Friday, January 13, 2012

Sibuk?


Sibuk?
~ Diary oleh Jenny Jusuf ~

“Jen, ini covernya, ada 5 alternatif. Soal ngerapiin biar penerbit aja, di sini susah euy, mati lampu mulu. Gw nggak bisa detail. Semoga kepake…”

Saya bengong berat baca e-mail yang singgah di inbox saya siang itu. Tiga hari sebelumnya, setelah merasakan euforia berlebihan karena naskah Kumpulan Cerpen saya (akhirnya) lolos seleksi penerbit, saya mengirim pesan pendek ke seorang sahabat slash mantan dosen Desain Komunikasi Visual yang lumayan jago dalam hal desain-mendesain. Saya minta bantuannya buat merancang ilustrasi untuk alternatif cover buku saya.
Sejujurnya, saya sempat ragu. Sahabat saya lagi ada di Dilli, Timor Leste, dalam rangka menunaikan panggilan hati. Sedikit banyak –dari cerita-ceritanya—saya mengetahui ‘parah’nya kondisi infrastruktur negara baru itu. Air sulit, harga barang kebutuhan pokok melambung, lingkungan dihuni anak-anak muda begajulan, sampai masalah kelangkaan listrik.
Yup, saking seringnya sambungan listrik terputus, sahabat saya sampai berujar, “Gue mendingan nggak ada air deh, daripada nggak ada listrik. Kalau nggak ada air, paling parah nggak mandi. Kalau tanpa listrik, nggak bisa kerja.”
Saya juga tahu, kesibukan yang dijalaninya di sana nggak sedikit. Mulai dari ngerjain tugas rutin harian, ngajar kursus bahasa Inggris ke pemuda setempat, nyusun program kerja, bikin newsletter, sampai ngurus segala hal yang berhubungan ama media. Plus kondisi environment yang nggak mendukung yang selalu bikin mood naik-turun. Saya nggak berani berharap banyak.
Saya kirim pesan pendek itu 29 Januari malam, plus petunjuk singkat soal rancangan yang saya pengen. Saya kasih tenggat waktu seminggu, lagi-lagi tanpa berharap banyak.
Tanggal 31 Januari siang, saya menemukan e-mail di atas dalam inbox saya, beserta 5 buah desain yang dilampirin dalam format CorelDraw X3.
Saya cuman bisa melongo jaya saking surprised-nya.
Koreksi. Saking surprised DAN nggak nyangka. *eh, sama aja, ya?*
Yang langsung terbayang di benak saya adalah: sosok sahabat saya yang duduk dalam kegelapan, berusaha bikin desain tanpa listrik dengan cuman disokong baterai laptop yang nggak seberapa dayanya.
Haduuuh. Terima kasih banyak, Jeng... you are the best!
;-)
Ini ngingetin saya pada seorang sahabat lain, yang taon lalu saya kirimi e-mail berisi belasan pertanyaan dalam rangka mewawancarainya buat rubrik ‘Profil’ di majalah gereja edisi terbaru. Nggak ada yang istimewa dalam wawancara itu. Yang bikin wawancara itu super-duper-spesial adalah karena sahabat saya sedang bertugas di Belanda selama setaon. Jauh ya, bow.
Jabatannya? Presiden Organisasi Mahasiswa Farmasi Sedunia.
Job desc-nya? Apa aja yang mengharuskannya pergi dari satu negara ke negara lain kayak kita belanja ke Cihampelas Walk atau Blok M. Sangat sering. Sangat sibuk.
