Monday, May 21, 2012
SIBUK MERENCANAKAN HIDUP
Thursday, July 8, 2010
Nindy Ellesse
Nindy Ellesse
Tampil apa adanya, suka bacanda ala Manado.., pokoknya nggak bakal bosen deh bila denger celoteh Nindyani Karyawati nama lengkapnya, kelahiran Ambon manise ini, 16 April 1967. Anak ke dua dari lima bersaudara ini selalu aja mempunyai joke-joke segar yang dapat mengocok perut kita, walau terkadang kedengarannya konyol dan terkesan mengada-ada. “ Bener lho ini cerita serius dan beneran....“ ujarnya membela diri.
Jeremy Timothy Laoh yang baru saja lahir 9 Mei 2001 lalu adalah buah cintanya dengan Willem F. Laoh, “Keluarga ini harus bisa menjadi proyek percontohan keluarga kristen, bisa memberkati banyak orang”, ujar Nindy sangat bersemangat sembari menyantap kuenya.
Apa aja sih kegiatan Nindy sekarang?
Sekarang ini kegiatan aku diluar pelayanan sebagai host di acara rohani SURAT (yang akan segera ditayangkan stasiun TVRI), aku juga pembawa acara Santapan Nusantara di TPI, sering juga diundang nyanyi di persekutuan-persekutuan atau di gereja-gereja, pokoknya semua ini demi kemuliaan Tuhan.
Bisa ceritain masa muda Nindy dulu?
Masa muda saya sungguh sangat berat. Hubungan saya dengan orang tua nggak terlalu istimewa. Ayah saya adalah orang Padang, sedang ibu saya orang Ambon, tetapi sewaktu mereka mau married ayah saya masuk kristen. Masa kecil saya tidak terlalu banyak saya ingat karena kehidupan masa kecil saya nggak terlalu happy. Rumah tangga ayah ibu saya sering cekcok, dan ini mengakibatkan saya menjadi minder, punya perasaan pahit, nggak punya gambar diri yang jelas. Terus ketika berumur 12 tahun saya benar-benar kecewa karena ayah ibu saya bercerai. Katanya orang kristen tapi kok cerai! Kok orangtua saya ngelanggar Firman Tuhan. Kehidupan dalam keluarga kami yang sangat berkekurangan. Rumahpun nggak punya, artinya kita-kita harus sampe ngontrak dan pernah karna nggak bisa bayar kontrakan rumah, ibu saya harus nitipin kita-kita ke sodara-sodara kita. Ujian yang kita hadapi sungguh sangat berat. Tetapi Tuhan sangat baik. Saya dikaruniai suara yang bisa memberkati dan keluarga kitapun diberkati. Sedikit demi sedikit saya dapat menyimpan uang untuk ngangkat keluarga saya. Membiayai adik-adik saya dalam bersekolah.
Ibu saya nikah lagi. Ayah tiri saya adalah orang Ambon. Saya nggak welcome, mungkin karena itu ayah tiri saya juga nggak welcome juga sama saya. Ayah pemalas, nggak mau kerja, suka main judi, mabuk-mabukan dan suka main pukul. Saya lihat kelakuan dia ini nggak boleh dibiarin terus begini, sampai suatu kali saya tantang ayah tiri saya. Akhirnya saya dan dia kena akibatnya, saya luka 18 jahitan di kepala, dan ayah tiri saya nggak berani pulang lagi karena om saya nuntut dia ke kantor polisi.
Waduh, Nindy punya luka hati dong?
Tadinya iya, tapi sekarang sudah nggak, saya benar-benar mengampuni ayah tiri saya. Saya udah mengalami pelepasan atas keterikatan dari semua itu. Proses pelepasan saya sampai tiga kali, luka hati saya, dosa-dosa yang saya buat sendiri dan kutuk. Karena saya pernah dimandiin kembang sama ibu saya, apalagi saya dulu suka diramal tangan.
Gimana Nindy sekarang mengenai masa lalu itu?
