecil yang manis dan baru berusia 18 tahun dan bisa menarik semua  hati orang? Ah, semua pasti setuju.

Bahwa betapa kecantikan dan kesupelannya mampu membuat banyak pria jatuh hati dan bertekuk lutut? Tak akan ada yang pernah menyangkalnya.

Bahwa keramahannya mampu membuat semua mempercayainya? Tak ada keraguan untuk itu.

Tapi… mungkin juga semua tahu itu hanya masa lalu. Ah, gadis kecil ini…

Lihat dirimu, tegur sebuah sosok pada pantulan dirinya di cermin. Siapa kau? Kau bukan gadis kecil lagi.

Tak akan ada lagi kebanggaan bagi gadis kecil ini. Tak ada pujian, tak akan ada kepercayaan. It’s over…

Gadis kecil itu… entahlah, bagaimana menyebutnya. Dia terlalu muda, tetapi terlalu jauh melangkah. Dan ketika kakinya terjerat dan tak ada yang bisa membantunya keluar, tak kecantikannya, tak kesupelannya, tak juga kebanggaan masa lalunya. Pun orang-orang yang mengaguminya. Dan pria itu, yang katanya begitu memujanya, kemana dia?

Gadis kecil, dia terlalu muda untuk menanggung beban ini, tapi apa mau dikata? Dia baru 18, tapi sudah ada bentuk kehidupan di tubuhnya. Dan tanpa ikatan yang jelas.

Gadis kecil, 18 & 2 nyawa ada di dalam dirinya.

Sebentar lagi semuanya akan berakhir… Ada tekad yang tak terucap, namun kilatan pisau yang memperlihatkan betapa tajamnya benda itu seolah menguatkan.

Sebentar saja gadis kecil, sakit sedikit dan semuanya akan segera berakhir… tak ada malu, tak ada penderitaan, tak ada kecewa…Ah, suara-suara ini, terasa terus memenuhi gendang telinganya.



Tapi tahukah kau, ini akan berlanjut disana, dengan keadaan yang lebih mengerikan?

Gadis kecil itu mendapat ingatan bagaimana dia di Sekolah Minggu dan mendapat pengertian tentang surga dan neraka.

Aku akan masuk neraka…aku tidak mau…

Gadis kecil, dia berumur 18 dan lebih dari 8 tahun tak pernah lagi berdoa, ketika ingatan akan doanya di masa kecil mengalir begitu saja.

Tuhan ampuni saya yang sudah berdosa. Ampuni saya yang melakukan pelanggaran. Saya, saya…ah, waktu ternyata mengikis beberapa ingatannya. Tapi bukankah Tuhan mau mengampuni saya? Selanjutnya hanya kata-kata yang keluar dari hati yang penuh penyesalan dan keputusasaan yang terdengar. Saya mau terima Tuhan Yesus untuk memperbaharui kehidupan saya, menghapus dosa saya, sebagai Tuhan dan Juruselamat saya satu-satunya. Amin.

Gadis kecil, dia masih 18 dan ada 2 kehidupan di dalam tubuhnya tanpa ikatan yang resmi, tapi ada satu ikatan yang baru yang akan membawanya menjadi kehidupan yang berharga, karena baru saja ia menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. And you?

Monday, July 26, 2010

Generasi Muda yang Profetik

Tuhan sedang Membangkitkan Generasi Muda yang Profetik di Akhir Jaman.

Kisah Para Rasul 2 : 17

‘Akan terjadi pada hari-hari terakhir – demikianlah Firman Allah – bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu ayang tua akan mendapat mimpi’.

Tahu nggak? Sebenernya jadi generasi muda saat ini bener-bener exciting sekali! Generasi ini punya panggilan yang sangat unik dan spesial. Ada beberapa dasar untuk hal ini:

  1. Generasi muda saat ini adalah generasi yang hidup pada puncak pemulihan segala sesuatu yang Tuhan sedang kerjakan untuk membawa gerejanya masuk dalam kesempurnaan.

  2. Generasi muda saat ini bisa jadi adalah generasi yang terakhir sebelum Tuhan datang.

  3. Generasi muda saat ini hidup dalam puncak penggenapan nubuat Alkitab.

  4. Generasi muda saat ini punya potensi dan warisan profetik yang sangat besar.

  5. Generasi muda saat ini memiliki peran yang sangat penting dalam penuaian besar di akhir jaman.


Dari Firman Tuhan, salah satunya ayat di atas, kita bisa melihat bahwa Gereja akhir jaman akan hidup dalam dimensi yang profetik, maksudnya hidup di dalam hubungan yang intim dengan Tuhan, sehingga kuat sekali dalam mengenali isi hati Tuhan dan pergerakan Tuhan. Kita akan semakin banyak melihat anak-anak muda atau teruna-teruna di Gereja menyampaikan nubuat (pesan Tuhan) dan mendapat penglihatan secara supranatural yang tajam dan teruji.

Di Gereja mula-mula ada seorang pemberita injil yang bernama Filipus, yang memiliki empat anak dara yang beroleh karunia untuk bernubuat (Kisah 21:9). Jangan heran kalau Gereja di akhir jaman, akan semakin kuat bergerak di dalam kehidupan yang seperti itu. Hal tersebut akan menjadi jadi praktek sehari-hari dalam keluarga Kristen dan pelayanan Gereja. Dengan pengurapan untuk mengenali isi hati Tuhan itulah Gereja yang akan masuk ke dalam pelayanan yang nantinya berdampak untuk merubah lingkungan di sekitarnya.