Dalam salah satu sesi curhat, ia sempet cerita kalo tidur selama 2 jam semalam itu udah biasa buat dia. Kadang malah nggak tidur sama sekali. Belanda –yang merupakan base camp-nya selama menunaikan masa jabatan—cuman berfungsi sebagai tempat ‘transit’ belaka. Keliling dunia (yang dianggap kemewahan tiada tara oleh banyak orang) udah dialaminya, tapi dia nggak pernah bisa membanggakan kunjungannya ke negara-negara itu.
“Apa yang mau diceritain, lha gue kalo pergi-pergi cuma nyantol di dua tempat: bandara ama hotel. Nggak sempet kemana-mana. Balik ke Belanda juga cuman nge-drop baju kotor. Nggak tidur dan nggak makan mah udah biasa,” ceritanya geli.
Whoa. Itulah yang saya namakan sibuk.
Jujur, saya sempat merasa sungkan waktu mengiriminya belasan pertanyaan dalam kondisi serba-ribet kayak gitu. Nggak enak hati.
Mau tahu, berapa waktu yang dibutuhin sahabat saya buat menjawab SEMUA pertanyaan wawancara yang saya kirim itu?
Dua hari, bok. DUA HARI.
Jawabannya panjang-panjang pula. Lengkap dan detil dari A sampe Z, sampe saya melongo dengan suksesnya di depan komputer.
Duh... Terima kasih Tuhan, buat sahabat-sahabat nan baik hati ini.
Tapi, sebagaimana hidup penuh dengan kejutan dan warna, selain hal-hal menyenangkan tersebut, saya juga pernah ngalamin kejadian yang bikin pengen garuk-garuk tanah.
Sebulan yang lalu (sebulan setengah, tepatnya), saya mengirim e-mailberisi delapan pertanyaan ke seorang teman atas permintaan Bapak Gembala. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu nantinya mau dirangkum dan disadur menjadi sebuah artikel buat majalah gereja edisi terbaru.
Saya mengirim e-mail. Saya menunggu. Saya mengingatkan. Saya mengingatkan lagi. Dan mengingatkan LAGI. Saya mendesak. Saya mengiriminya SMS. Saya mengontaknya melalui kanal maya.
Jawaban nggak kunjung datang karena sebuah alasan yang sangat klise: SIBUK. Nggak sempat.
Kesibukannya apa? Nggak jelas. Dan saking seringnya dia menggunakan alasan yang sama, saya sampai ogah bertanya.
Berulang kali saya ngingetin kalo tenggat waktu penerbitan makin tipis. Tapi hasilnya nihil. Yang saya dapetin cuman permohonan maaf disertai alasan dan janji, “Nanti, deh, minggu depan.”
Sayangnya, ‘minggu depan’ versi saya dan dia ternyata berbeda. ‘Minggu depan’ yang saya ketahui adalah, seminggu SETELAH percakapan terakhir. ‘Minggu depan’ versi teman saya, mungkin seminggu setelah... ...entah kapan. Pokoknya depaa…an banget. Hehehe.
Setelah frustrasi mengejar dan menunggu tanpa hasil, akhirnya saya menceritakan masalah tersebut ke Bapak Gembala. Apa boleh buat, artikel itu terpaksa dibatalin. Untung saya masih punya tulisan cadangan buat ngisi slot yang kosong, walau sedikit terkesan ‘maksa’.
Bagaimanapun, bukan saya namanya kalau nggak ngeyel. ;-D
Di detik-detik terakhir pembatalan, saya sempet mengirim pesan ke si teman melalui kontak cakap Yahoo Messenger. Menanyakan kapan dia akan memberi jawaban yang udah tertunda (sangat) lama itu.
Selang beberapa menit, balasan muncul di layar komputer.