Sekarang saya sangat paham kalo kehidupan saya dahulu itu adalah salah dan kehidupan yang sangat nggak kudus, yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Masa lalu adalah masa lalu. Masa lalu nggak bisa diubah. Itu hanya menjadi sejarah. Tetapi semua latar belakang kita, dapat Tuhan pakai untuk mengubah dan memenangkan setiap jiwa-jiwa. Ketika saya bersaksi dalam persekutuan-persekutuan, di gereja-gereja atau dimana aja, saya yakin semua yang saya perkatakan akan dapat memberi kabar baik buat orang tersebut. Karna saya sekarang ini dapat berubah, bebas dari keterikatan narkoba, rokok, nonton film yang nggak benar, dan pacaran yang nggak kudus, Tuhan mau saya ada dalam rancanganNya. Setiap kita sungguh berharga di mata Tuhan. Kalo Tuhan mampu ubahkan saya, kenapa enggak dengan orang lain juga.
Ada bekas-bekasnya atau dampaknya nggak sekarang?
Begitu saya terima Yesus, saya adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu dan sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan kalopun ada yang ngomongin, biarin aja dan saya tetap pegang Firman Tuhan. ‘Nindy’ yang dulu udah ‘mati’. Sesungguhnya Nindy baru udah lahir.
Kalo dampak di pergaulan sehari-harinya gimana ?
Manusia itu kompleks. Datang dari berbagai latar belakang. Pasti ada aja memberi komentar-komentar miring. “ Jangan terlalu fanatiklah, jangan terlalu ekstrimlah entar elu nggak laku lagi lho . . . !” komentar-komentar beberapa teman-temannya aku. Tetapi saya selalu akan berusaha membuat dampak. Dan dampak tersebut adalah dampak positif yang datang dari Tuhan. Bagi saya, mau laku atau nggak laku itu bukan urusan manusia. Berkat itu datang dari Tuhan. Dan dengan pernyataan-pernyataan tersebut banyak juga anak Tuhan yang nggak sanggup. Tapi kalo saya, siap pikul salib.
Terus kenalannya dengan Willem-nya gimana ?
Saya bertobat di Jakarta Praise Center, Oktober 1995. Pertama-tama saya datang niatnya hanya nemenin teman saya untuk ibadah di persekutuan JPC, daripada nggak ada kerjaan, ya udah datang ibadah aja pikir saya.
Waktu itu Pak Jeffry Rahmat yang khotbah, jadi semangat saya untuk datang makin lebih lagi. Karena saya udah kenal lebih dahulu siapa Pak Jeffry. Tetapi ternyata tidak ada yang kebetulan buat Tuhan. Saya datang hanya iseng-iseng, ternyata saya bener-benar dijamah Tuhan. Pada waktu altar call saya langsung maju, padahal saya duduk paling belakang, pake baju ketat dan celana ketat, tapi tetap saya maju ke depan. Orang-orang pada ngeliatin. Tetapi keputusan kita hari ini adalah yang menentukan masa depan kita yang akan datang. Saya memutuskan untuk maju walaupun saya yakin ada yang mencibir.
Mulai dari sini, saya terus mencari Tuhan dan membuka hubungan pribadi dengan Tuhan. Saya mulai haus dan lapar akan Tuhan. Karena pada waktu itu karya dan jamahan Tuhan dalam hidup saya banyak Tuhan buat lewat hambaNya, Pak Jeffry, maka saya akhirnya lebih banyak terlibat dalam pelayanan dengan dia.
Nah, suami saya ini juga yang melayani di tempat ini. Pada awalnya kita hanya temanan biasa aja. Perkenalan kita makin lebih lagi karena dia ini sering nguatin saya. En, kita sering ketemu dalam banyak kegiatan, akhirnya kita memutuskan untuk masuk ke tahap yang lebih serius. Kalo kata orang pacaranlah. Dan, 2 Juni 1998 kita nikah deh setelah kita pacaran delapan bulanan. Jadilah sekarang . . . .
Ada beberapa artis yang Nindy bawa pada Tuhan juga, ya?
Segala kemuliaan buat Tuhan..., mungkin karena saya udah ngerasain jamahan Tuhan akhirnya membuat saya rindu setiap jiwa juga ngerasain jamahanNya. Jadi setiap kali ketemu artis Kristen, saya selalu berusaha mengundang mereka untuk datang ke persekutuan saya dengan teman-teman. Terus tidak gitu aja, kan sekarang ini aku udah nggak ngerokok lagi, nggak mau ngedugem (dunia gemerlap), nggak ada narkoba lagi, pokoknya biar mereka lihat perubahan dalam hidupku yang bisa jadi teladan.