Generasi muda, kalian harus dipersiapkan dan diperlengkapi untuk menjadi ujung tombak dalam penuaian, sedangkan kami dari generasi tua akan lebih banyak berfungsi sebagai bapak rohani. Generasi muda yang profetik akan lahir ketika generasi tua bergerak dalam fungsi dan kuasa apostolik (pengurapan untuk membangun, meletakkan dasar yang benar bagi Tubuh Kristus). Dengan kata lain, salah satu strategi penting dalam penuaian akhir jaman adalah membangkitkan generasi muda yang bergerak secara profetik. Generasi muda, kalian harus menyadari panggilan dan kesempatan luar biasa yang Tuhan sediakan untuk kalian! Ini adalah masa yang paling menggairahkan untuk generasi muda!

Ciri-ciri dari generasi muda yang profetik:

  1. Hidup dalam keintiman 24 jam dengan Tuhan (Yohanes 15 : 1-8)

  2. Berdoa, memuji dan menyembah seperti Daud (Mazmur 63)

  3. Merindukan hadirat Tuhan siang dan malam (Yesaya 26:9)

  4. Mendengar suara Tuhan secara pribadi (Yohanes 10: 1-5)

  5. Melayani dalam karunia-karunia profetik – perkataan hikmat, perkataan pengetahuan, membedakan roh, bernubuat (1 Korintus 12)

  6. Menyampaikan pesan dari Tuhan (Yesaya 61:1)

  7. Menyatakan isi hati Tuhan (Amsal 1:23)

  8. Mempersiapkan dan membawa gereja masuk ke masa depan (II Korintus 5:5)

  9. Menyatakan karakter Kristus (Galatia 5:22-23)


10.  Hidup dalam kuasa salib dan kebangkitan Kristus (Filipi 3:10)

OK, selamat memasuki masa-masa yang Tuhan sediakan bagi kalian. Majulah dengan berani di dalam Tuhan, jangan setengah-setengah! Raihlah semua yang Tuhan sediakan bagi generasi kalian dengan maksimal! (Jerri Lubis) anakmuda.net

Sunday, July 25, 2010

HARI TERAKHIR

HARI TERAKHIR


Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia ini?

Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kaucintai? Pergi ke tempat yang menjadi favoritmu? Atau sekedar mengunjungi kafe langganan dan menikmati makanan kesukaanmu untuk terakhir kalinya?

Hampir 6 bulan aku berpikir itulah satu-satunnya cara yang bisa aku lakukan agar aku bisa puas dengan kehidupanku dan bisa pergi dengan tenang, tapi ternyata ada yang kurang.

6 bulan! Begitu vonis dokter hampir 6 bulan yang lalu dan segala cara aku usahakan untuk membuat angka 6 itu bertambah, tapi kata-kata orang pintar dengan gelar dokter itu, itu hanya akan buang-buang tenaga dan jelas, uang. Tak banyak yang bisa dilakukan dengan kanker otak yang menguasaiku.

6 bulan bisa saja menjadi 8 bulan, setahun, tergantung. Mujizat bisa terjadi, berdoa saja…wah, aku baru tahu ternyata dokterpun punya alternaif lain bila tak mampu lagi menangani pasiennya. Disuruh menunggu mujizat, dan berdoa!

Hmmm….kalau saja berdoa semudah memakan pil-pil dan menerima suntikan dari dokter, dengan senang hati aku akan melakukannya. Tapi…jangan kaget, seumumr hidupku, sampai usiaku 23 ini aku tak pernah berdoa. Aku tak kenal Tuhan. Aku tak tahu Dia ada. Temanku yang baru kukenal 2 bulan menyanggahnya.

“Dia seperti matahari, selalu muncul, selalu bercahaya.”

“Dan statis, selalu dari timur ke barat, begitu?”

“Dia setia, tak pernah berubah dengan janjiNya. Selalu pasti, ya dan amin.”

“…”

“Seperti batu karang itu, kokoh, memberi perlindungan pada apa yang  ada di belakangnya.”

“….”

“Seperti…tukang kerajinan keramik,”wah, perumpamaan aneh. “Akan membentukmu, bahkan mengubahmu dengan sempurna.”

Dia  mampu membuatku tertawa, tawa pertamaku hampir 6 bulan ini.

“Aku sudah 23, apa lagi yang mau di ubah? Bagaimana mengubahnya? Itu mustahil!”

“Asal semuanya mau kau serahkan. Hanya hatimu yang perlu diubah. Dan semuanya akan mengikuti.”

Matahari mulai tenggelam, deburan ombak semakin terdengar dan angin semakin kencang menerpa kulitku. Tak banyak orang yang tersisa. Mungkin mereka pulang, membersihkan badan dan beristirahat untuk menyambut hari esok. Tapi aku, apa yang akan aku jelang esok jika aku tahu, deadline kehidupanku besok?

Jika aku tak bisa membuka mata lagi di dunia ini, akankah aku terbangun di dunia lain? Akankah ada kesakitan? Akankah ada api neraka seperti yang di katakan temanku? Aku tak kenal Tuhan, sedang Tuhan yang punya surga. Aku takut dengan kesakitan lain yang tak dapat kubayangkan, tak mau di neraka, tapi tak ada tempat antara surga dan neraka. Aku mau ke surga, dan kata temanku, aku harus terima Tuhan.

Dan aku baru tahu, ternyata mudah untuk menerima Tuhan dan mendapat karcis ke pintu masuk untuk ke surga. Kau mau dengar ini?

Tuhan Yesus, aku tahu sepanjang hidupku aku nggak pernah mengenalMu tapi aku tahu tak pernah terlambat untuk itu. Saat ini aku buka hatiku untuk menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku yang hidup. Ampuni segala dosa dan pelanggaranku. Terima kasih Tuhan, Amin. (eirenes, anakmuda.net)