Aduh iya nih, belum bisa. Sorry ya. Lagi tied up nih...

Saya cuman tersenyum simpul. Sempet tergoda buat nanya, ‘emangnya sesibuk apa, sih? Ngapain aja sampe ngejawab pertanyaan segitu doang nggak ada waktu sama sekali?’, tapi akhirnya saya urungkan.
Sambil membiarkan kalimat itu tetap bertengger di sana, saya membuka e-mail.
Beberapa hari sebelumnya saya mengirim e-mail berisi ucapan terima kasih ke sahabat saya di tanah Timor, sekaligus nanyain nomor rekeningnya. Walau ilustrasi cover yang dibuatnya masih harus melalui tahap seleksi ama penerbit (belum pasti diterima), saya pengen menghargai jerih payahnya dengan membayarnya secara profesional.
E-mail balasan dari sahabat saya berada di urutan teratas inbox. Saya membukanya, menelusuri kalimat di dalamnya dengan cepat, dan lagi-lagi tersenyum simpul. Tapi senyum kali ini punya makna yang berbeda.

No need to pay, it's a present.

Salahkah saya, kalo saya berharap bahwa mereka yang mengaku ‘ingin memberi yang terbaik bagi Tuhan’ bisa lebih menghargai makna sebuah tanggung jawab seperti sahabat-sahabat saya ini? Yang meskipun sibuk luar biasa, tetap nggak mengabaikan pentingnya sebuah janji, bahkan bersedia ‘memberi lebih’? Yang nggak mendewakan kesibukan pribadi dan bersedia mengesampingkan rasa tidak nyaman demi kepentingan pihak lain, walau tindakan itu nggak ngasih keuntungan apa-apa buatnya?
Kita udah ngedapetin anugerah dan kasih karunia yang begitu besar dari Sang Penebus. Kita punya firman yang sanggup mengubah batu jadi roti. Kita mewarisi kuasa dari tempat Yang Mahatinggi. Seharusnya kita dapat berbuat lebih baik. Seharusnya kita-lah yang jadi contoh.
Ah, seandainya. ;-)

Why I Hate Religion, But Love Jesus || Spoken Word


Thursday, January 12, 2012

DUA PERTANYAAN ‘PENTING’


DUA PERTANYAAN ‘PENTING’

Dalam hidup ini, sadar atau nggak, seenggaknya ada 2 pertanyaan yang biasanya dianggap ‘penting’ buat kita-kita lho, yaitu: (1) “Apa sih yang kamu punya?” dan (2) “Apa sih yang orang lain bilang tentang kita?”. Nah, coba GF!erspikirin, bener nggak kalo kita tuh cenderung peduli sama 2 pertanyaan di atas?? Crew GF! di kantor juga lagi pada belajar soal ini… (erl, sam)

Coba kita tilik sama-sama nih, kalo misalnya aja kita mau keluar rumah atau shopping, atau pergi ke pesta atau ke suatu tempat, berapa banyak dari kita yang suka terdiam terpaku beberapa waktu lamanya di depan lemari baju, truz mulai milih-milih baju yang mau dipake? Kalo kita nggak peduli sama apa kata orang tentang penampilan kita, kita bisa kan cuek-cuek aja?! Itu sebenernya salah satu contoh sederhana kalo pertanyaan, “Apa ya kata orang tentang gue?” seringkali jadi hal ‘penting’ buat kita. Gitu juga ama pertanyaan pertama soal apa yang kita punya atau nggak punya.

Cuman nih, sebenernya kita justru harus bisa ‘menang’ lho atas 2 pertanyaan itu. Kenapa? Karena kalo nggak bisa menang atas 2 pertanyaan itu, hidup kita bakal jadi mumet deh, plus kita juga jadi susah nikmati hidup yang udah Tuhan kasih dengan segala hal yang dipercayain ke kita. Kita bakal berusaha untuk bisa ngejawab pertanyaan tentang apa sih yang kita punya dan kita juga bakal berusaha begitu rupa supaya kita selalu terlihat baik di mata orang (supaya diomongin yang baik-baik aja).

Apa berarti 2 pertanyaan itu sama sekali nggak penting? Pertanyaan itu penting sejauh kita bisa meresponinya dengan tepat dan wajar. Nggak salah kalo kita memang mau denger opini orang tentang kita, selama itu emang bisa bikin kita jadi pribadi yang lebih baik dan berdampak positif (ini bicara tentang masukan dari orang lain yang bisa buat evaluasi kita pribadi), bukan malah bikin kita jadi penjilat, misalnya, atau jadi munafik, berpura-pura, de-es-be. Nggak salah juga kalo kita berusaha buat ‘mempunyai’ atau meraih ‘sesuatu’, tapi kalo sampe kita kejebak ‘harus’ punya sesuatu baru ngerasa hidup ini ‘oke’ dan ‘aman’, itu yang bikin hidup kita jadi susah. Kalo nggak punya HP terbaru, kayaknya nggak oke; kalo nggak punya mobil keren, kayaknya nggak pede, de-es-be… Waduh, hidup jadi pusing kan??!!  