Makanya saya selalu mencoba untuk masuk ke mereka. Saya nabur terus. Karena apapun yang diucapkan, bila itu disebutkan di dalam nama Yesus tidak akan pernah jadi sia-sia. Jadi apa yang kita tabur pasti kita akan tuai nantinya. Dan masalah mereka mau merespon, puji Tuhan banget, kalopun nggak kita serahin aja bagian itu kepada Tuhan.
Kira-kira anda punya saran untuk bisa membuat anak muda menang dalam dalam setiap peperangan ?
Kita harus tahu panggilan hidup kita, dan kita hidup harus benar-benar hidup dalam rencana Tuhan, kalo kita mau lakukan itu pasti kita punya kekuatan untuk menghadapi setiap peperangan. Nggak menjamin sih kalo kita terima Yesus berarti kita udah kebal dosa. Kalo hidup kita nggak berjaga-jaga, sewaktu-waktu bisa juga jatuh lagi, apalagi kalo kita memang buka celah. Tetapi kalo kita jaga keintiman ama Tuhan, kita akan lebih peka dalam keseharian kita. Malaikat Tuhan akan memagari kita dalam kehidupan kita sehari-harinya. Akhirnya kita bisa bedain yang mana hitam, yang mana abu-abu, dan yang mana putih. Kita pasti dikasih tahu, saya yakin setiap dosa mau mendekati kita, pasti ada suara dalam hati yang bilang, jangan!, karena saya yakin Immanuel Elohim itu benar-benar ada, dan menyatu dalam setiap kita, setiap anak Tuhan. Sensor dari Tuhan pasti ada dalam diri kita. Jadi kita nggak usah takut untuk bergaul, nggak usah buat gap antara kita dan mereka yang belum dalam Tuhan. Kita nggak perlu jadi kuper dan nggak ngerti apa-apa tentang perkembangan jaman, asal kita hidup sungguh-sungguh di dalam prinsip dan sensor yang Tuhan kasih buat kita. Tapi jangan juga mentang-mentang udah anak Tuhan terus kita asal nantang aja. Misalnya langsung mau ngelayani orang yang jatuh akibat narkoba atau orang-orang yang ada dalam pelacuran, wah.. kalo kita belum siapin senjata rohaninya dan belon punya hati yang sungguh-sungguh bertobat, bisa-bisa kita yang diseret ama mereka. Kalau mau menang kita harus radikal setiap hari. Jauh dari dosa.
Peperangan setiap kita itu kan berbeda-beda. Semenjak saya bertobat, eh... malah order yang saya terima makin dikit. Katanya kalo ikut Tuhan hidupnya diberkati, lho kok malah hidup saya makin seret, lirih saya kala itu. Ini jadi tanya besar dalam hidup saya, tapi karena saya semakin bertumbuh dekat sama Tuhan, saya ambil keputusan: ‘walaupun Engkau tidak memberkati saat ini, saya tetap ikut Tuhan!’. Saya benar-benar buktikan hal ini, dalam penganiayaanpun saya mau tetap setia sama Tuhan.
Setelah Anda menjadi ortu, apa yang bisa dibagiin?
Buat anak saya setiap pagi saya bacain Firman Tuhan dan berdoa buat anak saya, di dalam nama Yesus. Karena saya percaya perkataan dari mulut orang percaya itu punya kuasa. Dan saya nggak mau pengalaman saya terulang dengan anak saya. Saya pengen anak saya nantinya bisa menjadi berkat bagi setiap orang. Terserah dia dalam memilih profesi, saya yakin apa pun itu dia akan ada didalam rancangan Tuhan.
Nah, cerita soal hubungan Nindy dengan Tuhan!
DIA bisa sebagai Bapak saya dan juga bisa sebagai Sahabat saya. Tapi beberapa anak Tuhan saya lihat ‘saking dekatnya sama Tuhan’ malah ada yang kelewatan. Memang Dia teman kita. Tapi Dia adalah Tuhan yang Agung, yang juga ciptain langit dan bumi ini. Bukan berarti Tuhan mau kita formal-formal banget sama Dia, tapi kita musti ingat kalo Dia adalah Allah kita. Pokoknya saya minta hikmat aja deh terus ama Tuhan supaya saya bisa bersikap benar di dalam Dia.
