Showing posts with label jomblo. Show all posts
Showing posts with label jomblo. Show all posts

Tuesday, January 3, 2012

Single Forever


Single Forever

Waktu baca judul diatas kita semua pasti terkaget-kaget. Masa sih mau jadi jomblo seumur hidup? Atau kita mulai berpikir, wah wah wah amit-amit deh gw jadi single selamanya. Eit… tenang dulu, jangan takut! Karena saya juga nggak pernah mikir buat jadi jomblo seumur hidup hehehe… kita lihat dulu apa yang akan dibahas. Saya nggak ngajarin kita buat jadi biarawan yang seumur hidup melayani Tuhan tanpa menikah. singledisini maksudnya adalah keutuhan dalam diri kita, komplit, terpisah, keseluruhan.

Pernah coba bandingin kehidupan Adam waktu dia dikasih pasangan ama Allah? Apakah waktu dikasih pasangan Hawa ama Tuhan, Adam lagi nyari-nyari pasangan hidup? Bukan kan! Adam itu lagi ngerjain tugas yang dikasih Allah buat memelihara bumi. Jadi Adam adalah pribadi yang utuh, singledan sempurna. Adam begitu sibuk sampe-sampe dia nggak merasa kalo dia butuh teman.

GF!ers, kapan kita tahu kalo kita siap buat menerima pasangan? Pastor Jeffry Rahmat bilang kalo kita bakal siap menerima pasangan kalo kita ngerasa nggak butuh pasangan, karena disitulah kita merasa kompilt, utuh! Adam membuktikannya! Hawa datang bukan pada saat dia lagi sibuk cari pasangannya. Tuhan memberikan pasangan justru pada saat Adam dalam kondisi terbaik, saat sedang complete, utuh, single dan menikmati panggilannya.

Cuman orang yang single yang bisa masuk dalam tahap pernikahan. Sebab pernikahan harus terjadi antara 2 orang yang utuh. Tapi seringkali faktanya, pernikahan terjadi antara 2 orang yang nggak saling utuh, yang saling mencari keutuhan dari diri pasangannya. Waktu kita menikah, kita harus siap buat mengasihi diri sendiri dan siap mengasihi orang lain.

Bahkan lebih lanjut lagi Pastor Jeffry bilang kalo orang yang nggak utuh, nggak dapat kasih apa-apa buat pasangannya karena emang tujuan awal dia mencari pasangannya adalah sifat selfish, cuman buat mengisi kekosongan dirinya sendiri. Orang kayak gini cuman banyak menuntut, banyak minta diperhatiin. Dia bakal mengganggu konsentrasi hidup kita, pekerjaan, karier, bisnis.

Setelah baca penjelasan diatas, semoga kita bisa belajar untuk menjadi single dulu sebelum kita mencari pasangan hidup. Saya juga mengalami proses singleini. Dulu saya punya seorang kekasih yang udah pacaran selama 4 taon (2003-2007). Awalnya saya cuman menikmati pacaran seperti layaknya orang biasa, seminggu sekali jalan bareng, datang ke rumahnya, dsb. Tapi kami berdua belum jadi single. Kekasih saya itu butuh banyak perhatian. Sehingga penulis merasa kewalahan buat kasih “perhatian ekstra besar” dan akhirnya saya ngerasa kalo pacaran itu bikin cape dan menguras banyak waktu, tenaga, dsb. Waktu itu sih saya rela. Sampai akhirnya kami memutuskan buat putus hubungan karena ada saling ketidakpercayaan satu sama lain.

Waktu putus sih saya sangat sedih. Dan hal ini, sekali lagi ngebuktiin kalo penulis belum jadi seorang yang single. Saya nge-jomblo selama 6 bulan dan belajar buat jadi single. Setelah merenungkan mengenai arti pacaran dengan mendalam, akhirnya pada suatu waktu saya seolah mendapat ilham dari Tuhan (hehehe…), saya sadar makna inti dari pacaran kalo kita harus jadi utuh secara pribadi dan menggunakan waktu dalam hidup yang terbatas ini dengan baik. Saya berdoa pada Tuhan buat pasangan hidup, dan minta hikmat supaya kelak kalau pacaran lagi, bisa menjalani dengan baik dan jadi pribadi yang sama-sama utuh.

Sekarang bagaimana? Sekarang saya udah pacaran lagi ama cewe yang sama tapi dengan pribadi yang sama-sama utuh. Saya juga berusaha menerapkan konsep ini padanya biar bisa jadi pribadi yang saling menghargai, saling menghormati, saling percaya. Dan apa hasilnya? Hubungan kami jadi jauh lebih baik dibanding dengan dulu. Kami tahu prioritas hidup dan bisa bagi waktu buat Tuhan, pekerjaan, pendidikan dan bahkan waktu pacaran.

Apakah kita masih mau mencari pasangan hidup tanpa menjadi single terlebih dahulu? Kalau begitu sama saja kita sedang membuang-buang waktu tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan kita. Karena itu bagi GF!ers yang mau pacaran, cari dahulu kehendak Allah dalam diri kita dan jadilah single terlebih dahulu, ok!