Ilustrasinya gini nih. Suatu kali ada seseorang, sebut aja si Billy, beli kapal pesiar pribadi yang gede banget. Nggak lama, dia dikasih tau kalo Amerika bakal dilanda badai. Si Billy ini kan langsung mikirin gimana caranya supaya kapalnya bisa diselamatin. Jadi dia beli rantai banyak banget, terus kapal itu diikat rantai dan rantainya diikatkan ke pohon, ke gedung, ke dermaga, ke rumah, ke pagar, pokoknya ke banyak hal (biar gampang, coba bayangin seekor lalat ada di jaring laba-laba). Setelah dia buat begitu, datang seorang nelayan yang ngelihat apa yang udah dibuat ama si Billy. Si nelayan cuman tertawa ngeliat perbuatan Billy. Kenapa? Sederhana aja jawabannya: karena semua yang udah dilakuin si Billy itu nggak bakal berguna waktu badai datang melanda. Karena rumah, dermaga, pagar, pohon, dsb, kan bakal ikut hancur dan tercabut pada saat badai datang! Jadi kalo si Billy berpikir kalo dengan mengikatkan kapalnya itu ke berbagai hal bakal bisa bikin kapal itu aman di tengah badai, dia salah!! Jadi, gimana dong sebaiknya? Kalo emang mau nyelametin kapalnya, Billy harusnya pergi ke lautan yang paling dalam, dan turunin jangkarnya ke tempat yang terdalam juga. Karena semakin dalam, artinya akan semakin stabil juga waktu badai datang menghantam.  

Gitu juga dengan hidup kita. Kalo kita menaruh rasa ‘aman’ kita pada 2 pertanyaan di atas, itu bukan tindakan yang tepat. Yang paling penting buat kita sebetulnya bukan gimana kita bisa ngasih jawaban atas 2 pertanyaan tadi ke orang-orang di sekitar kita, TAPI gimana kita menyadari kalo Tuhan itu begitu mengasihi kita. Kita harus bisa menang atas perkara ini, sehingga mau orang bilang apa pun tentang kita, selama kita sadar kita dikasihi oleh Tuhan, dan kita hidup di dalam Dia, maka kita nggak bakal mudah digoncang atau down gara-gara pandangan orang tentang kita atau gara-gara ‘badai’ apapun yang mungkin menerpa kita.

Nah, ini bicara soal fondasi hidup, semakin kita sadar akan kasih-Nya yang gede buat kita, semakin kita juga nggak bakal terlalu memperdulikan jawaban atas 2 pertanyaan tadi yang mungkin sering dilontarkan orang-orang di sekitar kita. Selama kita sadar Tuhan mengasihi kita dan kita juga senantiasa memberikan yang terbaik buat Dia, sebenernya kita ‘aman’.

So, kalo kita mau menang dalam perkara ini, jawabannya kembali ke seberapa kuat kita ngebangun hidup kita di atas kebenaran Tuhan, GF!ers, bukan atas opini atau pandangan orang tentang kita. Karena yang terpenting bukan berapa gede atau berapa kecil ‘badai’ yang datang, tapi seberapa kuat fondasi hidup kita. Dan fondasinya itu nggak lain adalah kesadaran akan kebenaran bahwa Dia mengasihi GF! dan GF!ers... dan juga penyerahan diri kita yang seutuhnya pada Dia... Jadi, mau orang tanya sambil bernada meremehkan, misalnya, “Loe punya apa sih?” Kita akan bisa tetep tenang dan nggak jadi ‘terguncang’.

Kalo pun kita nggak punya apa yang dipunyai orang itu, kita tahu kita punya Yesus yang lebih berharga dari semua yang ada. Kalo kita diomongin orang yang nggak baik dan emang kita belum jadi orang yang sempurna, tapi kita sadar kita sedang terus belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik, kita juga bakal tetep bisa enjoy dengan hidup kita. Kalo orang nolak kita karena sesuatu hal, padahal kita udah coba ngelakuin yang terbaik, kita juga nggak bakal gampang down karena sadar kalo Yesus nggak menolak kita. Kalo GF!ers udah belajar yang terbaik, nilainya dapat 7, sedangkan teman GF!ers yang belajar bareng malah dapat angka lebih tinggi, itu pun nggak bakal bikin GF!ers bersusah hati. Toh, itu yang terbaik yang bisa GF!ers raih.