Buat saya Tuhan itu lebih dari segalanya deh..., kalo nggak punya uang saya ngadu sama Tuhan, atau kalo lagi berantem atau kekurangan kasih sayang atau nggak bisa ngelakuin sesuatu, ya... saya juga ngadu sama Tuhan. Saya sediain waktu setiap pagi atau malam, bersama suami untuk membangun tahta menghadap Tuhan (Berdoa, muji nyembah & baca FT; red). Pokoknya berserah sama Tuhan aja, Dia hanya sejauh doa.
Kelihatannya Anda sekarang lebih concern pada pelayanan kaum wanita ?
Sebenarnya pengurapan itu datang kepada setiap kita, tanpa lihat gender. Wanita juga bisa dipake Tuhan, lihat aja Ester, keselamatan datang bagi Israel melalui dia. Tuhan Yesus juga datang dari dara Maria. Dan orang yang dekat dengan Yesus juga banyak yang wanita. Masih banyak lagi wanita yang dipakai oleh Tuhan dan benar-benar diurapi. Kita dipakai sebagai penolong kepala, imam atau sang pria dan bukan mengambil alih. Kebanyakan wanita sekarang tidak tahu tempatnya dimana, begitu kariernya lebih tinggi dari sang suami, udah deh... jadi sembarangan, mulai perintah-perintah suami. Ini perlu pemulihan, sebagai istri kita harus benar-benar jadi penolong bukan perongrong.
Apa pesan Nindy tentang pacaran anak muda?
Sebenarnya masa pacaran yang lama nggak berarti kita bisa mengenal pasangan kita. Karena semasa kita pacaran banyak palsunya. Karena setiap orang akan ada usaha untuk nutupin siapa sebenarnya dia, yang penting dia harus dapetin cowok atau cewek yang dia kejar. Jarang sekali pasangan itu tampil apa adanya. Nah, inti dalam mendapat pasangan yang tepat adalah ‘apakah pernah kita tanya sama Tuhan tentang pasangan kita?’. Dan buat anak Tuhan, kalo mau cari pasangan carilah yang anak Tuhan, yang seiman, karena kita sama-sama tahu kebenaran itu sehingga Tuhan bisa memimpin masa depan kita.
Gimana cara Nindy mempertahankan rumah tangga sementara banyak artis akhir-akhir ini kawin cerai?
Kita nggak pernah ngambil keputusan untuk bercerai, apapun yang terjadi di rumah tangga kita. Sebab kalo sampe kita bercerai lalu kita married lagi, Firman Tuhan mengatakan kalau itu adalah perzinahan juga. Saya yakin manusia nggak ada yang sempurna. Kalo pun kita udah diberkati dan udah melalui proses yang panjang, perkawinan kita nggak akan selalu mulus setiap saat. Ada aja masalah yang bisa muncul, namanya juga hidup. Yang penting, harus selalu sadar dan ingat rencana Tuhan pada setiap kita, kita ini berharga, dan selalu cari Tuhan. Akhirnya kita akan dimampukan memahami karakter pasangan kita, mampu untuk rendah hati, mampu mengampuni pasangan kita. Siapapun dia nantinya.
Contohnya yang saya alami. Tipikal saya adalah kolerik dan suami saya melankolis. Ini kan dua kepribadian yang berbeda, tapi kan ada Yesus yang memampukan saya untuk dapat memahami dia. Kedua, kita saling percaya dan kita tahu kalo kita berbuat dosa itu salah dihadapan Tuhan. Jadi dimanapun saya berada atau suami saya berada, kita percaya Tuhan ada di situ. Pernah saya pelayanan satu setengah bulan di Amerika, tapi suami saya nggak apa-apa. Kita tahu pertanggunganjawaban dosa bukan sama manusia, tapi langsung kepada Tuhan.
Jadi dalam membangun keluarga, saya benar-benar melibatkan campur tangan Tuhan. Awal saya married, suami saya nggak kerja. Nganggur lebih kurang sepuluh bulan, saya bener-bener gemas sama dia. Tapi saya tahu rencana Tuhan terhadap keluarga ini. Setiap malam ketika suami saya udah tidur, saya tumpang tangan kepada suami saya. Pokoknya saya percaya, kalau kita mengasihi Tuhan dan mau hidup sesuai FirmanNya, maka semua yang kita alami ada dalam rancangan damai sejahteranya Tuhan. Kalo enggak gitu, bisa-bisa persoalan ngorok atau salah pencet pasta gigi aja, bisa bikin kita cerai. Padahal sepele banget kan.