Friday, June 25, 2010

Pria-pria Jomblo

LIFE-SINGLES

Pria-pria Jomblo

Pria yang menikah menempati ranking pertama sebagai mereka yang paling berbahagia. Wanita lajang menempati ranking kedua sebagai yang paling berbahagia, sedangkan wanita yang menikah menempati ranking ketiga. Ranking keempat (alias yang paling tidak berbahagia) adalah pria yang hidup melajang.

“Kesimpulan itu didapatkan dari suatu penelitian di Amerika Serikat” kata Dr. Miriam Adeney, seorang penulis buku dan pakar antropologi dari Seattle Pacific University, dalam suatu bincang-bincang santai dengan LIFEcrew.

Jika penelitian itu akurat, maka tidak heran jika banyak wanita yang kini memilih untuk hidup melajang. Di luar dekadensi moral yang ditampilkan oleh serial ‘Sex & the City’, ada satu pesan utama yang disampaikan oleh para wanita lajang yang jadi tokoh utama serial ini: kehidupan melajang itu asyik dan menarik, khususnya bagi wanita.

Laporan teranyar dari Biro Sensus Amerika pun membenarkan fenomena ini. Terjadi peningkatan jumlah yang cukup tinggi dari para wanita lajang yang berusia 20 hingga 44 tahun pada tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 1970.

Cuma yang aneh bin ajaib, peningkatan jumlah pria yang melajang (alias pria jomblo – bahasa prokemnya) ternyata jumlahnya jauh lebih tinggi dari para wanitanya. Sebagai perbandingan, jumlah wanita berusia 25 – 29 yang tidak menikah pada tahun 1970 berjumlah sekitar 19% dan pada tahun 2000 meningkat jadi 39%. Sedangkan pria dengan usia yang sama pada tahun 1970 cuma berjumlah sekitar 15%, tapi pada tahun 2000 meningkat drastis menjadi lebih dari 50%. Perbandingan yang serupa terjadi pula pada pria-pria di usia 30 hingga 44 tahun.

Buat para pengusaha, ini berita baik karena para lajang ini menjadi target konsumen yang sangat potensial. Lagipula, 42% dari seluruh angkatan kerja Amerika saat ini adalah para lajang, baik pria maupun wanita.

MENGAPA PRIA MELAJANG?
Yang jadi pertanyaan sekarang, mengapa para pria jaman sekarang urung untuk menikah? Padahal katanya, orang yang paling tidak berbahagia adalah pria yang melajang. Fenomena ini bukan cuma terjadi di Amerika, tapi juga di negara-negara Asia seperti di Indonesia, termasuk di tengah kalangan Kristen.

Dalam suatu penelitian kecil yang dilakukan oleh LIFEcrews, ternyata ada beberapa alasan mengapa pria Indonesia, khususnya yang sudah berusia 30 plus tetap melajang. Untuk mudahnya, LIFEcrews melakukan pengkategorian tipe berdasarkan alasan-alasan tersebut:




1. Tipe Idealis
Sandi (34) - seorang pengusaha di Bandung termasuk dalam kategori ini. Sandi enggan menikah karena ia masih berangan-angan dapat bersanding dengan wanita tipe idealnya.

“Saya berharap agar saya tidak pernah kuliah di luar negeri. Jika dulu saya kuliah di Indonesia mungkin hidup jadi jauh lebih sederhana dan mungkin saat ini saya sudah mempunyai beberapa anak. Sekarang ini, saya ingin menikah dengan orang yang saya cintai, bukan cuma sekedar menikah untuk memenuhi tuntutan orang tua dan masyarakat. Padahal untuk mendapatkan seseorang yang sesuai dengan kriteria itu, rasanya sulit sekali. Lagipula saya takut jika saya menikah dengan sembarang orang, saya akan menyakiti istri saya nanti karena saya sebetulnya punya harapan lain.

Saya pernah berpacaran dengan seorang wanita yang bukan tipe ideal saya. Pada suatu kali, saya bertemu dengan seorang wanita istri teman saya yang kebetulan merupakan tipe ideal saya. Dalam hitungan detik, pikiran saya berubah dan saya langsung ingin kembali menjalin hubungan dengan wanita yang jadi tipe ideal saya itu. Memang saat ini saya berdoa agar kehendak Tuhan saja yang terjadi dalam hidup saya. Walaupun begitu, dalam hati kecil sich sebetulnya saya masih ingin mendapatkan seorang wanita yang sesuai dengan tipe ideal saya.”

2. Tipe Jomblo Murni
Tipe ini menganggap pernikahan bukan prioritas hidup. Ada yang beralasan karena ia ingin berkonsentrasi melayani Tuhan, tapi ada juga yang karena memiliki kesenangan tersendiri seperti hobi dan pekerjaan, yang tidak mau ditinggalkan.

Jason (36), seorang Indonesia yang bekerja sebagai Financial Staff di California misalnya, merasa dirinya lebih bahagia menjadi lajang. “Dengan melajang saya bisa lebih bebas jika ingin ikut kegiatan misi di luar kota. Atau jika mau mengikuti kegiatan pelayanan apa pun, saya bisa melakukannya dengan semau saya.”