Yang terpenting adalah kita udah ngelakuin yang terbaik apa yang jadi bagian kita, dan Tuhan yang mengasihi kita juga tahu tentang hal itu. Kalo orang lain ke sekolah bisa pake mobil dan nyetir sendiri, GF!ers belum punya, itu nggak bakal bikin GF!ersjadi tertunduk dan ngerasa minder. Kenapa? Kalo emang Tuhan belum percayain mobil, ya nggak apa-apa karena Tuhan yang paling tahu yang terbaik buat kita. Lagian, harga diri kita juga nggak terletak di ‘punya dan nggak punya’ sesuatu. Perkara orang lain mau bilang apa tentang kita?? Well…. yang jauh lebih penting kan opini Tuhan tentang kita, betul nggak??!! ^.^

Jadi, yuk kita sama-sama terus sadari kalo kita tuh berharga bukan karena apa opini orang tentang apa yang kita punyai atau nggak… atau apa pendapat orang tentang kita... melainkan kita berharga karena ada Seorang Pribadi yang begitu mengasihi kita. Dan bagian kita adalah melakukan yang terbaik dalam segala sesuatu seturut yang ditulis di dalam Firman-Nya. Tetep semangat yah!! (**)

Wednesday, January 11, 2012

I HAVE A DREAM


I HAVE A DREAM

Kenny: Wuih boleh juga posenya nich, telanjang dada, iket kepala sambil megang senapan, btw kacamata sapa yang loe pinjem gede bener, kayak Rambo masuk desa hahaha... (Kenny sedang ngeliatin foto-foto di komputer GF!)

GF!:Alah, bilang aja loe sirik sama bodygue yang six pack.

Kenny:Apanya yang six pack, ini sich bukan six pack lagi tapi papan cucian, tulang rusuk loe keliatan semua. Btw sapa yang disebelah elo, kok kompak banget sich.

GF!: Oh ini, ini Bang Dean, senior gua di kampus, tapi sekarang dia udah lulus, dan lanjut S2 di Amrik.

Kenny: Wuih keren banget cing.

GF!: Yoi, dia juga kakak rohani gua selama ini, gara-gara dialah gua tobat.

Kenny: Oh ya, gimana ceritanya

GF!: Rada panjang ceritanya, entar elo molor lagi denger cerita gue.

Kenny: Ya enggak lah (sambil membaringkan diri di kasur en pura-pura ngorok)

GF!: Niat dengerin nggak sich?

Kenny: hehehe, iya iya gimana ceritanya

GF!: Gua tuh dari dulu udah jadi orang Kristen, dari jaman kakek nenek gua juga udah jadi orang Kristen, gua udah biasa sama yang namanya doa, tapi yach sekedar doa untuk makan, minum, tidur, terus gua ikut yang namanya aktivitas rohani di gereja karena kalo enggak nyokap gua bisa kayak kereta api ngomelin gua. Tapi yang namanya hubungan pribadi sehari-hari sama Tuhan Yesus gua nggak ngerti, dan nggak pernah tau, yach pokoknya gua Kristen, udah sampe di situ doang.

GF!: Sampe gua tembus universitas X, universitas favorit gua sejak kecil, gua terpaksa pindah kota, jauh dari keluarga, dan temen-temen gua. Waktu masa orientasi kampus, gua diajakin sama temen-temen yang Kristen ikutan persekutuan mahasiswa kampus (PMK). Waktu itu gua aneh banget liat persekutuannya, ada nyanyi pake tepuk-tepuk tangan, terus doa pake bahasa-bahasa yang gua nggak ngerti, dan yang lebih aneh ada orang yang angkat tangan nyanyi dan meneteskan air mata pula. Dalam hati gua terus berdoa, “Oh noooo… God, selamatkan aku, aku udah masuk sekte sesat”.