Makanya anak muda pikir dulu sebelum kawin! Tapi jangan terlalu banyak mikir sehingga nggak kawin-kawin. Pertimbangan buat kita ngambil keputusan kan bisa kita dapet dari teman-teman persekutuan, orang tua atau adik kita, kakak rohani atau hamba Tuhan, dari kotbah yang kita denger atau banyak lagi. Jangan main labrak sendiri aja. Kalo begitu, hasilnya juga akan tidak maksimal dalam rumahtangga kita nantinya.
Anda pernah punya mimpi tentang keluarga Anda nantinya ?
Ya! Dan saya sudah dapatkan dalam keluarga saya sekarang ini. Saya mempunyai suami yang benar-benar mengasihi saya dan punya anak yang betul-betul sangat kita sayangi. Selain itu, pokoknya saya ingin apapun yang saya kerjakan melalui hidup saya dan keluarga saya, benar-benar dapat memberkati banyak hidup orang. (pt, foto pt)
Monday, May 24, 2010
KENAPA ADA KEMATIAN?
Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuhNya dibawah kakiNya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut --- 1 Korintus 15:25-26
Seakan-akan Tuhan mau bilang: kematian bukan rencanaKu. Maut atau kematian itu musuh Allah yang pada akhirnya akan dibinasakan alias nggak berkuasa lagi atas kita. Mati lawan katanya hidup. Kematian meniadakan kehidupan. Hal ini sebenarnya bertentangan dengan rencana Tuhan Yesus yang adalah sumber kehidupan. Alkitab bilang, dosa, penderitaan, penyakit atau kematian bukan bagian dari rencana Allah bagi manusia.
Kematian adalah hukuman atas dosa.
Pada mulanya Adam dan Hawa nggak bisa mati, tetapi mereka memilih untuk berbuat dosa atas kehendak sendiri. Mereka nggak taat, malah percaya sama iblis si penipu. Yang membuat mereka harus menanggung hukuman adalah mereka nggak pernah ngaku dan bertobat untuk semua dosa yang udah mereka buat. Tuhan pun berfirman:
Sebab upah dosa ialah maut; tapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita --- Roma 6:23
So, nggak heran kematian jadi bagian dari tiap orang, bahkan hewan dan tanaman. Alam semesta ikut menderita akibat dosa manusia. Tuhan Yesus diutus ke dunia untuk menyelamatkan kita dari kematian kekal, supaya begitu mati kita beroleh hidup yang kekal. Maut pasti dimusnahkan, setelah Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kalinya.
Sebab dengan sangat rindu seluruh mahluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh mahluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan bukan oleh kehendaknya sendiri, tapi oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya, tetap dalam pengharapan karena mahluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah – Roma 8:19-21
APA REAKSIMU?
Edisi kali ini, gF! ngadain survei tentang kematian. Koresponden sebagian besar berasal dari beberapa gereja di Surabaya dan Denpasar. Jarak usia 14-30 tahun. Mau tau, 40% merasa takut mati, 40% nggak siap kalau harus mati. Artinya, orang Kristen nggak kebal sama rasa takut mati. Wah, gimana dong, sedangkan kita nggak tau waktunya. Bisa 5 menit lagi, bisa setahun kemudian, bisa 40 tahun lagi. Anytime! Pasti ada penyebabnya.
Masih ingat kerusuhan Mei 1998 lalu? Wah, airport Soekarno-Hatta jadi penuh. Banyak orang Indo pindah ke luar negeri, mencari tempat yang paling aman. Amrik salah satu tempat yang dinilai strategis untuk ditinggali. Tapi siapa kira goncangan di New York September lalu bikin orang berbalik takut untuk tinggal di Amrik. Hei, mau lari kemana pun, kalo udah waktunya untuk mati ya pasti nggak bisa menghindar.
MENGAPA TAKUT?
Necrophobi adalah rasa takut yang berlebihan akan kematian, adalah ketakutan yang mematahkan semangat. Seorang suami/istri yang punya necrophobi akan berlebihan pula sikapnya dalam melindungi istri/suami dan anak-anaknya.
Oh kematian, buailah aku sampai kuterlelap!