Sementara itu Jimmy (32) terus terang mengatakan ia memang tidak mau menikah. Sarjana arsitektur yang menyandang S2 di bidang Seni Rupa ini juga mengaku lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melukis. “Buat saya, melukis adalah panggilan hidup.” kata Jimmy yang sehari-harinya tinggal di Bekasi ini.

Rasul Paulus pun kemungkinan besar termasuk tipe Jomblo murni. Yang paling menyedihkan adalah mereka yang sebetulnya termasuk ke dalam tipe ini, tapi terpaksa menikah karena tuntutan keluarga dan masyarakat. “Saya menikah bukan karena terlalu butuh pasangan hidup, tapi karena didesak terus oleh keluarga.” kata Hermawan (35), seorang insinyur sipil yang pekerjaannya mengharuskan ia harus sering bulak-balik antara Bandung dan Jakarta.


3. Tipe Desperado
Tipe seperti ini biasanya memiliki mata yang ‘jelalatan’ ketika sibuk mencari ‘mangsa’. Setiap ada ‘mahluk cantik’, pasti disatroni, tak perduli itu di gereja, di KKR atau di mall. Biasanya tipe ini cukup tahan banting.

Walaupun begitu, pria-pria tipe ini tidak perlu merasa malu. Ternyata, soal mata pria yang ‘jelalatan’ itu ada penjelasan ilmiahnya. Menurut Allan & Barbara Pease yang menulis buku “Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps”, wanita memiliki kemampuan penglihatan peripheral yang lebih lebar. Sehingga jika diumpamakan, mata wanita itu seperti kamera dengan lensa lebar (wide lens), sedangkan mata pria cenderung lebih terfokus seperti lensa tele yang memiliki kemampuan untuk melihat jauh. Jadi sebetulnya mata wanita pun bisa saja ‘jelalatan’, tetapi kemampuan alami mata wanita menyebabkan mereka jarang tertangkap basah ketika sedang ‘jelalatan’ (kasiaaaann dehh kaum pria...).

4. Tipe Belum PD
Pria tipe ini ingin menikah cuma tidak PD (percaya diri), sebelum mereka memiliki kemampuan keuangan yang mencukupi. “Kebutuhan hidup sekarang ini jauh lebih berat. Untuk menikah saya harus berpikir matang-marang. Saya tidak mau jadi seperti teman saya yang menikah tanpa punya bekal, sehingga akhirnya dilecehkan oleh keluarga mertua.” kata Doni (30) seorang karyawan di Bandung.

Mahluk Aneh Yang Jadi Sumber Rasa Kasihan
Yang disayangkan, pada umumnya gereja-gereja di Indonesia jarang yang berpikir untuk melayani para lajang ini secara khusus, baik lajang wanita maupun lajang pria. Buktinya, kebanyakan gereja-gereja cuma memiliki Komisi Wanita (yang isinya ibu-ibu yang sudah menikah), Komisi Pria (yang isinya para ayah) atau Komisi Pemuda (yang isinya pelajar SMA dan mahasiswa).

Sementara itu, mereka yang ada di luar kategori di atas jadi mahluk aneh yang seringkali terasing atau bahkan jadi sumber untuk dikasihani. Dalam beberapa kasus, mereka akan ‘kabur’ dari gereja tersebut dan mencari tempat lain yang dianggap lebih kondusif.

Hari (35), seorang manager keuangan PMA di Jakarta bercerita tentang kekesalannya
pada gereja tempat ia bertumbuh ketika kecil. “Setiap kali saya ke gereja itu, pertanyaan pertama yang diajukan para pengurus serta jemaat adalah “Kapan menikah?”. Akhirnya saya jawab saja “Ya, nanti April tahun depan. Kalau tidak begitu, mereka akan terus bertanya macam-macam dan saya sudah malas menanggapinya. Atau kalau saya sudah terlalu kesal karena ditanya-tanya terus, biasanya saya menjawab “Saya tidak mau menikah karena melihat contoh pernikahan kamu.” kata Harry sambil tertawa.

Sementara itu Jimmy mengatakan bahwa ia tidak pernah terlalu pusing dengan reaksi orang. “Saya selalu menjawab orang-orang yang menanyakan status perkawinan saya dengan jawaban singkat “saya tidak berencana untuk menikah”. Biasanya, orang-orang itu akan langsung terdiam seribu bahasa.” kata Jimmy.

Walaupun begitu, Jason mengaku ia suka merasa pusing setiap kali mudik ke Indonesia. Soalnya, orang-orang di sekitarnya yang niatnya mungkin baik, tapi jadi menyebalkan karena menjadikan dirinya sumber rasa kasihan.

“Kasihan ya kamu, pasti kesepian! Kadang-kadang saya ingin berteriak pada mereka “Mungkin saya yang harus kasihan pada kalian. Banyak dari kalian yang menikah cuma asal menikah saja tanpa memikirkan pendidikan buat anak, lalu rumah juga masih mengontrak dan hidup pas-pasan.” kata Jason dengan sengit.

** (Yusak Persada, GE)