Kenny: Napa, elo nggak keluar aja pas kebaktian.

GF!: Yaelahh, mana bisa pintu dijagain sama senior, kalo bisa juga gua udah cabut dari awal, waktu itu gua takut diplonco gara-gara nggak ikut persekutuan.

GF!: Sejak hari itu gua komitmen kagak akan ikut-ikutan lagi PMK. Tapi ada satu temen seangkatan gua namanya Arnold, ngajakin gua terus ke persekutuan, karena nggak enak sama dia lagian karena gua nggak ada temen, yach terpaksa gua ikut aja, padahal asli gua kesel, dan antipati sama mereka, tapi dalam hati gua ada pertanyaan kok mereka sepertinya punya hubungan istimewa dan deket banget sama Tuhan, terus perilaku mereka ramah-ramah, dan kompak banget satu sama lain. 

GF!: Nggak tau napa, sebulan gua ikut terus tuch PMK, sampe suatu kali senior gua yang juga pengurus PMK ngedeketin gua, dan bilang ke gua nanti jangan pulang dulu, kita mau bicara. Dia manggil gua, kita duduk berdua dan dia nyerahin kado yang isinya kaset, terus ada kartu ucapan selamat ultah segala, udah gitu dia ngedoain gua serius banget, kayaknya dia tahu permasalahan gua, seumur-umur gua belum pernah denger dan ngeliat ada orang yang mau ngasih waktu untuk ngedoain gua seserius itu. Sejak saat itu hati gua seperti diubahkan dan gua mulai terbuka sama PMK, gua mengalami pertumbuhan rohani, dan banyak di bentuk Tuhan.

Kenny: Jadi yang ngedoain elo itu si Bang Dean

GF!: Yappp. Dia orangnya nggak banyak ngomong, tapi dari ngelihat kehidupannya gua tuch amazebanget, dia kuliah pake duit sendiri man, kadang gawe partime, kadang jadi sales elektronik, pokoknya kerja serabutan apa aja kagak malu andgengsi-gengsian untuk membiayai kuliahnya. Yang bikin gua terheran-heran, kok selalu ada aja berkat yang Tuhan kasih untuk biaya kuliahnya. Biar tuch orang dibilang kere, hidup sederhana banget, setau gua nggak pernah makan di restoran, makan di warteg mulu, tapi keadaan dan situasi nggak pernah mematikan mimpinya. Doi punya mimpi setinggi langit, dia selalu bilang suatu saat aku bakal jadi Dirut di perusahaan XYZ, saya mau buktikan sama “dunia” bahwa Tuhan yang saya sembah sanggup membuat saya berhasil. Setelah lulus doi ngelamar gawe di perusahaan XYZ tersebut dan nggak lama kemudian karena berprestasi dia dipromosiin jadi manager dan dikuliahin ke Amrik sama perusahaan.

Kenny: Kayak pelem di tipi tipi gitu kisah hidupnya. Seorang yang miskin papa dan tertindas menjadi seorang yang sukses dan terkenal. Hehehe...

GF!: Bukan kaya pelem, tapi kayak kisah Yusuf di Alkitab, ah elo kebanyakan nonton sinetron. Tau nggak ayat favorit dia orang. Kejadian 39:2 “Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya”.

GF!: Tadinya gua tipe orang yang sering pesimis liat masa depan dan keadaan, tapi begitu melihat kehidupan Bang Dean, gua berubah jadi orang yang berani bermimpi akan hal-hal yang besar.

(di Taman kampus yang sepi dan sejuk, salah satu tempat strategis buat GF! bersaat teduh)

GF!:  God, thanks buat Bang Dean yang sudah Engkau kirim untuk mempengaruhi kehidupanku selama ini. Dia banyak memberi teladan buat aku, salah satunya mengajarkanku untuk berani bermimpi besar.

GF!: God, aku jadi teringat dulu tulisan di dinding kamarnya Bang Dean. Tulisannya guede buanget dia print D.R.E.A.M
D = Desire
R = Research
E = Enterprise
A = Association
M = Mastery
Aku agak lupa-lupa inget gitu penjelasannya.