Biarlah aku mengakhiri kehidupan yang melelahkan dan tidak bersalah ini
Berderinglah lonceng kematian, berderinglah;
Kumandangkan kematianku
Kematian mendekatlah padaku,
Mendekatlah; tak ada harapan bagiku
Tulisan di atas diterjemahkan bebas dari Anne Boleyn, istri kedua Raja Henry VIII, yang menyerahkan dirinya pada maut. Banyak orang menanggapi kematian dengan reaksi yang berbeda. Ada yang menentang kematian. Ada yang menertawakan kematian seperti Will Rogers, sampai suatu hari pesawat yang ditumpanginya jatuh.
Ingat juga kapal Titanic, dimana kesombongan manusia yang meremehkan kematian. Georbe Burns bilang: kematian itu nggak ada! Malah ada yang mengundang kematian waktu hidupnya nggak teratasi, contoh Marilyn Monroe.
Beberapa orang bilang nggak usah pusing sama kematian, toh nggak ada kehidupan setelah kematian, katanya. Seorang pakar filsafat Yunani, Epicurus, yang hidup 3 abad sebelum Masehi menulis: kematian yang paling ditakuti itu sebetulnya bukan apa-apa. Selama kita hidup, kematian belum datang; dan bila kematian itu datang, ya kita mati.
Terserahlah reaksi dunia, sebab mereka menolak kebenaran sehingga nggak kenal adanya jaminan kasih karunia Allah dan janjiNya bagi mereka yang mati didalam Kristus. Ini tugas kita untuk menjangkau mereka dari gelap dunia pada terang Kristus.
Tapi... kok masih ada orang Kristen yang takut mati dan nggak yakin ke surga? Coba cek, jangan-jangan...
- menyimpan dosa
- banyak waktu yang terbuang sia-sia
- hubungan pribadi sama Tuhan yang rapuh atau kering
- diintimidasi iblis
- nggak mengerti kebenaran FirmanTuhan
- nggak punya tujuan hidup
- nggak mengerti rencana Allah dalam hidupnya
Sayang banget deh, kalo kita melakukan salah satu yang di atas. Masih ada kesempatan untuk bertobat sebelum terlambat (baca: mati). Allah Bapa menyediakan jalan untuk mengatasi hal dan perasaan negatif, yaitu JALAN KRISTUS. Melalui jalan ini kita tau setelah kematian ada kehidupan kekal. Karena dengan mati di kayu salib, Kristus telah mematahkan kuasa iblis, untuk: membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut --- Ibrani 2:15
Baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu mahluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita --- Roma 8:38-39
Pdt. Erastus Sabdono:
SEHARUSNYA KEMATIAN ITU MENYENANGKAN
Banyak orang takut mati. Itu menunjukkan kalau dia perlu mengenal kebenaran dan pengharapan yag tergantung dalam keselamatan dalam Yesus Kristus. Orang Kristen dewasa itu seharusnya memahami kematian sebagai jembatan emas menuju kemuliaan. Seharusnya kematian itu menyenangkan. Paulus dalam Filipi 1:21 berkata, “mati adalah keuntungan”.
Kematian bisa dialami siapapun, kapanpun, lewat apapun. Bukan hanya daun kering yang bisa jatuh, daun hijau pun bisa. Kenyataan yang kita lihat, banyak anak muda yang mati lewat kecelakaan. Yang penting di sini, bukan soal kapan kita mati, tapi kesempatan yang ada harus digunakan untuk mengenal Allah. Sebab kalau masa muda seseorang tidak dipakai untuk mengenal Allah, maka makin tua makin sukar dibentuk. Dan itu kerugian yang luar biasa besarnya. Setiap hari selalu ada kesempatan. Kesempatan hari ini harus dibayar hari ini, bukan besok. Kalau kita mengabaikan kesempatan hari ini, mungkin besok sudah tidak ada lagi.
Saturday, April 24, 2010
SIGN: KEKECEWAAN PADA TUHAN
Kedua anak-anaknya jadi panik. Anehnya lagi anjing peliharaan mereka pun berubah ganas dan hampir bikin si bungsu, Bo, celaka. Untunglah, si kakak, Morgan menolongnya. Tapi keanehan masih terus berlanjut dengan munculnya makhluk yang hanya terlihat sekilas berbentuk aneh, air minum jadi terasa lain dari biasanya, hingga bunyi-bunyian yang berasal dari gelombang radio.
Itulah sepenggal kisah dari film SIGNS yang dibintangi Mel Gibson. Film produksi Touchstone Pictures ini coba menampilkan kisah seorang kepala keluarga yang menjadi kecewa kepada Tuhan. Sejak istrinya meninggal gara-gara kecelakaan lalu lintas, Pendeta Graham mengalami kepahitan. Tuhan dirasanya nggak adil, karena sudah memberinya pencobaan yang terlalu berat. Ia pun terus menerus menyalahkan diri sendiri, karena nggak mampu menyelamatkan nyawa istrinya. Hal inilah yang kemudian membuatnya nggak lagi mau melayani Tuhan, bahkan untuk doa makan saja dia ogah.
Sutradara Night Shyamalan, yang terkenal dengan Sixth Sense-nya, mau ngajak penonton untuk melihat efek dari kejadian misterius kepada kehidupan seseorang. Saat orang sudah terdesak dan hampir mati, biasanya itulah saat orang jadi sangat dekat dengan Tuhan. Itu pula yang dialami keluarga Graham Mess sejak teror UFO tersebut, khususnya waktu mereka akhirnya mengalami mukjizat.
Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku
GF!ers pasti udah tau cerita tentang Yohanes Pembaptis. Dia seorang hamba Tuhan juga, bahkan secara khusus kitab suci menubuatkan kedatangannya sebagai orang yang berseru-seru untuk mempersiapkan kedatangan Mesias (Yes 40:3). Dia juga yang membaptis Yesus di danau Galilea dan sebelum kelahirannya kedua orangtuanya telah mendapat tanda khusus dari Tuhan (Luk 1:5-25).
Tapi Injil juga mencatat bahwa ia akhirnya dipenjara dan dibunuh. Sebelum itu semua, Yohanes sempat kecewa sama Tuhan Yesus. Ia jadi ragu-ragu apa Yesus benar-benar Mesias yang sudah dijanjikan, padahal tanda-tandaNya sudah jelas. Yesus melakukan banyak mukjizat, dan mengajar kebenaran tentang Allah, namun tetap aja Yohanes kecewa. Waktu Yesus mendengar hal itu, Dia menyampaikan pesan buat Yohanes lewat murid-muridNya dan murid-murid Yohanes (Mat 11:2-19), supaya Yohanes jangan jadi lemah dan tidak percaya.
Kekecewaan adalah hal yang manusiawi. Kita semua pasti pernah kecewa, tapi efek dari kekecewaan ternyata sangat besar. Orang yang terlanjur kecewa akan cenderung jadi apatis (cuek), atau jadi antipati terhadap hal atau seseorang yang sudah membuatnya kecewa. GF!ers juga pernah kecewa, kan? Kecewa sama Tuhan, keluarga, atau sama diri sendiri? Kalo kita lagi kecewa, cepet-cepet deh beresin, jangan nunggu diteror UFO dulu baru percaya lagi sama Tuhan, seperti Pendeta Graham ini. Lagian emangnya UFO atau alien benar-benar ada? Tuhan ingin kita jaga hati, jangan terus nyimpen rasa kecewa, tawar hati, ataupun kepahitan (Ams 4:23). Kalo kita bertengkar sama seseorang, Tuhan ingatkan ini: Marah itu boleh asal jangan berbuat dosa. Tuhan Yesus aja pernah marah kok, waktu ngelihat Bait Allah dijadiin pasar senggol, alias tempat berdagang (Yoh 2:13-25). Jangan sampai kemarahan itu disimpan terus, cepet beresin sama orang yang bersangkutan. Marahlah sama hal yang menyebabkan masalah itu, tapi jangan membenci orang yang melakukannya, dan sesudahnya berdoa supaya dalam marah itu, kita nggak menyimpan dosa (Ef 4:26, Mzm 4:5).
Nantikanlah Tuhan
Ada peristiwa yang kita alami dalam hidup ini yang memang berat, menyedihkan, dan bikin kita pengen mati aja rasanya. Bahkan seorang nabi yang dipakai dengan dahsyat sama Tuhan pun bisa stres. Elia yang baru saja mengalahkan nabi-nabi baal, tiba-tiba jadi depresi dan ketakutan karena mendengar ia akan dibunuh oleh ratu Izebel (I Raj 18 & 19).