GF! :yang jelas tuch desire adalah keinginan yang kuat, kerinduan di dalam hati. Untuk menjadi world maker demi kemuliaan nama Tuhan. Cirinya tuch orang pasti punya semangat yang luar biasa, begitu bangun pagi bukannya loyo, tapi punya gairah untuk menjalani sepanjang hari, betul nggak?

God: Ya, betul 100 buat kamu. Son, orang yang memiliki strong desire, dia pasti rajin berdoa, karena dia sadar tanpa doa dia akan menjadi manusia yang biasa-biasa saja, tapi melalui doa, berserah dan bersandar pada kekuatan-Ku, dia akan menyerap suatu gairah hidup.

GF!: Research, kalo di kamus sih artinya penelitian atau penyelidikan. Tapi God, aku lupa ingetin aku dong maksudnya apa.

God: Kamu buat penelitian, perhitungan dan bandingkan apakah yang kamu impikan itu layak untuk diperjuangkan. Setiap mimpi yang besar pasti ada pengorbanan, nah pengorbanan itu berharga tidak, apakah sebanding dengan impian yang akan kamu capai.

GF!: Bener juga, jangan  sampe keluarga, persahabatan hancur gara-gara mengejar impian. Lanjut, yang ketiga Enterprisesuatu keinginan yang kuat dan ketetapan hati.

God: Suatu impian yang besar pasti akan menghadapi tantangan dan kesulitan, tapi jangan takut Tuhan pasti menyertai dan sanggup melakukan mukjizat. Impian yang disertai dengan iman adalah modal keberhasilan.

GF!: Association, yang artinya…

God: Ini hal yang penting harus kamu perhatikan, pergaulan dan lingkunganmu akan besar mempengaruhimu. Kamu mau bergaul dengan orang yang penuh dengan iman, semangat, dan punya impian-impian besar atau dengan seorang yang pesimis, pengkritik. Mereka akan menginspirasi kehidupanmu.

GF!: Bener God,  buktinya Bang Dean yang banyak menginspirasi kehidupan aku.

GF!: Satu lagi nich God, Mastery.

God: (terdiam beberapa saat)……… Son, memang berdoa dan berpuasa perlu, tapi jika kamu tidak ahli menguasai bidang-bidang di dunia ini kamu akan tergilas dengan yang namanya perkembangan jaman, dunia akan menyingkirkanmu. Kamu bisa berdoa minta supaya Tuhan promosikan dirimu, tapi jika hidupmu malas-malasan, tidak mau berjuang, tidak menambah kapasitas dan talenta yang ada padamu, itu tidak mungkin terjadi. Orang yang berhenti belajar akan berhenti berkembang. Aku mau semua anak-anakku Excellent. Keberhasilan selalu dibayar dengan kerja keras. Jadi sekarang master your skill, jangan males yach nak

GF: Wah ngindir aku nich God, yang terakhir ini sangat sangat dalem banget.

God: Son, semua orang yang sukses adalah manusia biasa tapi mereka punya DREAM, punya visi dalam hidup ini, jadi yang mengarahkan hidupnya adalah visi dia itu. Kamu liat, dunia ini bertumbuh dengan peradaban dan teknologi yang lebih hebat berkat impian orang-orang besar. Mereka adalah pemimpi.

God: Kamu tahu apa yang terjadi pada mereka yang tidak punya impian?

GF!: mmm...

God: Mereka akan membuang waktu, dan kesempatan-kesempatan penting yang ditawarkan dalam kehidupan. Hasrat dan kegigihan mereka mudah sekali pudar, sehingga mereka dengan gampangnya mengubah impian mereka menjadi sangat sederhana, standar kehidupannya menjadi rendah. 

God:Aku ingin anak-anak-Ku semua ahli di market place, cekatan, terampil, memiliki standard dan kualitas hidup yang tinggi.

GF!: God, aku yakin bersama-Mu aku sanggup mencapai semua DREAM itu.

-mg- Eleanor Roosevelt yang bikin aku semangat untuk meraih impian “The future belongs to those who believe in the beauty of  their dream”.