Dia melarikan diri dari Tuhan, dan sempat kecewa, hingga akhirnya Tuhan datang untuk menghibur dan menguatkannya lagi. Lewat malaikat yang diutusNya, Tuhan menyuruh Elia untuk makan dan minum supaya kekuatannya pulih lagi. Ini jalan keluarnya! Serahkan segala kekuatiranmu dan nantikan Tuhan, maka Ia yang akan memulihkanmu (Yes 40:29-31, I Ptr 5:7).
Tuhan berjanji bahwa pencobaan yang kita alami nggak akan melebihi batas kemampuan kita (I Kor 10:13). Jadi? Janganlah bersungut-sungut saat kita sedang mengalami kejadian yang nggak enak. Masih ingat dengan Ayub? Dari seorang yang punya banyak anak dan kaya karena diberkati, dalam sekejab ia jatuh miskin dan anak-anaknya mati. Namun dalam menghadapi semua itu, ia tak jadi kecewa dan menyalahkan Tuhan. Sebaliknya Ayub tetap mengucap syukur atas pencobaan itu (Ayb 1:20-22).
Life & Death
Kehilangan orang yang dikasihi memang menyedihkan. Itulah yang dialami sang pendeta dalam film tersebut. Buat orang yang hidup di dalam Tuhan, nggak ada perpisahan. Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti sama mereka yang sudah meninggal lebih dulu di dalam Tuhan. Tapi kita yang masih hidup di dunia harus tetap hidup sampai tiba giliran untuk setiap kita dipanggil menghadap Tuhan.
Sedih dan berkabung atas kematian seseorang adalah hal yang wajar, namun jangan biarkan berlarut-larut! Kenangan atas mereka yang meninggal seharusnya membuat kita bisa belajar mengenai arti kehidupan yang singkat, dan bukannya terus menyesali kepergian orang itu. Ingatlah bahwa segala sesuatu ada waktunya, ada waktu untuk berkabung, dan ada waktunya juga untuk berhenti berkabung. Ada waktu untuk lahir, dan ada saatnya setiap orang akan menghadap Sang Pencipta. (Pkh 3:1-11)
Family Restoration
Keluarga Graham Mess akhirnya dipulihkan setelah mereka mengalami mukjizat. Mereka jadi percaya dan berbalik kepada Tuhan. Pengen dong keluarga kita dipulihkan sama Tuhan? Kalo kita mau mengalami pemulihan dan juga mukjizat dalam keluarga, mulailah dengan cara-cara berikut:
Saling mengampuni antar anggota keluarga. Kelihatannya emang gampang kalo nulis doang. Kita dibesarin di budaya Timur, yang bikin kita jarang sekali mau mengungkapkan isi hati dengan terbuka (bicara langsung). Tapi mulailah dengan tindakan, mulailah lepaskan pengampunan, terimalah setiap anggota keluarga apa pun kekurangan mereka. Seperti kata pepatah: Action speaks louder than words.
Cari Tuhan! Mungkin saat ini kamu cuma satu-satunya yang pergi ke Gereja sementara yang lain masih entah ke mana, atau meski barengan ke gereja tapi nggak semuanya sungguh-sungguh melayani Tuhan. Mulai dari diri kita sendiri dulu, bangun mezbah pribadi dan doain mereka. Cepat atau lambat, percaya deh, keluargamu akan dipulihkan.
Mezbah keluarga. Ini adalah sarana untuk mempertahankan keutuhan keluarga. Adakan waktu ibadah bareng anggota keluarga, saling mendoakan. Mezbah ini bukan sesuatu yang konkret seperti mezbah di zaman Perjanjian Lama lho, ini lebih kepada kegiatan anggota keluarga yang datang bersehati di hadapan Tuhan untuk saling mengasihi dan bersama melayani Tuhan.
Rencana Tuhan
Apa maksudnya semua kejadian yang nggak enak ini? Inilah rahasia kehidupan yang seringkali nggak bisa kita mengerti, Ari Lasso bilang ini ‘Misteri Illahi’. Yang pasti, Tuhan menghendaki masa depan yang cerah untuk setiap kita yang percaya (Yer 29:11). Jadi? Tetaplah kuat dalam menghadapi hidup ini. Atasi segala kekuatiran dan kesedihanmu bersama Yesus. Bawalah keluargamu supaya mereka semua beribadah kepada Tuhan.
"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Filipi 4:13). (Yodi Iwan)